Petani enggan tanam kedelai karena kurang menguntungkan

Petani enggan tanam kedelai karena kurang menguntungkan

kedelai impor (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)

Petani kita sebenarnya sudah pintar, mereka mau menanam yang benar-benar menguntungkan. Secara produktivitas memang kedelai belum bisa menguntungkan dari segi ekonomi dan perlakuannya lebih sulit
Jakarta (ANTARA News) - Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, mengungkapkan salah satu kendala untuk mendorong petani menanam kacang kedelai adalah karena kurang menguntungkan.

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikutura Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Probolinggo, Handaka, menjelaskan bahwa para petani cenderung menanam komoditas yang benar-benar menguntungkan mereka, seperti padi, jagung dan tembakau.

"Petani kita sebenarnya sudah pintar, mereka mau menanam yang benar-benar menguntungkan. Secara produktivitas memang kedelai belum bisa menguntungkan dari segi ekonomi dan perlakuannya lebih sulit," kata Handaka saat dihubungi di Jakarta, Jumat.

Handaka menjelaskan secara hitungan kasar, rata-rata produktivitas kacang kedelai berkisar satu ton per hektare. Jika dijual dengan harga Rp5.000 sampai Rp6.000 per kilogram, pendapatan saat panen berkisar Rp5 juta - Rp6 juta.

Dari jumlah pendapatan tersebut, setidaknya biaya produksi bisa mencapai Rp3 juta sampai Rp4 juta, sehingga petani hanya mendapatkan keuntungan sekitar Rp2 juta.

Berbeda dengan komoditas jagung, produksi di Kabupaten Probolinggi mencapai 6 ton per hektare dengan harga pipilan kering Rp5.000 per kilogram, sehingga totalnya bisa Rp30 juta. Jika dikurangi ongkos produksi sebesar Rp6 juta, petani masih bisa meraup keuntungan lebih besar daripada kedelai.

"Selama ini penyerapan jagung juga tidak ada kendala. Jagung dari petani sudah langsung ditebas, dibeli oleh pedagang juga kemudian untuk pakan ternak," kata Handaka.

Dalam kesempatan sebelumnya, salah satu petani di Kabupaten Probolinggo, Sudiyanto, mengatakan ia memiliki tanah sekitar 700 meter persegi. Setelah panen jagung, pada musim tanam selanjutnya ia akan menanam padi.

"Kalau tanam kedelai tidak biasa di sini. Paling-paling setelah jagung, padi, lalu tembakau. Kan itu sudah pasti dibeli saat panen," kata dia.

Seperti diketahui, Kementerian Pertanian menargetkan swasembada kacang kedelai pada 2020. Berdasarkan data BPS pada 2018, kedelai Indonesia belum dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri, yang mana produksi Indonesia hanya sebesar 982.598 ton.

Sementara itu, Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Arief Nugraha, mengatakan peningkatan produktivitas kedelai bukanlah hal mudah karena diperlukan pembinaan dan pendampingan bagi petani kedelai.

Pembinaan dapat dilakukan antara lain dengan penggunaan benih, pupuk, dan sarana produksi lain yang tepat.

Baca juga: Kementan ungkap kendala swasembada kedelai
Baca juga: Diusulkan importir wajib tanam kedelai di dalam negeri

Pewarta: Mentari Dwi Gayati
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar