counter

Menaker: Jam kerja fleksibel dapat tingkatkan partisipasi kerja perempuan

Menaker: Jam kerja fleksibel dapat tingkatkan partisipasi kerja perempuan

Sejumlah buruh berpakaian kebaya saat bekerja di salah satu pabrik rokok di Kudus, Jawa Tengah, Kamis (20/4/2018). (ANTARA FOTO/Yusuf Nugroho)

Jakarta (ANTARA News) - Menteri Ketenagakerjaan M Hanif Dhakiri mengatakan adanya jam kerja yang fleksibel dapat meningkatkan partisipasi angkatan kerja perempuan.

Untuk itu menurut dia, Undang-undang (UU) Nomor 13 Tahun 2003 perlu dikaji kembali agar dapat menciptakan ekosisten kerja yang lebih baik.

"Eksositem kerja di Indonesia terlalu kaku, misalnya tentang jam kerja yaitu delapan jam sehari dan 40 jam seminggu," kata Hanif saat Rapat Koordinasi Ketenagakerjaan di Jakarta, Selasa.

Dengan aturan yang kaku tersebut perempuan yang mempunyai beban ganda tidak dapat ikut berpartisipasi, mereka cenderung harus memilih harus menjalankan pekerjaan rumah tangga atau berkarier di luar rumah.

Jika ekosistem kerja menjadi lebih fleksibel maka yang diatur adalah akumulasi jam kerja dalam seminggu.

"Jadi kalau sudah fleksibel bisa saja hari ini dia masuk kerja jam 10 setelah beres mengantar anak, kemudian mereka bisa pulang sebelum anak-anak mereka pulang," kata Hanif.

Dia mengatakan ke depan pemerintah akan mencoba memperbaiki ekosistem kerja melalui UU 13 Tahun 2003 tersebut dan juga regulasi di tataran pemerintah daerah.

"Jika regulasi kita tidak cukup fleksibel maka kita akan lambat bergerak dan sulit untuk bersaing dengan negara lain," kata dia.

Baca juga: Legislator: pengurangan jam kerja perempuan kemunduran keseteraan gender
Baca juga: Pro-kontra pengurangan jam kerja perempuan
Baca juga: Pengurangan jam kerja hanya bagi perempuan punya balita

 

Pewarta: Aubrey Kandelila Fanani
Editor: Budi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar