counter

Kontraktor Indonesia berpeluang ikut rekonstruksi Irak-Suriah pascaperang

Kontraktor Indonesia berpeluang ikut rekonstruksi Irak-Suriah pascaperang

Delegasi Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI (kiri) melakukan pertemuan dengan pengurus Kamar Dagang Amman (ACC) (kanan) dalam rangkaian agenda kunjungan ke Yordania pada 19 Desember 2018. (KBRI Amman)

Jakarta (ANTARA News) - Perusahaan konstruksi asal Indonesia berpeluang ikut serta dalam pembangunan kembali infrastruktur di Irak dan Suriah pascaperang melalui Yordania sebagai pintu masuk.

Peluang tersebut disampaikan Wakil Ketua Kamar Dagang Amman (ACC) Nafez Alayyan kepada delegasi Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI pada 19 Desember 2018 dalam keterangan pers Kedutaan Besar RI di Yordania yang diterima Antara, Minggu (23/12).

Alayyan mengatakan rekonstruksi Irak dan Suriah akan dilaksanakan dalam waktu dekat seiring makin meredanya konflik dan meningkatnya stabilitas di kedua negara tetangga Yordania tersebut.

Oleh karena itu, Alayyan menyarankan kontraktor Indonesia untuk menanamkan modalnya terlebih dulu dan bermitra dengan pengusaha di Yordania sehingga saat proyek rekonstruksi Irak dan Suriah dimulai, perusahaan Indonesia dapat langsung berpartisipasi secara aktif.

Terkait peluang tersebut, Duta Besar RI untuk Yordania Andy Rachmianto yang turut mendampingi delegasi BKSAP DPR RI membenarkan bahwa Indonesia memiliki perusahaan-perusahaan konstruksi yang berpengalaman melaksanakan proyek-proyek konstruksi di beberapa negara dengan hasil yang memuaskan.

Baca juga: Irak butuh 88 miliar dolar AS untuk rekonstruksi

Di sektor perdagangan, Pemimpin Delegasi BKSAP DPR RI Juliari Batubara dari Fraksi PDI-P menyampaikan bahwa kedua negara perlu bersinergi lebih erat untuk meningkatkan nilai perdagangan yang relatif masih rendah, padahal potensinya besar, antara lain di industri otomotif dan pesawat terbang.

"Yordania dapat menjadi pintu masuk bagi produk-produk Indonesia untuk dipasarkan di kawasan Timur Tengah, termasuk Uni Eropa dan Amerika Serikat karena telah memiliki perjanjian perdagangan bebas dengan Yordania. Demikian pula dengan Indonesia yang dapat dijadikan pintu masuk bagi produk-produk Yordania di wilayah Asia Tenggara, yang berpenduduk 700 juta jiwa," kata dia.

Sementara itu, wakil ketua ACC meminta agar kedua negara saling mendorong peningkatan kunjungan wisatawan, terutama dari Indonesia ke Yordania mengingat ekonomi negara tersebut sangat bergantung pada sektor pariwisata karena keterbatasan sumber daya alam yang dimiliki.

Sebelumnya, delegasi BKSAP DPR RI juga melakukan kunjungan ke Parlemen Yordania atau "Majlis Nuwab"  dan diterima Wakil Ketua I Majlis Nuwab Yordania Dr. Nassar Al-Qaisi, Ketua Komisi Luar Negeri sekaligus Ketua Komisi Persahabatan Yordania-Indonesia Yahya Al-Soud.

Dalam pertemuan tersebut, delegasi BKSAP DPR RI yang beranggotakan Nurhayati Asegaf (F-Demokrat), Hasrul Azwar (F-PPP), Ono Surono (F-PDIP), dan Jerry Sambuaga (F-Golkar) itu menyampaikan bahwa Indonesia memandang Yordania sebagai mitra strategis di Timur Tengah, terutama dalam upaya mendukung kemerdekaan Palestina.

Pemimpin delegasi BKSAP DPR RI menyampaikan bahwa pemerintah dan rakyat Indonesia sangat menghargai berbagai upaya pemerintah dan parlemen Yordania yang telah dilakukan dan menegaskan dukungan penuh masyarakat Indonesia untuk kemerdekaan Palestina.

Parlemen kedua negara pun sepakat untuk meningkatkan kerja sama antarlembaga dalam menyikapi isu-isu yang menjadi perhatian di kawasan, salah satunya, penggalangan dukungan pendanaan internasional bagi Badan PBB untuk Palestina (UNRWA).

Selain isu Palestina dan kawasan, kedua parlemen negara juga sepakat untuk meningkatkan citra umat Islam dan menghentikan pengaitan Islam dengan terorisme.

Pewarta: Azizah Fitriyanti
Editor: Rahmad Nasution
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar