counter

Warga Muara Teweh serahkan satwa beruk kepada BKSDA

Warga Muara Teweh serahkan satwa beruk kepada BKSDA

Seekor beruk (Macaca pagensis) betina bercengkarama dengan dua anak beruk, Ucil berumur satu tahun (kanan) dan Moli umur empat bulan (tengah) di Maharani Zoo & Goa di Desa Paciran, Lamongan, Jawa Timur, Senin (27/8). Saat ini maharani Zoo & Goa memiliki sekitar 123 spesies aneka satwa dari berbagai Negara serta satwa dari wilayah di Indonesia. (ANTARA/Syaiful Arif)

BKSDA Kalteng SKW III sangat mengapresiasi tingkat kesadaran masyarakat di Barito Utara ini sangat tinggi
Muara Teweh, Kalteng, 19/12 (ANTARA News)- Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah Seksi Konservasi Wilayah III Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara, merima seekor satwa beruk (macaca pagensis) yang diterima dari warga Jalan Teratai Muara Teweh bernama Isnaniah.

"BKSDA Kalteng SKW III sangat mengapresiasi tingkat kesadaran masyarakat di Barito Utara ini sangat tinggi. Sebelumnya kita juga menerima penyerahan satwa langka yang dilindungi oleh Undang-Undang," kata Kepala BKSDA Kalteng SKW III Muara Teweh, Nizar Ardhanianto melalui Polhut Pelaksana Lanjutan Hetto di Muara Teweh, Kamis.

Beruk (macaca pegensis) yang berusia sekitar empat tahun itu merupakan salah satu binatang yang dilindungi oleh undang-undang, selain kukang, beruang, orang utan, rangkong dan lainnya.

Ia juga mengharapkan langkah yang diambil warga Jalan Teratai tersebut akan diikuti oleh warga lainnya yang masih memelihara satwa dilindungi, karena pada prinsipnya satwa-satwa tersebut harus berada di alam bebas untuk dapat bereproduksi dan kelestariannya akan terjaga.

Satwa dilindungi yang diserahkan warga ini, dititipkan di tempat rehabilitasi satwa Yayasan Kalaweit, yang merupakan kawasan konservasi yang dilindungi di Dusun Pararawen, Kecamatan Teweh Tengah untuk direhabilitasi dan mendapatkan perawatan medis dikarenakan ketika diserahkan kondisi satwa dalam keadaan sakit.

"Setelah direhabilitasi dan dianggap layak untuk dilepas liarkan, maka satwa dilindungi dan satwa yang tidak dilndungi ini akan kita dilepasliarkan kembali ke alam bebas sesuai dengan habitatnya," ujarnya.

Sementara Asisten Direktur Yayasan Kalaweit Suhartono mengatakan apabila ada masyarakat melihat kejadian ataupun melihat satwa yang anak atau pun ibunya dibunuh agar segera menghubungi BKSDA atau Yayasan Kalaweit untuk segera ditangani.

"Karena kalau mereka pelihara satwa tersebut, kadang mereka tidak tahu bagaimana cara memeliharanya. Dan kadang-kadang satwa yang mereka pelihara tersebut bisa mati dan bisa terjadi hal yang tidak diinginkan," kata Suhartono.

Baca juga: BKSD Singkawang evakuasi seekor beruk jantan

Pewarta: Kasriadi
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar