counter

102 Pemrotes Rompi Kuning ditangkap di Prancis saat protes berlanjut

102 Pemrotes Rompi Kuning ditangkap di Prancis saat protes berlanjut

Pemrotes Rompi Kuning berkumpul selama protes mereka di Paris, Prancis, pada Sabtu, (12/1/2019). ( Dursun Aydemir - Anadolu Agency )

Paris, Prancis, (ANTARA News) - Sedikitnya 102 pemrotes Rompi Kuning ditangkap pada Sabtu (12/1) di Ibu Kota Prancis, Paris, tempat polisi menggunakan gas air mata serta semprotan air terhadap para pengunjuk rasa itu.

Champs-Elyesees tenang pada pagi hari, namun ketegangan antara polisi dan pemrotes meningkat pada siang hari.

Para demonstran melemparkan batu ke polisi sementara polisi menggunakan air mata dan semprotan air ke arah pemrotes, kata Kantor Berita Anadolu --yang dipantau Antara di Jakarta, Ahad siang.

Di Bourges, Prancis Tengah, 500 pemrotes berusaha memasuki pusat kota yang bersejarah, tempat protes dilarang masuk oleh kantor gubernur.

Sementara itu di Belanda, kalangan Rompi Kuning menggelar protes terhadap pemerintah di 14 kota besar, termasuk di Den Haag, Amsterdam dan Rotterdam.

Protes Rompi Kuning, yang dimulai sebagai reaksi terhadap kenaikan pajak bahan bakar dan berkembang menjadi demonstrasi terhadap Presiden Prancis Emmanuel Macron, telah berlangsung terus kendati pemerintah menyerukan agar kegiatan tersebut dihentikan.

Protes itu mula-mula digelar di Prancis pada 17 November, tapi dengan cepat meluas serta merembes ke negara lain Eropa.

Baca juga: Penerbangan internasional ke Paris turun di tengah protes rompi kuning
Baca juga: Protes rompi kuning berlanjut dalam upaya mengakhiri pemerintah Prancis


Ribuan pengunjuk rasa dengan mengenakan rompi kuning terang --sehingga mereka dijuluki pemrotes Rompi Kuning-- telah berkumpul di berbagai kota besar utama Prancis, termasuk ibu kotanya, Paris, untuk menentang kenaikan pajak kontroversial Macron dan situasi ekonomi yang memburuk.

Para pengunjuk rasa menggelar protes dengan menghalangi jalan dan lalu-lintas, dan juga menghalangi jalan masuk dan ke luar pada banyak stasiun pompa bensin.

Pemrotes tersebut, yang pada umumnya tinggal di daerah pinggir kota akibat tingginya harga sewa rumah dan apartemen di kota besar, telah mendesak Macron agar memangkas pajak bahan bakar dan meringankan kesulitan ekonomi mereka.

Macron, yang menghadapi tekanan dari pemrotes, mengumumkan kenaikan upah minimum dan membatalkan kenaikan pajak bahan bakar.

Sedikitnya 10 orang meninggal, lebih dari 5.500 orang lagi ditahan, dan lebih dari seribu orang lagi cedera dalam protes.

Redaktur: Tia Mutiasari

Pewarta:
Editor: Chaidar Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar