counter

DLHKP imbau warga tidak mengambil ikan-kerang di Teluk Ambon

DLHKP imbau warga tidak mengambil ikan-kerang di Teluk Ambon

Rekor MURI Bersihkan Teluk Ambon Sejumlah warga terlibat dalam aksi pembersihan Teluk Ambon, Maluku, Selasa (3/9). Aksi tersebut akhirnya membawa Pemerintah Kota Ambon memperoleh penghargaan dari MURI dengan nama rekor Membersihkan Teluk Ambon Dengan Peserta Terbanyak. Peserta yang terlibat dalam aksi pembersihan itu mencapai 70 ribu orang. (ANTARA FOTO/Izaac Mulyawan)

Imbauan tersebut disampaikan sehubungan dengan terjadinya ledakan (blooming) fitoplankton beracun jenis "Dinoflagelata Gonyaulax" di perairan Kelurahan Lateri, Negeri Passo, Kecamatan Baguala dan Dusun Batu Koneng dan Desa Poke, Kecamatan Teluk Ambon
Ambon, (ANTARA News) - Dinas Lingkungan Hidup Kebersihan dan Persampahan (DLHKP) Ambon, Provinsi Maluku, mengimbau warga pesisir Teluk Ambon untuk tidak mengambil ikan dan kerang (bia) yang terpapar mati di pantai.

Kepala DLHKP Ambon, Lusia Izaak meminta warga yang mencari dan mangambil kerang maupun ikan yang terpapar mati, untuk sementara waktu tidak melakukan kegiatan tersebut.

"Selain mengambil juga diminta untuk tidak mengonsumsi kerang dan ikan, guna menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan," katanya di Ambon, Sabtu.

Ia menjelaskan, imbauan tersebut disampaikan sehubungan dengan terjadinya ledakan (blooming) fitoplankton beracun jenis "Dinoflagelata Gonyaulax" di perairan Kelurahan Lateri, Negeri Passo, Kecamatan Baguala dan Dusun Batu Koneng dan Desa Poke, Kecamatan Teluk Ambon.

"Ledakan tersebut dapat mengakibatkan berkurangnya kadar oksigen di perairan dan memicu kematian ikan maupun biota lainnya," ujarnya.

Ia mengakui, hingga saat ini belum menerima laporan terkait kematian ikan dan biota laut lainnya akibat ledakan Dinoflagelata Gonyaulax, tetapi pihaknya perluka melakukan antisipasi dini.

Pihaknya telah menyurati para camat dan lurah untuk segera menindaklanjuti ederan tersebut kepada warga yang tinggal di pesisir pantai di sejumlah kawasan.

"Kami imbau warga untuk tidak mengonsumsi ikan yang mati mengambang di pesisir Teluk Ambon, karena hal tersebut tentu sangat membahayakan," lanjutnya.

Peneliti Pusat Penelitian Laut Dalam-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2LD-LIPI), Hanung Agus Mulyadi mengatakan, ledakan itu terjadi sejak Kamis (10/1) pagi, dengan luasan mencapai 31 hektare di perairan Desa Lateri dan Passo, Kecamatan Baguala hingga kawasan Guru-guru, Poka, Kecamatan Teluk Ambon.

Tingkat kepadatan ledakan terbilang tinggi, yakni 9x100 ribu sel per liter hingga 2,5x1000 juta sel per liter.

"Untuk kewaspadaan disampaikan kepada masyarakat adalah telah terjadi blooming selama dua hari, diperkirakan luasannya sekitar 31 hektare, lumayan luas untuk ukuran perairan," tambahnya.

Ledakan Dinoflagelata Gonyaulax di Teluk Ambon baru diketahui oleh pihaknya pada Kamis sore saat memantau kondisi perairan Teluk Ambon, dan menemukan terjadi perubahan warna air laut yang kecoklatan dan agak berlendir.

Sampelnya kemudian dianilisa di Laboratorium Fisika oleh tim peneliti yang terdiri dari Hanung Agus Mulyadi, Sem Likumahua, Salomy Hehakaya, La Imu, William Merphy Tatipata dan Muhammad Fadly.

"Tim balik lagi ambil sampling ternyata blooming sudah terjadi sejak kemarin sekitar jam 10.00 pagi menjelang siang, tapi kemarin kami tidak melakukan pelacakan area blooming jadi tidak tahu apakah memang luasannya memang 31 hektare sejak kemarin," kata Hanng Agus Mulyadi.

Baca juga: 1.000 benih ikan dilepaskan ke Teluk Ambon

Baca juga: Teluk Ambon tercemar logam berat

Baca juga: LIPI temukan biota laut berbahaya di Teluk Ambon

Pewarta:
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar