counter

Artikel

Catatan Akhir Tahun - Pariwisata Indonesia berjibaku di tengah bencana

Catatan Akhir Tahun - Pariwisata Indonesia berjibaku di tengah bencana

Salah satu titik di kawasan Pantai Belitung sebagai salah satu destinasi wisata andalan yang akan terus dikembangkan sebagai daya tarik wisata (ANTARA News/Hanni Sofia)

Buat apa banyak tapi belanja sedikit
Jakarta (ANTARA News) - Sejak ditetapkan sebagai leading sector aoleh Pemerintah, pariwisata Indonesia bergerak dalam laju yang signifikan.

Kontribusinya terhadap PDB terus melonjak, bahkan tercatat industri pariwisata saat ini menduduki peringkat kedua penyumbang devisa terbesar setelah industri sawit.

Tak heran, sektor pariwisata membawa angin segar di tengah problematika defisit transaksi berjalan yang masih berlangsung.

Sepanjang semester pertama 2018, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mendata devisa yang diraup sektor pariwisata mencapai sembilan miliar dolar AS. 

Nilai tersebut didukung realisasi kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang terus tumbuh hingga sampai akhir tahun ditarget mencapai 17 juta orang.

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya memproyeksikan, industri pariwisata mampu menyumbang 5,25 persen dan 5,50 persen terhadap PDB 2018 dan 2019. 

Untuk mencapai target itu, pemerintah menyusun strategi pengembangan di tiga aspek utama pariwisata yakni 3A meliputi Akses, Atraksi, dan Amenitas.

Di sisi lain berbagai pengakuan baik dari lembaga nasional maupun internasional berhasil diraih sektor pariwisata Indonesia.

Namun, di tengah kinerja gemilang itu, pariwisata Indonesia perlu kerja ekstra mengingat banyak bencana terjadi dalam setahun terakhir.

Bencana gempa di Lombok, kecelakaan pesawat terbang, gempa dan tsunami di Palu, hingga tsunami Selat Sunda tak urung sangat mungkin mengoreksi target kinerja pariwisata Indonesia. Untuk itu perlu upaya khusus untuk mendongrak potensi pariwisata dari ceruk pasar lain.

Arief Yahya mengatakan pihaknya misalnya akan mulai mengembangkan konsep nomadic tourism sebagai upaya mempromosikan destinasi potensial di setiap wilayah.

Konsep nomadic tourism menjadi salah satu andalan Arief Yahya  sebagai solusi sementara untuk selamanya dalam hal pengembangan destinasi karena dinilai relatif cepat pengembangan dan pembangunannya.

Ia berpendapat nomadic tourism sangat efektif untuk memobilisasi generasi milenial untuk berwisata.

Nomadic tourism adalah segala aktivitas atau bisnis yang terkait gaya hidup dan budaya berpindah-pindah seperti menggunakan glamp camp, home pod, dan caravan sebagai fasilitas akomodasi.

Tetap rospektif

Di luar itu semua, sektor pariwisata Indonesia diproyeksikan tetap prospektif pada 2019 meski Indonesia juga masih harus berjibaku dengan 
ketidakpastian perekonomian global dan tahun politik pesta demokrasi di dalam negeri.

Menpar Arief Yahya juga menegaskan pemerintah telah melakukan deregulasi di era pariwisata siber. Ia menyatakan bahwa deregulasi di Indonesia dalam rangka untuk menarik wisman dan investor difokuskan pada dua kebijakan yakni ease of entering Indonesia dan ease of doing business (FDI).

Ada tiga hal yang dilakukan pemerintah untuk kemudahan masuk ke Indonesia yakni kebijakan bebas visa, menyederhanakan aturan bagi masuknya kapal pesiar asing atau yacht, dan mencabut asas cabotage untuk cruise asing.

Pihaknya juga akan terus menerapkan strategi pemasaran yang tepat untuk menyasar segmen pariwisata milenial dan menerapkan promosi yang selalu go digital

Di sisi lain dilakukan pula dukungan terhadap pengembangan usaha rintisan pariwisata, mempermudah akses melalui program nomadic tourism, serta menargetkan pengembangan 100 destinasi digital yang instagramable di seluruh Indonesia.

Destination Marketing North Asia TripAdvisor Gary Cheng mengatakan Indonesia masuk peringkat keempat di antara 25 destinasi top dunia bahkan nomor satu top destinasi di Asia versi TripAdvisor.

Wisatawan melakukan perjalanan berdasarkan search juga menunjukkan misalnya untuk wisatawan Eropa lebih banyak memilih Thailand kemudian Indonesia, wisatawan Amerika memilih Jepang, China, dan Indonesia, wisatawan Timur Tengah memilih Thailand, Filipina, dan Indonesia. Sementara wisatawan Asia memilih Jepang dan Indonesia.

Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia menjadi preferensi bagi banyak wisatawan dari berbagai belahan dunia sehingga potensi dan peluang tersebut perlu dioptimalkan tahun depan terutama pada segmen milenial yang menyukai destinasi yang otentik dan penuh petualangan.

Sementara GM Regional Business Development SEA Baidu.com Yu Yen-Te mengatakan pihaknya memiliki teknologi artificial intelegence" termasuk untuk face recognation system yang bisa membedakan gender, usia, dan keaslian foto untuk menjaring informasi mengenai wisatawan.

Pihaknya mendapati di China dengan pasar 351 juta netizen top 5 destinasinya dua tertinggi adalah Bali dan Phuket.

Ia menyarankan agar pariwisata Indonesia melihat segmen atau pasar China berdasarkan musim bepergian untuk mendapatkan kualitas turis yang lebih besar di antaranya saat tahun baru China mengingat saat itulah masyarakat China mendapatkan bonus akhir tahun yang besar yang banyak dialokasikan untuk liburan awal tahun.

Ia juga menekankan semakin besarnya angka Free Independent Traveller (FIT) dan female traveller pada tahun depan yang banyak menggunakan fasilitas online termasuk dalam bertransaksi.

Merespon hal itu, Deputi Bidang Pemasaran I Kemenpar Ni Wayan Giri Adnyani mengatakan pada 2019 Indonesia menggelar pesta demokrasi sehingga sedikit banyaknya tahun politik akan berdampak kepada sektor pariwisata. 

Kerentanan pariwisata terhadap isu sektor keamanan dan stabilitas ekonomi menjadi salah satu penyebab utama. Ini menunjukkan bahwa pariwisata tidak berdiri sendiri dan diperlukan kerja sama pentahelix dari seluruh pihak di Indonesia untuk membangun pariwisata maju, katanya.

 Wisman Prospektif
Managing Director Grab Indonesia Ridzki Kramadibrata mengatakan pihaknya mampu menjaring inbound dari tujuh negara lainnya tempat Grab berada. 

Menurut dia, dengan kehadiran di 8 negara menjadi kekuatan Grab untuk kampanye Wonderful Indonesia. Oleh karena itu, pihaknya membuka peluang kerja sama untuk mempromosikan pariwisata ke publik yang lebih luas demi menjaring lebih banyak wisatawan tahun depan.

Peneliti pengembangan ICT Daniel Oscar Baskoro mengatakan disrupsi teknologi membawa perubahan kepada lanskap pariwisata, di sisi lain dapat membuat perjalanan wisata lebih efektif dan nyaman.

Disruptif yang membuat perjalanan wisata jadi lebih efektif. Misal dalam hal cara booking tiket. Ketika sudah menggunakan google map tidak perlu lagi pakai pemandu wisata.

Ia pun berpendapat bahwa teknologi telah berpengaruh pada ekosistem saat ini khususnya dari sisi kenyamanan pariwisata, kebebasan sosial, sekaligus dalam hal mendapatkan layanan yang berkualitas.

Sementara Pengamat ekonomi Faisal Basri mengatakan pariwisata hendaknya jangan terlalu mengacu pada target kuantitas. "Buat apa banyak tapi belanja sedikit," katanya.

Terlebih saat ini ketika rupiah terdampak berbagai faktor eksternal yang membuatnya terus berfluktuasi dan diproyeksikan sesuai RAPBN 2019 berkisar Rp15.000 perdolar AS.

Ia berpendapat dari fakta itu maka yang paling besar untuk bisa memajukan pariwisata adalah pariwisata mancanegara. Tapi wisatawan domestik lebih kalang kabut.

Ia mencatat sektor pariwisata mengalami surplus devisa empat miliar dolar AS, sementara sektor lain justru defisit. Potensi inilah yang menurut dia harus dioptimalkan melalui strategi yang berkelanjutan.

Sektor pariwisata menurut dia sangat dibutuhkan kontribusinya terhadap PDB sehingga pemerintah akan mendukung penuh kebutuhan industri dengan kecenderungan merespon positif khususnya dari perspektif regulasi. 

Faisal menilai tahun pemilu tidak ada alasan pariwisata turun, saya tetap optimistik. Dari beberapa pengalaman tidak berpengaruh.

Baca juga: Menpar tetapkan tiga strategi pemulihan pariwisata Banten

Pewarta: Hanni Sofia
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2018

Komentar