Di Dumai, ditemukan kantong plastik di mulut bangkai Pesut

Di Dumai, ditemukan kantong plastik di mulut bangkai Pesut

Sekelompok Pesut Mahakam yang berhasil diabadikan pada Oktober 2011 di perairan Sungai Mahakam di Muara Kedang Rantau, Kecamatan Muara Kaman. (ANTARA Kaltim/Hayru Abdi)

Iya, itu plastik. Saya tidak bisa memastikan kenapa bisa ada di dalam mulut ikan pesut
Pekanbaru,  (ANTARA News) - Warga di Kota Dumai, Provinsi Riau, melihat ada kantong plastik berada di dalam bangkai mamalia air, ikan pesut yang ditemukan mati di perairan kota itu.

"Iya, itu plastik. Saya tidak bisa memastikan kenapa bisa ada di dalam mulut ikan pesut," kata Pengelola Pantai Pulai Bungkuk Indah, Azhari (36), ketika dihubungi Antara dari Pekanbaru, Rabu

Pesut tersebut ditemukan warga mati di perairan Pantai Pulai Bungkuk Indah, Dumai, pada Kamis (10/1). Ia menambahkan bangkai itu tidak terdapat bekas luka yang biasa ditemukan apabila satwa mati akibat terkena jaring maupun baling-baling kapal.

Yang membuat dirinya heran adalah keluar cairan kuning dari tubuh pesut tersebut, dan ada kantong plastik di mulutnya.

Ia menyayangkan hingga kini tidak ada unsurr dari Dinas Perikanan setempat maupun Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau yang memeriksa penyebab kematian pesut itu.

Warga hingga kini tidak berani mengubur bangkai satwa itu karena takut akan timbul masalah, apalagi kabar yang beredar pesut itu mati diduga akibat keracunan limbah dari industri minyak kelapa sawit yang banyak di pesisir Dumai.

"Sepertinya tidak ada unsur pemerintahan di Dumai perduli dengan lingkungan," katanya.

Sebelumnya, pakar kelautan memastikan bahwa mamalia laut yang ditemukan mati di perairan Kota Dumai, Provinsi Riau, bukan satwa langka Dugong karena terdapat perbedaan dari segi morfologinya.

"Menurut saya itu jelas bukan spesies dugong. Dugaan saya itu Orchaella sp. atau pesut. Karena pesut ada dua macam, pertama yang hidup di laut tepi dan muara sungai. Yang kedua pesut yang hidup di air tawar seperti sungai dan danau, seperti yang di Kalimantan Timur," kata pakar kelautan, drh Dwi Restu Seta, Minggu (13/1).

Ia berharap ada instansi terkait seperti Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau maupun dinas perikanan harus melakukan investigasi mengenai penyebab kematian mamalia air di Dumai.

Menurut dia, perlu ada pembedahan bangkai, nekropsi dengan memeriksa kondisi organ dalam hingga penelitian mikro laboratorium untuk mengetahui penyebabnya.

Kematian bisa banyak sebabnya, tapi ia mengatakan biasanya kematian mamalia laut tepi yang abnormal adalah akibat pencemaran diseputaran sungai dan pantai, biasanya tumpahan minyak.

"Jadi kalau ini kematian karena wabah tertentu bisa ditanggulangi secepatnya," ujarnya.

Baca juga: Ratusan Ikan Mati Akibat Limbah CPO di Perairan Dumai

Pewarta: Febrianto Budi Anggoro
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar