Jakarta (ANTARA News) - Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi mengatakan Indonesia secara konsisten terus memperkuat diplomasi maritim di kawasan dan dunia.

"Kita masih ingat dalam pertemuan EAS pada 2014, Presiden Joko Widodo menyampaikan visi Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia, Global Maritime Fulcrum. Disitulah titik awal kita disadarkan kembali bahwa kita, Indonesia, adalah bangsa maritim. Disitulah kita disadarkan pentingnya kerja sama maritim," ujar Retno LP Marsudi dalam pernyataan pers tahunan di Jakarta, Rabu.

Mulai dari titik itu, secara konsisten, Indonesia terus memperkuat 
diplomasi maritim antara lain melalui: Pertama, penyelenggaraan KTT IORA.

Ini adalah KTT IORA pertama yang dilakukan setelah 20 tahun usia IORA. Hasil KTT IORA telah memberikan landasan kuat bagi 
penguatan kerja sama maritim negara-negara anggota IORA.

Kedua, penyelenggaraan Our Ocean Conference (OOC) di Bali telah menghasilkan 305 komitmen nyata dan terukur, USD 10,7 miliar komitmen keuangan dan 14 juta km2 perlindungan kawasan laut.

Indonesia juga telah menginisiasi mekanisme komitmen pengkajian pada pertemuan di Bali.

Ketiga, penyelenggaraan Indonesia "Africa Maritime Dialogue". Forum ini menghasilkan komitmen bersama Indonesia dan negara-negara di Afrika untuk memperkuat kerja sama pengelolaan perikanan yang berkesinambungan dan keamanan maritim. 

Keempat, penyelenggaraan IORA High Level Panel on Maritime Cooperation for Inclusive Growth in Indian Ocean di Bali 7-8 Desember 2018.

Pertemuan ini memberikan terobosan baru dan komitmen untuk mempercepat tercapainya target 5 tahun IORA Action Plan.

Kelima, pada KTT EAS tahun 2015 di Kuala Lumpur atas inisiasi 
Indonesia disahkan EAS Leaders’ Statement on Enhancing Regional Maritime Cooperation.

"Pada KTT EAS 2018 di Singapura, juga atas prakarsa Indonesia, 
telah disahkan EAS Leaders' Statement on Combating Marine Plastic Debris," ujar dia.

Keenam, secara bilateral, Indonesia juga menjalin kemitraan dengan 10 negara maritim dunia. Diplomasi maritim Indonesia terus bekerja untuk memperkuat Arsitektur di kawasan Dua Samudera, yaitu Samudera Pasifik dan Samudera Hindia.

Bagi Indonesia, lanjut dia, dua Samudera, Pasifik dan Hindia adalah Single Geo-Strategic Theatre.

"Kita perlu menjaga stabilitas, keamanan dan kemakmuran di Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Kita harus sama-sama pastikan agar Samudera Hindia dan Pasifik tidak dijadikan ajang perebutan sumber daya alam, pertikaian wilayah dan supremasi maritim," kata dia. 

Dalam konteks itulah, Indonesia mengembangkan konsep kerja sama "Indo-Pasifik".

Konsep ini telah dipresentasikan oleh Presiden Joko Widodo pada Pertemuan EAS, November 2018 di Singapura.

Indonesia bersama dengan negara anggota ASEAN mengajak 
semua mitra untuk terus mengembangkan konsep kerja sama Indo-Pasifik” tersebut.

Bagi Indonesia, lanjut dia, ASEAN harus proaktif menyikapi perkembangan dan perubahan strategis di kawasan.

"ASEAN harus selalu menjadi penggerak perubahan di kawasan," kata dia.

Baca juga: Indonesia bertekad tingkatkan diplomasi maritim
Baca juga: Diplomasi Indonesia tonjolkan karakter negara maritim

 

Pewarta: Azis Kurmala
Editor: Edy Sujatmiko
Copyright © ANTARA 2019