Orang tua diminta perhatikan gizi anak pada 1.000 hari pertama kehidupan

Orang tua diminta perhatikan gizi anak pada 1.000 hari pertama kehidupan

Kader Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) menimbang berat badan balita untuk mencegah kegagalan tumbuh kembang anak (stunting) saat kegiatan Posyandu balita di Klaten, Jawa Tengah, Rabu (18/4/2018). Sebagai upaya peningkatan investasi di bidang Sumber Daya Manusia (SDM), Presiden Joko Widodo menargetkan penurunan jumlah penduduk stunting atau gagal tumbuh akan menjadi salah satu fokus pemerintah seusai menggeber proyek infrastruktur. (ANTARA FOTO/Maulana Surya)

Intervensi pada 1.000 hari pertama kehidupan tidak boleh diabaikan karena menjadi penentu pertumbuhan fisik
Jakarta (ANTARA News)  - Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan Oscar Primadi meminta agar para orang tua untuk memperhatikan pemenuhan gizi anak terutama mulai periode kehamilan hingga anak berusia dua tahun untuk mencetak generasi berkualitas bebas kekerdilan.

“Intervensi pada 1.000 hari pertama kehidupan tidak boleh diabaikan karena menjadi penentu pertumbuhan fisik, kecerdasan dan produktivitas seseorang,” kata Oscar dalam acara diskusi bertema Keluarga Sadar Gizi, Indonesia Sehat dan Produktif, di Kementerian Kesehatan, Jakarta, Jumat.

Acara tersebut digelar dalam peringatan Hari Gizi Nasional (HGN) ke 59 pada tahun ini.

Menurut dia, pemenuhan gizi pada 1.000 hari pertama kelahiran atau mulai periode kehamilan hingga anak berumur dua tahun sangat mempengaruhi kehidupan anak hingga masa dewasa.

Seorang anak yang mengalami kekurangan gizi ketika masa janin dan usia dini akan berpengaruh pada kurang maksimalnya pertumbuhan fisik anak seperti tinggi badan yang tidak optimal.

Tidak hanya menyebabkan pendeknya tinggi badan, kekerdilan atau stunting juga menyebabkan kurang maksimalnya perkembangan otak anak. Selain itu di masa depan, kesempatan bekerja bagi penderita stunting, terbatas karena mereka memiliki tingkat kecerdasan yang rendah.

Selain itu dampak lainnya adalah adanya risiko gangguan metabolik yang memicu sejumlah penyakit tidak menular saat anak tersebut beranjak dewasa seperti penurunan fungsi kekebalan, mengalami obesitas, penurunan toleransi glukosa, penyakit jantung koroner, hipertensi dan osteoporosis.

“Ini (kekurangan gizi) akan berdampak pada menurunnya produktivitas yang selanjutnya bisa menghambat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kemiskinan dan kesenjangan di masyarakat,” katanya.

Dalam peringatan Hari Gizi Nasional (HGN) ke 59 pada 2019, pihaknya berharap pemerintah bersama seluruh elemen masyarakat bekerja sama dalam pemenuhan gizi anak untuk mencegah kekerdilan demi masa depan Indonesia yang sehat dan berkualitas.

 Baca juga: Pakar: stunting bukan karena gen tapi faktor lingkungan

Baca juga: Deteksi stunting, amati berat badan anak

Pewarta: Anita Permata Dewi
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kemkes ajak masyarakat hidup sehat demi SDM unggul

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar