Resensi film

"DreadOut", hantu VS ponsel pintar

Oleh Nanien Yuniar

"DreadOut", hantu VS ponsel pintar

Poster film "DreadOut" yang merupakan adapatasi dari gim horror PC "DreadOut" (ANTARA News/Nanien Yuniar)

Jakarta (ANTARA News) - Bagi generasi melek Internet, mungkin lebih baik ketinggalan dompet ketimbang lupa membawa ponsel pintar. Fungsinya sudah bergeser dari sekadar alat komunikasi menjadi benda praktis multifungsi, dari sumber hiburan hingga pengganti kamera. 

Ponsel pintar bahkan bisa jadi senjata melawan makhluk halus, setidaknya dalam dunia game indie horor “DreadOut” yang diadaptasi ke layar lebar oleh sutradara Kimo Stamboel. 

Meski di luar negeri sudah ada sederet film yang diangkat dari game sukses —sebut saja Tomb Raider, Resident Evil dan Silent Hill—, praktik ini belum lazim terjadi di Tanah Air.

Adaptasi game buatan pengembang lokal ke layar lebar ini bukan cuma bisa jadi hal yang dinantikan pencinta game “DreadOut”, tapi para penggemar film horor yang penasaran melihat bagaimana Kimo Stamboel meracik game jadi tayangan menegangkan. 

Kimo yang biasanya berduet dengan Timo Tjahjanto — Mo Brothers — membuat film-film sadis penuh darah seperti Macabre, “Killers”, “Headshot” kali ini beraksi solo. 

Baca juga: DreadOut menangi The Best Startup Bubu Awards

Prekuel game

Cerita yang disajikan dalam film merupakan prekuel dari game “Dreadout”, menceritakan awal mula Linda sang protagonis dalam game bisa berinteraksi dengan makhluk supranatural.

Banyak karakter baru yang tak ada di dalam game dimunculkan di film ini sebagai penunjang cerita. Linda (Caitlin Halderman) si protagonis di film ini berpetualang di apartemen kosong bersama teman-teman satu sekolahnya, yakni Erik (Jefri Nichol),  Beni (Irsyadillah), Jessica (Marsha Aruan), Dian (Susan Sameh) dan Alex (Ciccio Manassero).

Film "Dreadout" menceritakan tentang sekelompok siswa SMA yang berharap mendapatkan popularitas di dunia maya karena ingin mengalahkan temannya yang lebih ternama di dunia maya. Caranya? Menayangkan video berpetualang ke tempat seram secara live lewat media sosial. 

Fenomena ini memang terasa dekat dengan budaya anak muda zaman sekarang yang tak asing dengan idola-idola yang mengemuka berkat media sosial, entah itu YouTuber atau selebgram. 
 
Poster game Dread Out, buatan pengembang lokal asal Bandung, Digital Happiness. (ANTARA News/digitalhappiness.net)


Pada bagian ini, “DreadOut” sedikit mengingatkan pada film horor Korea Selatan “Gonjiam: Haunted Asylum” di mana beberapa YouTuber memberanikan diri menjelajahi rumah sakit kosong dan angker demi mencapai jumlah penonton yang fantastis di Internet. 

Film ini menyuguhkan sudut pandang dari kamera yang dibawa oleh tiap karakter, memberi sensasi menonton film dokumenter.

Bedanya, sudut pandang “DreadOut” tidak hanya ditampilkan dari kamera yang dibawa oleh karakter. Plot “mencari popularitas di dunia maya” hanyalah pengantar menuju keseruan film yang sebenarnya, menghadapi hantu-hantu Indonesia yang ternyata bisa dihadapi dengan ponsel pintar. 

Linda dan kawan-kawan harus melawan rasa takut ketika diserbu oleh pocong bercelurit serta hantu terkuat berupa perempuan berkebaya merah (Rima Melati Adams). 

Adegan intens menjadi pembuka “DreadOut”, memperlihatkan kisah mengerikan di apartemen yang bertahun-tahun kemudian jadi tempat idaman remaja untuk membuat video uji nyali, berharap keberanian mereka bakal terbayar dengan jumlah penonton yang meroket.

Game “DreadOut” dibuat oleh studio pengembang asal Bandung, wajar bila budaya Sunda yang kental  menghiasi game tersebut. 

Baca juga: Jefri Nichol pelajari logat Sunda untuk film "Dreadout"

Kimo menghormati akar budaya dari “DreadOut” yang diaplikasikannya lewat dialog-dialog makhluk halus, logat Sunda para tokoh (meski kerap timbul tenggelam), sampai musik tradisional yang sukses menambah keseraman dari makhluk alam astral karena kehororan itu terasa lebih dekat, serupa seperti budaya Jawa yang membuat bulu kuduk meremang di film “Keramat” (2009). 

Efek-efek komputer grafis melebur dengan baik dalam berbagai adegan. Dari sisi kebrutalan, dosis di film yang pengambilan gambarnya berlangsung di Jakarta, Ciawi dan Cibodas itu jauh lebih sedikit dibandingkan film-film Mo Brothers lain yang biasanya penuh percikan darah. 

Nyaris tidak ada visual yang membuat mata ingin terpejam, walau bukan berarti tidak ada sama sekali. Kimo memang “menahan diri” agar film ini bisa dinikmati penonton dari kalangan yang lebih luas, hingga akhirnya lolos sensor untuk penonton 17 tahun ke atas. 

Baca juga: Kimo Stamboel "mengerem" film "Dreadout", berharap ada lanjutan serial

Sosok hantu di “DreadOut” lebih terasa seperti monster yang harus ditaklukkan, bukan penampakan yang bikin jantung terasa ingin copot di saat-saat tak terduga.

“DreadOut” memang disertai adegan-adegan berbahaya tanpa peran pengganti yang membuat penonton penasaran bagaimana cara Linda dan teman-temannya bertahan hidup di tengah serbuan setan lokal. 

Baca juga: Caitlin Halderman kena celurit saat syuting "Dreadout"

Selipan humor ada di sana-sini, termasuk di situasi genting hingga adegan pamungkas yang mungkin takkan mudah dilupakan. Jangan buru-buru beranjak dari tempat duduk setelah film usai karena ada adegan tambahan yang bisa jadi petunjuk soal dunia “DreadOut” kelak. 

Keluar dari bioskop, mungkin Anda jadi penasaran ingin memainkan game-nya atau buru-buru mengisi daya baterai handphone dan menyadari pentingnya membawa power bank.

"DreadOut" mulai tayang pada 3 Januari 2019.

Oleh Nanien Yuniar
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar