counter

Pelajar-mahasiswa target utama perekrutan kelompok radikal

Pelajar-mahasiswa target utama perekrutan kelompok radikal

Deklarasi Anti Radikalisme Sebanyak 44 perguruan tinggi negeri dan swasta se-Jawa Barat mengadakan deklarasi antiradikalisme yang diselenggarakan di Universitas Padjadjaran Bandung, Jawa Barat, Jumat (14/7). Deklarasi anti radikalisme perguruan tinggi se-Jabar tersebut berisi beberapa poin yakni berpegang teguh pada Pancasila, UUD 1945 dan semangat Bhineka Tunggal Ika, sekaligus menolak organisasi dan aktifitas yang berorientasi pada radikalisme. (ANTARA FOTO/Agus Bebeng)

Pekanbaru (ANTARA News) - Pelajar dan mahasiswa merupakan kelompok yang potensial untuk direkrut oleh kelompok radikal,  kata Ken  Setiawan, mantan petinggi kelompok radikal Negara Islam Indonesia (NII) yang kini mendirikan NII Center.

"Mahasiswa yang tidak kritis akan sangat mudah untuk dipengaruhi dan menelan mentah-mentah paham kelompok radikal," kata Ken pada seratusan mahasiswa se-Provinsi Riau di Pekanbaru, Kamis.

Dalam paparannya,   perekrut aktif NII periode 2000-2003 itu mengatakan hanya butuh waktu singkat bagi perekrut mahir NII untuk memengaruhi pemikiran mahasiswa.

"Saya pernah mendapat penghargaan perekrut terbaik saat masih menjadi anggota NII sekitar tahun 2000. Hanya butuh 20 menit memengaruhi target, terutama mahasiswa untuk menerima paham NII," kata Ken mengawali pemaparannya dalam Diskusi Indonesia Damai Tanpa Hoax, Intoleransi, dan Ekstremisme.

Kegiatan yang diinisiasi Mabes Polri tersebut turut menghadirkan Ketua Forum Koordinasi Penanggulangan Teroris (FKPT) Riau Saifunnajar dan Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Riau Zulhusni Domo sebagai pembicara.

Ken menjelaskan bahwa pergerakan NII pada dua dekade lalu menyasar kalangan muda, terutama mahasiswa yang jauh dari pengawasan orang tua.

Cuci otak, sebutan umum praktik perekrutan tersebut memanfaatkan kelemahan pemahaman mahasiswa tentang Islam serta sikap tidak kritis.

Seorang mahasiswa yang sudah terpengaruh paham radikal akan mudah untuk dikendalikan. Bahkan, tidak tertutup kemungkinan dengan mudahnya membohongi orang tua.

"Seperti meminta uang kuliah, padahal mereka sudah drop out. Ada juga kasus mahasiswa di UGM yang meminta uang hingga Rp300 juta pada orang tua untuk mengganti alat laboratorium, padahal dia sudah DO," kata Ken mencontohkan.

Ken mengatakan, berbeda dengan awal tahun 2000-an, saat ini pergerakan kelompok radikal lebih fleksibel. Mereka dengan mudahnya menjadi "bunglon" di tengah-tengah masyarakat.

Pola perekrutan juga berbeda. Jika sebelumnya dilakukan di kampus kini mereka melakukannya di "food court". Bahkan, mereka juga memanfaatkan alumni sebagai jembatan perekrutan mahasiswa. Hal itu yang sebelumnya terjadi di Universitas Riau, saat Densus 88 menangkap tiga terduga teroris medio 2018.

"Ini yang harus kita waspadai. Peduli dengan lingkungan dan perbanyak kegiatan positif," ujar Ken.

Pewarta: Fazar Muhardi/Anggi Romadhoni
Editor: Sigit Pinardi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar