Catatan Akhir Tahun

Cara Sulteng atasi krisis semen pascabencana

Cara Sulteng atasi krisis semen pascabencana

Pekerja membongkar muat semen di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta, Rabu (25/7/2018). Kementerian Perindustrian memprediksi pasar semen domestik pada 2018 mengalami kelebihan pasokan yang diproyeksikan kapasitas produksi industri semen di dalam negeri mencapai 100 juta ton, sementara konsumsinya hanya sekitar 60-68 juta ton. (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

Palu (ANTARA News) - Hampir tiga bulan sudah tragedi alam gempa bumi, tsunami dan likuifaksi melanda hingga memorak-porandakan Kota Palu dan dua kabupaten lainnya di Provinsi Sulawesi Tengah.

Rasa pilu masyarakat akibat kehilangan berbagai harta benda, matapencaharian dan juga sanak keluarga yang hilang, meninggal dunia akibat terjangan bencana alam gempa berkekuatan 7,4 SR disertai tsunami dan likuifaksi masih belum terobati, kini dihadapkan pada persoalan lainnya, yakni krisis semen.

Padahal, bahan bangunan itu amat sangat dibutuhkan masyarakat untuk membangun kembali rumah tempat tinggal mereka yang telah ambruk diterjang gempa, tsunami dan liuifaksi pada 28 September 2018.

Hingga saat ini, semen cukup sulit diperoleh masyarakat di toko-toko pengecer. Kalaupun ada, dipastikan harganya melambung tinggi dari kondisi normal.

Harga semen di tingkat pengecer di wilayah Kota Palu dan Kabupaten Sigi pada Oktober dan November 2018 pernah mencapai Rp80.000/sak.

Selain harganya melonjak tajam dari normalnya di pasaran berkisar Rp65.000/sak, juga stoknya sangat terbatas, sementara permintaan masyarakat meningkat pascabencana alam itu.

Memasuki minggu pertama Desember 2018 sampai sekarang ini, harga semen mulai turun dijual pengecer kepada konsumen rata-rata Rp70.000/sak.

Harga tersebut dibandingkan dengan harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah setempat melalu kesepakatan antara pemerintah, distributor, pengecer dan satgas yang hanya Rp65.000/sak itu berarti masih selisih Rp5.000/sak.

Dan harga semen yang berlaku di pasaran saat ini masih diatas HET sehingga Pemprov Sulteng beberapa waktu lalu harus memanggil semua distributor dan pemilik toko bangunan di wilayah Kota Palu untuk duduk bersama guna mengatasi kelangkaan stok dan kenaikan harga bahan bangunan tersebut.

Dari pertemuan itu, para distributor mengatakan penyebab kelangkaan semen di Palu dan sekitarnya pascagempa, tsunami dan likuifaksi dikarenakan stok dikuasai distributor menipis.

Namun demikian, distributor seperti yang disampaikan Jemmy Hosan, pimpinan CV Garindo Palu, salah satu penyalur bahan bangunan semen merek tonasa, tidak pernah menaikan harga. "Kami sama sekali belum pernah menaikkan harga semen," kata dia.

Ternyata, kenaikan harga semen di tingkat pengecer dilakukan sepihak oleh pedagang sendiri.

Hal itu diakui sejumlah pedagang pengecer bahan bangunan dalam forum pertemuan antara distributor, pengecer, satgas yang digagas oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sulteng beberapa waktu lalu.

Operasi pasar

Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Sulteng, Zainuddin Hak mengatakan dalam rangka mengendalikan dan menstabilkan harga semen di pasaran yang mengalami kenaikan cukup tinggi tersebut selama hampir tiga bulan pascabencana alam, maka dilakukan operasi pasar khusus untuk bahan bangunan semen.

Kegiatan itu, kata dia, sudah berlangsung sejak 12 Desember 2018 hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Dijelaskannya, operasi pasar didukung oleh empat distributor semen yang besar, salah satunya adalah CV Garindo, distributor semen tonasa.

Keempat distributor?tersebut menyediakan stok semen untuk tahap pertama operasi pasar sebanyak 20.000 sak dan dijual dengan harga HET yakni Rp65.000/sak.

Kegiatan dimaksud semata-mata dilakukan pemerintah dan pelaku usaha di Kota Palu untuk membantu meringankan beban dan penderitaan masyarakat setelah ditimpa bencana alam akhir September 2018.

Selama operasi pasar berlangsung, masyarakat boleh membeli semen langsung kepada distributor dengan harga yang sudah ditetapkan relatif lebih murah dibandingkan harga di tingkat pengecer yang sampai sekarang ini masih sekitar Rp70.000/sak.

Tetapi, kata dia, untuk membeli semen yang dijual distributor, setiap konsumen harus membawa KTP/KK.

Persyaratan tersebut bukan untuk mempersulit masyarakat, tetapi sebagai antisipasi jangan sampai kesempatan tersebut dimanfaatkan oleh oknum-oknum pedagang yang tidak bertanggungjawab. "Operasi pasar untuk masyarakat, bukan pedagang atau kontraktor," katanya.

Lagi pula, kuota pembelian dibatasi paling banyak 20 sak/orang. "Tapi harus bisa memperlihatkan KTP/KK terlebih dahulu. Tanpa itu tidak akan dilayani," ujarnya.

Sambut Langkah Pemprov

Langkah yang dilakukan Pemprov Sulteng dengan melaksanakan Operasi Pasar untuk bahan bangunan semen, menurut Sekretaris DPD Apindo Achrul Udaya, sangatlah tepat dan perlu mendapat apresisi dari semua pihak.

Karena selama ini, kata Ketua Bidang Perdagangan Kadin Sulteng itu, masyarakat sulit mendapatkan semen karena stok di toko-toko pengecer sering kosong pasca bencana alam yang telah berlangsung hampir tiga bulan terakhir ini.

Disamping itu, harga semen juga mengalami kenaikan yang cukup memprihatinkan karena justru disaat masyarakat banyak membutuhkan stok dan harga naik.

Kasihan masyarakat, sudah susah karena ditimpa bencana, juga diperhadapkan lagi pada masalah kesulitan mendapatkan semen dan juga harga bahan bangunan itu di pasaran naik tajam.

Karena itu, menurut dia, langkah yang telah dilakukan pemerintah dengan melaksanakan operasi pasar khusus bahan bangunan semen sudah tepat, sebab banyak yang membutuhkannya.

Masyarakat di daerah-daerah terdampat bencana seperti Kota Palu, Donggala dan Kabupaten Sigi sekarang ini meski dengan kondisi keuangan yang terbilang pas-pasan berusaha untuk membangun kembali rumah yang rusak diterjang gempa,tsunami dan likuifaksi.

"Karena yang terpenting bagi mereka bisa tinggal di tanah dan rumah sendiri, meski konstruksi bangunannya tidak seperti semula, mungkin hanya menggunakan papan, tetapi lantainya dicor," kata Achrul.

Otomatis, yang banyak dibutuhkan adalah kayu/papan, seng dan semen.

Kalau stoknya kurang atau kosong di pasaran, bagaimana masyarakat mau kembali membangun rumah dan usaha mereka.

Semen juga dibutuhkan untuk pembangunan berbagai sarana dan fasilitas lainnya seperti gedung kantor, sekolah, rumah sakit, irigasi dan rumah ibadah, sebab saat bencana alam terjadi banyak yang rusak dan hancur diterjang gempa, tsunami dan likuifaksi.

Belum lagi untuk kebutuhan penyelesaian berbagai proyek pembangunan yang didanai APBN, APBD maupun bantuan luar negeri.

Karenanya, pemerintah harus menjamin ketersediaan bahan bangunan dan kebutuhan lainnya di pasaran agar tetap tersedia dalam jumlah memadai sehingga tidak lagi terjadi kelangkaan dan kenaikan harga semen di tingkat pengecer.

"Operasi pasar sebagai salah satu solusinya. Selain itu tentu pasokan dari pabrik harus berjalan lancar," kata Achru.

Dia juga meminta pihak pengelola pelabuhan petikemas di Pantoloan dalam hal ini PT Pelindo untuk segera memperbaiki pelabuhan yang rusak akibat gempa dan tsunami agar arus bungkar-muat barang pulih kembali.

Karena semua hal itu dapat mempercepat proses pemulihan ekonomi di tiga wilayah Palu, Sigi dan Donggala (Pasigala) yang merupakan daerah terdampak parah bencana alam.

Baca juga: Cual Mentok, potensi ekonomi berbasis budaya
Baca juga: JPM "penyelamat" kemacetan Tanah Abang



 

Pewarta: Anas Masa
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Kilas NusAntara Pagi

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar