counter

Menristek: kampus ke depan bisa jadi "museum"

Menristek: kampus ke depan bisa jadi "museum"

Menristek Dikti M Nasir di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (26/11/2018). Foto ANTARA News (Agus Salim)

Semarang (ANTARA News) - Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi M Nasir mengingatkan kampus tiba-tiba bisa menjadi "museum" seiring perkembangan teknologi ke depan, termasuk dalam perkuliahan.

"Kenapa museum? Karena mereka mungkin sudah tidak lagi kuliah di kampus," katanya, saat membuka Rapat Kerja Nasional Kemenristek Dikti 2019 di Universitas Diponegoro Semarang, Kamis.

Menurut dia, perkembangan yang terjadi di dunia ini sekarang berlangsung sangat cepat, mulai transportasi, telekomunikasi, perhotelan, konstruksi, perbankan, sampai perguruan tinggi.

Pada perguruan tinggi, kata Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Undip itu, perkembangan teknologi telah merambah sistem perkuliahan yang tidak mengharuskan tatap muka.

"Anywhere, anyplace, anytime (di manapun dan kapanpun, red.). Perguruan tinggi harus menghadapi hal yang sama. Kalau tidak diperhatikan, akan tergilas," katanya.

Nasir menjelaskan realitas pendidikan tinggi di luar negeri sudah mulai menyiapkan diri menghadapi perkembangan yang dinamakan disruptif, terkait perubahan yang sangat mendasar.

Menghadapi perubahan tersebut, diakuinya, penting dilakukan perampingan perguruan tinggi, seperti dilakukan di Amerika Serikat (AS) kepada 25 persen kampus yang berada paling bawah.

"Korea Selatan juga menerapkan kebijakan. Perguruan tinggi yang berada 25 persen terbawah diperkirakan tutup atau bergabung hingga 10-15 tahun ke depan," katanya.

Artinya, kata dia, tidak menutup kemungkinan di Indonesia bakal terjadi merger atau akuisisi antarperguruan tinggi negeri (PTN), seiring dengan perubahan disruptif tersebut.

"Mungkin tidak terjadi merger atau akuisisi antar-PTN. Mungkin saja terjadi, tetapi kapannya, nanti. Nanti bisa muncul yang namanya `holding` di PTN," kata Nasir.

Perubahan disruptif, kata dia, terjadi secara mendasar dan sedemikian cepat yang akan memengaruhi kehidupan sehari-hari dan perilaku masyarakat di masa yang akan datang.

"Dalam sistem pembayaran. Yang namanya `cashless` (nontunai, red.). sudah menggunakan kartu, `e-money`. Dulu, tidak ada anjungan tunai mandiri (ATM). Perubahan begitu cepat," katanya.

Baca juga: UMY: sinergi universitas-pemda penting hadapi era disruptif

Baca juga: Universitas Bandarlampung kedepankan pengembangan kampus digital
 

Mendikbud ziarahi makam Ki Hajar Dewantara

Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor: Budi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar