counter

Balittri kembangkan kopi di lahan pasang surut

Balittri kembangkan kopi di lahan pasang surut

Kepala Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri) Kementerian Pertanian Dr Syafaruddin Deden di kantor Balittri, Sukabumi, Jawa Barat (ANTARA/Dewanti Lestari)

Liberika punya citarasa dan penggemar sendiri. Kami sudah ada varietas Lim 1 dan Lim 2
Jakarta (ANTARA News) - Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri) Kementerian Pertanian mengembangkan dua varietas kopi unggul liberika, jenis kopi yang tumbuh di lahan pasang surut.
   
"Jenis kopi yang kami kembangkan bukan hanya dari jenis Arabika dan Robusta, tetapi juga Liberika yang punya citarasa dan penggemar sendiri. Kami sudah ada varietas Lim 1 dan Lim 2," kata Kepala Balitri Dr Syafaruddin Deden di kantor Balittri di Sukabumi Jawa Barat, Rabu.
    
Varietas unggul kopi Liberika selain memiliki keunggulan dari sisi kemampuan adaptasi pada lahan pasang surut juga memiliki toleransi tinggi pada tanah yang kurang subur, seperti di tanah lempung hingga tanah berpasir.
    
Sedangkan soal rasa, kopi liberika memiliki nilai uji citarasa mencapai 84,25 – 84,50 (fine coffee). "Rasanya seperti campuran antara Arabika dan Robusta, lebih asam dari Arabika tapi kurang asam daripada Robusta," katanya.
      
Kopi jenis Liberika, ujar dia, banyak diminati di Jepang, Malaysia dan Singapura, sehingga banyak petani Indonesia yang mengekspornya ke negara-negara tersebut," katanya.
     
Jika kopi Arabika tumbuh baik hanya di dataran tinggi (lebih dari 1.200 meter dari permukaan laut /mdpl), kopi Robusta tumbuh baik di dataran 400-800 meter, kopi Liberika tumbuh di lahan rawa pasang surut,  di ketinggian minus 5 meter hingga 5 meter di pesisir pantai, ujarnya.
     
Seperti halnya benih tersertifikasi kopi Arabika dan Robusta, Balitri juga menyediakan benih kopi Liberika tersertifikasi secara gratis untuk petani di pesisir, antara lain yang sudah mendapatkannya para petani di Riau, Jambi dan sebagian di Sumsel.
   
Sejak diberi kewenangan dalam penelitian kopi, kakao dan karet, pada 2017 Balittri sudah menyalurkan benih ketiga komoditas tersebut kepada para petani sebanyak 1.500.000 benih pada 2017, turun menjadi 800.000 benih pada 2018 dan pada 2019 rencananya sebanyak 600.000 benih.
    
"Termasuk di dalamnya 853.000 benih tanaman kopi Arabika secara gratis kepada para petani. Kami memang diminta lebih banyak lagi menyediakan benih tanaman kopi Arabika yang memang paling digemari," katanya.
    
Selain kopi, Balittri juga mengembangkan benih unggul kakao, seperti varietas BL50 yang memiliki potensi produksi yang tinggi yakni mencapai 3,7 ton/ha/tahun, sekitar lima kali lebih tinggi dari rata-rata produksi nasional yang hanya sekitar 700 kg/ha.
    
Dalam kesempatan itu Deden juga menyebut bahwa Balittri sedang bersiap menjadi Pusat Unggulan Iptek (PUI) yang merupakan program Kementerian Riset dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti), khususnya di bidang pengembangan bioenergi.
    
"Tahun ini kami akan mendapat pembinaan. Dan rencananya pada 2020 sudah ditetapkan sebagai PUI," katanya.

Baca juga: Miliki varian liberika, Jambi siap jadi tuan rumah Hari Kopi se-Dunia

Menteri BUMN dukung santri pasarkan kopi Nusantara

Pewarta: Dewanti Lestari
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar