Indonesia tindaklanjuti diplomasi ekonomi dengan Afrika

Indonesia tindaklanjuti diplomasi ekonomi dengan Afrika

Wakil Presiden Jusuf Kalla secara resmi membuka Indonesia-Africa Forum (IAF) di Bali Nusa Dua Convention Center, Bali, Selasa. (Biro Pers Setwapres)

Kita mengartikan infrastruktur secara luas, tidak hanya bangunan tetapi konektivitas
Jakarta (ANTARA News) - Indonesia akan terus menindaklanjuti diplomasi ekonomi dengan Afrika melalui penyelenggaraan Indonesia-Africa Infrastructure Dialogue pada Agustus 2019.

Acara yang akan diselenggarakan di Bali itu merupakan kelanjutan dari Indonesia-Africa Forum (IAF) yang berlangsung pada April 2018.

"Kita mengartikan infrastruktur secara luas, tidak hanya bangunan tetapi konektivitas," ujar Direktur Kerja Sama Afrika Kementerian Luar Negeri Daniel Tumpal Simanjuntak di Jakarta, Jumat.

Baca juga: Indonesia-Afrika pererat kerja sama pembangunan infrastruktur

Memperkuat kerja sama ekonomi dengan negara-negara Afrika menjadi salah satu fokus diplomasi Indonesia di bawah pemerintahan Joko Widodo, mengingat nilai perdagangan Indonesia dengan negara-negara Afrika hanya tiga persen dari total perdagangan Indonesia dengan seluruh dunia.

Tetapi, Tumpal menjelaskan, diplomasi ekonomi tidak bisa disederhanakan hanya menjadi kerja sama perdagangan.

Diplomasi ekonomi juga harus bisa menghasilkan sumber dana baru dan outbond investment.

Pendekatan Indonesia ke negara-negara Afrika membuahkan hasil positif dengan penyelenggaraan IAF yang mencatat total kesepakatan bisnis senilai 586,56 juta dolar AS.

Sejumlah kesepakatan bisnis dalam forum tersebut antara lain dicapai oleh Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank dengan African Export-Import Bank, juga dengan Standard Chartered Bank dan Commerzbank.

Ini menunjukkan bahwa kerja sama antara lembaga keuangan Indonesia dengan mitranya mulai bisa terjalin. 

"Artinya, kalau ada proyek-proyek maka pembiayaannya tidak hanya dari APBN. Kita membuka jalan untuk mendapat pembiayaan dari dana segar luar negeri. Kerja sama seperti ini bisa dipakai sebagai jaminan," tutur Tumpal.

Selain itu, beberapa BUMN juga mulai berani merambah ke Afrika seperti PT Wijaya Karya (WIKA) yang menandatangani kontrak pengerjaan proyek renovasi Istana Presiden Niger dengan nilai 26,7 juta dolar AS.

PT TIMAH juga berencana membangun sebuah smelter di Nigeria melalui proyek senilai 25,9 juta dolar AS, dengan menggandeng perusahaan lokal Topwide Ventures.

"Setelah kita mendapat proyek untuk merenovasi Istana Presiden Niger, banyak negara Afrika lain tertarik bekerjasama dengan Indonesia. Kami melihat ini sebagai peluang positif untuk menggarap proyek-proyek infrastruktur lainnya di Afrika," kata Tumpal.

Baca juga: Pemerintah dorong inovasi pembiayaan untuk ekspansi pasar ke Asia-Afrika

Komitmen Indonesia untuk menggarap pasar non-tradisional di Afrika didasarkan pada potensi besar benua tersebut, khususnya Afrika Sub-Sahara, di bidang ekonomi.

Dengan lebih dari 1 miliar penduduk yang setengahnya berusia produktif, Afrika Sub-Sahara memiliki PDB 1,52 triliun dolar AS.

Pada 2017, China mendominasi perdagangan di Afrika dengan total nilai perdagangan 129,9 miliar dolar AS, kemudian disusul India dan Jepang.

Sementara Indonesia berada di urutan keempat dengan nilai perdagangan 8,76 miliar dolar AS. 

Negara-negara di Afrika Sub-Sahara yang dibidik Indonesia untuk kerja sama infrastruktur adalah Senegal, Pantai Gading, dan Tanzania khususnya wilayah Zanzibar.

Baca juga: LIPI: Afrika pasar potensial bagi Indonesia
Baca juga: Afrika tertarik pesawat buatan Indonesia
Baca juga: Afrika pasar potensial untuk produk halal Indonesia


Pewarta: Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar