Tersangka terkait serangan Charlie Hebdo ditangkap di Djibouti

Tersangka terkait serangan Charlie Hebdo ditangkap di Djibouti

Demonstran Muslim membawa spanduk dalam aksi protes menentang penertiban kartun Nabi Muhammad pada majalah satir mingguan Charlie Hebdo, dekat Downing Street, London, Minggu (8/2). Sebanyak 1000-an muslim mengikuti aksi protes di pusat kota London pada hari Minggu atas apa yang mereka sebut "penggambaran menghina" dari Nabi Muhammad oleh mingguan Charlie Hebdo. Aksi ini terjadi beberapa minggu setelah 17 orang tewas dalam kekerasan selama tiga hari bulan lalu di Perancis, dimulai dengan serbuan ke kantor Paris Charlie Hebdo oleh sejumlah muslim, sebagai pembalasan atas kartun Nabi. Pengunjuk rasa mengutuk serangan tersebut, tetapi mengatakan mingguan itu seharusnya tidak menerbitkan kartun Nabi. (REUTERS/Stefan Wermuth)

Paris, (ANTARA News) - Seorang pria Prancis, yang diduga membantu beberapa pria lain melakukan pembunuhan di kantor-kantor Charlie Hebdo tahun 2015, telah ditangkap di Djibouti dan menunggu pemulangan ke Prancis, kata Menteri Pertahanan Prancis Florence Parly pada Jumat.

Peter Cherif, 36 tahun, yang juga dikenal dengan nama Abu Hamza, dekat dengan Cherif dan Said Kouachi, yang menembak mati 12 orang pada 7 Januari 2015, di kantor-kantor media satir Charlie Hebdo di Paris.

Cherif dan Said Kouachi ditembak mati dalam serangan yang dilancarkan polisi dua hari setelah serangan Charlie Hebdo di kantor media itu di sebelah utara Paris.

Peter Cherif ditangkap pada Ahad, kata satu sumber kepada Reuters sebelumnya.

Baca juga: Charlie Hebdo Prancis akan luncurkan edisi berbahasa Jerman
Baca juga: Italia gugat Charlie Hebdo terkait penghinaan korban gempa


"Ini berita sangat baik karena teroris ini memainkan bagian penting dalam perencanaan serangan terhadap Charlie Hebdo," kata Parly kepada radio RTL. "Ini menunjukkan perang melawan terorisme merupakan aksi yang memakan waktu lama dan jika kita berkomitmen, kita akan berhasil."

Serangan Charlie Hebdo diikuti sehari kemudian dengan pembunuhan terhadap seorang wanita polisi yang sedang berada dalam pelatihan. Pembunuhnya ialah Amedy Coulibaly, yang setia kepada ISIS.

Hari berikutnya, Coulibaly menyerang sebuah toko milik warga Yahudi di pinggiran kota Paris. Di sana, dia membunuh empat tawanan sebelum polisi menembaknya hingga mati.

Sebanyak 20 orang, termasuk tiga penyerang, tewas dalam serangan-serangan di kantor Charlie Hebdo dan toko itu.

Redaktur: Mohammad Anthoni/Tia Mutiasari
 

Pewarta: Antara
Editor: Chaidar Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2018

MUI: Boikot produk sebagai cara ingatkan kesalahan Presiden Macron

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar