Realisasi KUR Rp118,4 triliun hingga November 2018

Realisasi KUR Rp118,4 triliun hingga November 2018

Pekerja menyelesaikan pembuatan batik tulis di rumah produksi Agnesha, Kampun Ciroyom, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Rabu (25/4/2018). Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, komoditas kerajinan batik pada 2017 menyumbang nilai ekspor sebesar 58 juta dolar AS atau sekitar Rp797 miliar, dan untuk menaikkan target nilai ekspor pada 2018, Pemerintah memberikan fasilitas pembiayaan seperti kredit usaha rakyat (KUR), Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonsia (LPEI) dan insentif lainnya untuk memperkuat struktur modalnya. (ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)

Jakarta (ANTARA News) - Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mencatat jumlah penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) hingga 30 November 2018 telah mencapai Rp118,4 triliun atau 95,7 persen dari target Rp123,801 triliun sepanjang 2018.

Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kemenko Perekonomian, Iskandar Simorangkir di Jakarta, Kamis (27/12) malam, mengungkapkan kredit bermasalah (NPL) dari realisasi penyaluran KUR tersebut sebesar 1,39 persen.

Ia memperkirakan masih akan ada sekitar Rp1,6 triliun sampai dengan Rp2 triliun untuk realisasi KUR hingga akhir tahun 2018.

"Kami perkirakan realisasinya sekitar Rp120 triliun untuk tahun ini, bahkan itu informasi beberapa bank banyak permintaan di akhir tahun sampai dia mengerem, karena kalau tidak melampaui plafon-nya," ujar Iskandar.

Penyaluran KUR masih didominasi untuk skema KUR mikro sebesar 65,8 persen diikuti dengan skema KUR kecil (33,9 persen) dan KUR TKI (0,3 persen).

Penyaluran KUR berdasarkan wilayah tercatat didominasi Jawa dengan porsi penyaluran sebesar 55 persen, diikuti dengan Sumatera 19,3 persen dan Sulawesi 11,1 persen.

Penyaluran KUR untuk sektor produksi terus berjalan untuk mengejar target sebesar 50 persen di 2018. Hingga 30 November 2018 tercatat porsi penyaluran KUR sektor produksi 45,6 persen.

Selain itu, ia juga mengungkapkan bahwa penalti berupa pengurangan penambahan plafon akan diberikan bagi bank yang penyaluran KUR sektor produksi (pertanian, perikanan, industri, konstruksi, dan jasa-jasa) berada di bawah 50 persen.

Pengurangan akibat penalti diberikan 5 persen sampai dengan 30 persen dari total peningkatan yang diajukan.

"Pokoknya kriterianya KUR produksi di bawah 50 persen pencapaian 2018, kami kenakan pinalti pengurang plafon untuk memberikan sinyal kepada dia," kata Iskandar.

Sebelumnya, sampai dengan 31 Agustus 2018 tercatat porsi penyaluran KUR sektor produksi (pertanian, perikanan, industri, konstruksi, dan jasa-jasa) sebesar 42,8 persen atau meningkat dari penyaluran KUR sektor produksi periode Juli 2018 sebesar 38,5 persen.

Baca juga: Pemerintah optimistis penyaluran KUR 2018 capai Rp120 triliun

Pewarta: Calvin Basuki
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Solo bagikan telepon pintar untuk siswa kurang mampu

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar