Artikel

Menjaring wisatawan mancanegara perbatasan

Menjaring wisatawan mancanegara perbatasan

Ilustrasi - Seorang Tatung (dukun Tionghoa yang kerasukan arwah leluhur) melakukan atraksi saat mengikuti Pawai Perayaan Cap Go Meh 2018 di Singkawang, Kalbar, Jumat (2/3/2018). Sebanyak 1038 Tatung turut memeriahkan perayaan Cap Go Meh 2018, yang rutin digelar setiap tahun di Kota Singkawang, Kalbar. (ANTARA FOTO/Jessica Helena Wuysang)

Jakarta (ANTARA News) - Indonesia sebagai negara kepulauan dan memiliki perbatasan langsung dengan sejumlah negara, dinilai memiliki potensi keindahan alam dan budaya yang menarik untuk dikunjungi.

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) sebagai instansi yang berwenang untuk menggaet sebanyak mungkin wisatawan mancanegara (wisman) datang ke Indonesia, terus berupaya melakukan promosi yang gencar.

Bagi dunia pariwisata Indonesia, menggarap pasar wisata perbatasan merupakan hal yang sangat realistis.

Apalagi Indonesia memiliki banyak daerah yang menjadi pintu masuk wisman dari negara tetangga termasuk dari Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, Papua Nugini, hingga Timor Leste.

Kementerian Pariwisata menargetkan mampu mendatangkan 4 juta wisatawan mancanegara (wisman) dari wilayah perbatasan NKRI sepanjang 2019.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar Rizki Handayani Mustafa, mengatakan target 4 juta wisman dari perbatasan itu naik sekitar 20 persen dari tahun sebelumnya sehingga diharapkan mampu memberikan kontribusi besar bagi total target 20 juta kunjungan wisman pada 2019.

Kemenpar akan terus mendorong potensi pariwisata perbatasan atau cross border yang salah satunya diterapkan melalui program promosi bersama (Joint Promotion).

Misalnya promosi bersama dengan penyedia transportasi (ferry dan bus), event crossborder, hot deals, destinasi digital, dan "mobile positioning data" (MPD).

Salah satu potensi wisata yang terus digarap oleh Kemenpar adalah crossborder. Karena, jenis wisata ini memiliki banyak peminat dari berbagai kalangan.

Selain itu, wisata perbatasan menjadi jawaban ketika wisatawan menemui kesulitan dalam melakukan kegiatan wisata. Khususnya yang berada di dalam wilayah Indonesia.

Pada 2018, diperkirakan wisatawan perbatasan dapat menyumbang 18 persen dari total kunjungan wisman. Oleh karena itu, tahun ini harus naik setidaknya 20 persen atau sekitar 4 juta dari total 20 juta target wisman.

Keuntungan menjaring wisman perbatasan dari negara tetangga adalah memiliki faktor kedekatan secara geografis. Dengan kedekatan ini wisman lebih mudah, cepat, dan murah untuk menjangkau destinasi kita.

Belum lagi kedekatan secara kultural dan emosional sehingga peluang seperti ini yang bisa dimaksimalkan oleh Kemenpar untuk menjaring sebanyak mungkin wisman perbatasan

Bagi Menteri Pariwisata Arief Yahya, wisata perbatasan memiliki peran penting untuk pariwisata Indonesia.

Berkaca dari tahun-tahun sebelumnya, Kementerian Pariwisata ingin lebih agresif lagi berpromosi untuk border tourism. Apalagi saat ini aksesibilitas dan infrastruktur di wilayah perbatasan Indonesia sudah semakin bagus.

Program Pemerintah Jokowi-JK untuk membangun infrastruktur dari wilayah pinggiran dan terluar terbukti mendatangkan manfaat dan keuntungan sendiri dalam menggerakkan wisman diperbatasan.

Pariwisata itu mirip bisnis transportasi dan telekomunikasi, membutuhkan faktor kedekatan, baik kedekatan budaya maupun kedekatan jarak.

Wisata perbatasan sebenarnya sudah berhasil dijalankan di Eropa yang memiliki perbatasan dengan sejumlah negara.

Karena itu, memperkuat wilayah perbatasan adalah salah satu solusi bagi pencapaian target Kemenpar.

Apalagi wisman perbatasan pun kini semakin mudah terpantau dan terkalkulasi jumlahnya sebab Kemenpar telah menerapkan sistem berupa Mobile Positioning Data (MPD) untuk menghitung statistik data kunjungan wisatawan, terutama di kawasan perbatasan.

Kemenpar pun berharap target 4 juta wisman dari wilayah perbatasan dapat terkalkulasi dan terealisasikan dengan akurat sehingga memberikan kontribusi nyata bagi pencapaian target total 20 juta wisman ke Tanah Air.



Kemudahan aksesibilitas

Salah satu lokasi wisata yang digarap Kemenpar untuk bisa didatangi wisman perbatasan adalah Singkawang, Kalimantan Barat. Kedekatan etnis China di Singkawang dengan di Malaysia

Aksesibilitas dan amenitas juga sudah dipersiapkan oleh pemerintah daerah Singkawang. Aksesibilitas menuju ke Kota Singkawang juga sangat mudah. Bila melalui jalur darat, wisatawan pun bisa menggunakan bus Damri dari Bandara Supadio, Pontianak.

Tarif yang ditawarkan sekitar Rp100.000 sekali jalan. Total ada lima armada yang disiapkan dengan interval keberangkatan pukul 09.00, 11.00, 12.00, 13.00, dan 14.00 WIB.

Bagi para wisatawan asal Malaysia maka aksesibilitasnya jauh lebih sederhana. Mereka bisa menempuh jalur darat langsung dari Kuching menuju Singkawang melalui pintu Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Aruk di Sambas, Kalbar.

Lalu, bagaimana dengan amenitas? Ada beragam hotel yang ditawarkan Kota Singkawang. Sebut saja Hotel Swiss-Bel Inn Singkawang dengan rate Rp800.000 semalam. Begitu juga dengan Hotel Airy Singkawang Tengah Salam Diman 129 dengan banderol Rp261.000 per malam.

Sementara untuk hotel dengan harga di bawah Rp200.000 juga tersedia diantaranya, Wahana Inn, Astina Graha, juga Airy Graha Wahana.

Kalender promosi budaya tetap tahunan yang mampu mengundang wisman dari Malaysia juga Singapura adalah Festival Cap Go Meh di Singkawang, Kalimantan Barat, yang saat ini menjadi agenda wajib bagi wisatawan nusantara maupun mancanegara.

Berbeda dengan perayaan Cap Go Meh pada umumnya, kegiatan yang masuk dalam Top 100 Calender of Event (CoE) Kementerian Pariwisata itu punya berbagai atraksi.

Menjadi satu paket dengan Perayaan Tahun Baru Imlek 2570, Festival Cap Go Meh 2019 dibuka 3 Februari 2019.

Deretan atraksi terbaiknya juga siap digelar mulai dari pentas seni dan budaya, live musik dari artis nasional, atraksi tatung, expo Cap Go Meh, hingga atraksi 12 naga yang lokasinya terdapat di beberapa titik Kota Singkawang.

Setiap tahun ada lebih dari 500 tatung berparade sambil memamerkan kesaktiannya. Tatung merupakan sosok manusia yang menurut beberapa kepercayaan sedang dirasuki roh dewa. Kata tatung sendiri berasal dari bahasa Hakka, yang berarti roh.

Festival di perayaan Festival Cap Go Meh 2019 yang menarik adalah pemecahan rekor MURI replika Singa Raksasa berukuran 8,8 meter.

Cap Go Meh adalah festival luar biasa. Dengan eksotisme yang ditawarkan, kegiatan ini selalu sukses menarik kunjungan wisatawan dalam jumlah besar terutama wisman perbatasan seperti Singapura dan Malaysia, bahkan datang dari Taiwan dan China.*

Baca juga: Pontianak persiapkan perayaan Cap Go Meh

Baca juga: Replika sepasang singa emas siap raih rekor Muri

Baca juga: Singkawang dan Betawi poles Cap Go Meh di Jakarta



 

Pewarta: Ahmad Wijaya
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Solo rayakan Cap Go Meh dengan barongsai penolak bala

Komentar