Satgas khusus dibentuk Pontianak tertibkan pengamen-pengemis

Satgas khusus dibentuk Pontianak tertibkan pengamen-pengemis

Pos Pantau Anjal dan Gepeng Dua petugas berada di pos pantau anak jalanan (Anjal) dan Gepeng di perempatan BI Mataram, NTB, Senin (7/7). Untuk menekan jumlah anak jalanan dan gepeng yang marak pada bulan Ramadan pihak Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Mataram membuat pos pantau di tujuh titik. ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi

Masing-masing dua orang kami tempatkan di setiap perempatan, dengan gaji sebesar Rp75 ribu per orang per harinya
Pontianak,  (ANTARA News) - Pemerintah Kota Pontianak melalui Dinas Sosial kota setempat telah membentuk satuan tugas (Satgas) khusus untuk menertibkan para pengamen dan pengemis di perempatan-perempatan jalan di kota itu.

"Guna menertibkan berbagai aktivitas yang bisa mengganggu kelancaran dan kenyamanan para pengendara di perempatan-perempatan jalan di Kota Pontianak kami sudah membentuk satgas khusus untuk menertibkan para pengamen dan pengemis," kata Kepala Bidang Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial, Dinas Sosial Kota Pontianak, Edy Haryanto di Pontianak, Selasa.

Ia menambahkan, satgas khusus tersebut direkrut dari masyarakat sekitar perempatan atau lampu pengatur lalu lintas tersebut.

"Masing-masing dua orang kami tempatkan di setiap perempatan, dengan gaji sebesar Rp75 ribu per orang per harinya. Lokasi yang dipilih merupakan tempat yang sering disinggahi anak-anak atau orang yang berjualan di jalanan, di antaranya persimpangan atau perempatan Jalan Tanjung Raya, kemudian di depan Hotel Garuda, kemudian perempatan Jalan Budi Utomo, dan bahkan di lokasi GOR Sultan Syarif Abdurrahman," katanya.

Ia menjelaskan, dibentuknya satgas khusus tersebut untuk mencegah hal yang tidak diinginkan, karena apabila anak jalanan atau orang yang mencari uang di lokasi-lokasi itu mengetahui ada pegawai Dinsos Kota Pontianak maka dapat membahayakan penggunaan jalan lainnya, karena mereka langsung lari sehingga membahayakan keselamatan yang bersangkutan dan orang lainnya.

Menurut dia, keberadaan Satgas Khusus tersebut masih terbatas sehingga masih saja ada yang mengambil kesempatan untuk mengamen dan berjualan di perempatan-perempatan jalan tersebut.

Sementara itu, terkait keberadaan anak jalanan, dia menyatakan ada klasifikasinya, yakni ada anak dari kumpulan kecil yang biasa ngelem dan hanya di tempat tinggalnya saja, misalnya anak SMP. Berbeda dengan anak punk, yang banyak datang dari luar kota seperti Bandung, Singkawang, dan Ketapang.

"Anak-anak punk itu menjadikan Pontianak sebagai lokasi titik kumpul dan mempengaruhi anak Pontianak saja," ujarnya.

Ia mengatakan, biasanya mereka melakukan aktivitas ngelem bahkan mengkonsumsi narkoba dari uang yang mereka dapat setelah mengamen dan meminta-minta di perempatan jalan maupun di warung-warung kopi yang ada di Pontianak.

"Malah kemarin kami amankan para anak punk itu, dari hasil ngamen digunakan mereka untuk beli narkoba, sehingga perlu ditertibkan juga oleh aparat penegak hukum," ujarnya.

Baca juga: Korban kasus prostitusi di bawah umur Pontianak bertambah

Baca juga: Mensos kaget ada pengemis punya mobil dan kartu kredit

Baca juga: Pengemis berpendapatan puluhan juta rupiah diamankan

Pewarta: Andilala
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kejar KKB, Polda Papua terjunkan Satgas khusus ke Yahukimo

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar