counter

Grab Indonesia klaim tingkat "fraud" turun di bawah satu persen

Grab Indonesia klaim tingkat "fraud"  turun di bawah satu persen

ilustrasi. GrabCar. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

Grab menerapkan algoritma 'machine learning' yang bisa mengidentifikasi potensi kecurangan mitra pengemudi
Jakarta (ANTARA News) - Perusahaan teknologi penyedia transportasi daring Grab Indonesia mengklaim mampu menurunkan tingkat tindak kecurangan (fraud) hingga di bawah satu persen pada akhir 2018.

"Dengan beragam upaya yang dilakukan, Grab berhasil menurunkan tingkat kecurangan secara signifkan dari platform kami di Indonesia pada semester terakhir 2018 hingga di bawah satu persen,"  kata Head of Public Affairs Grab Indonesia Tri Sukma Anreianno ketika dihubungi di Jakarta, Rabu.

Menurut dia, pihaknya akan terus melakukan penyempurnaan agar segala bentuk kecurangan terhadap sistem dapat dieliminasi.

Grab menerapkan algoritma machine learning yang bisa mengidentifikasi potensi kecurangan mitra pengemudi, memasang alat pendeteksi GPS palsu, serta membuka ruang pelaporan dugaan kecurangan.

Untuk itu, Grab bekerja sama dengan pihak berwajib melakukan penangkapan sindikat besar yang mengelola penipuan dan kecurangan menggunakan akun mitra pengemudi Grab.

Grab juga terus memperkuat program "Grab Lawan Opik" (order fiktif) dengan kepolisian, yang dalam program ini berhasil menangkap sindikat dan mitra pengemudi yang terbukti melakukan kecurangan di beberapa kota, seperti Jakarta, Makassar, Semarang, Surabaya, dan Medan.

Perkembangan bisnis transportasi berbasis teknologi (ride-hailing) di Indonesia berkembang pesat, tercermin dari jumlah mitra pengemudi online saat ini diperkirakan mencapai dua juta orang.

Saat ini, ada dua pemain besar di industri ride-hailing di Indonesia, yaitu Go-Jek dan Grab.

Menurut data terakhir, Go-Jek sudah beroperasi di 167 kota dan kabupaten Indonesia.

Sementara Grab memiliki cakupan yang lebih luas, mencapai 222 kota di seluruh Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.

Namun, dalam perkembangannya ride-hailing ternyata menimbulkan beberapa masalah, seperti fraud yang dilakukan oknum-oknum untuk mengeruk keuntungan pribadi.

Tindakan fraud seperti order fiktif, mencurangi posisi di global positioning system (GPS) atau yang sering disebut "tuyul", penjualan bahkan pencurian akun dan profil mitra pengemudi, dan masih banyak lagi.

Berdasarkan riset Indef periode 16 April-16 Mei 2018 terhadap 516 mitra pengemudi dari dua perusahaan transportasi online terbesar, yaitu Grab dan Gojek menunjukkan bahwa 42 persen responden mengatakan bahwa order fiktif paling banyak ditemukan di aplikasi Go-Jek, sedangkan Grab sebanyak 28,3 persen.

Survei order fiktif transportasi online ini dilakukan di Jakarta, Bogor, Semarang, Bandung, dan Yogyakarta.

Sementara itu, Group Deputy CEO Spire Research and Consulting Jeffrey Bahar mengatakan hasil studi terhadap 40 pengemudi dan 280 konsumen secara acak dalam skala nasional, diprediksi sebanyak 30 persen dari order yang diterima Go-Jek terindikasi fraud.

Angka itu lebih tinggi jika dibandingkan dengan persentase fraud Grab yang diperkirakan hanya lima persen.

"Hasil riset ini dapat menjadi gambaran bagaimana tindakan fraud sudah menjadi sesuatu yang cukup umum," ujarnya.

Baca juga: Grab nonaktifkan akun pengemudi terduga pelecehan seksual
Baca juga: Jokowi tanggapi curhat pengemudi ojek daring

 

Pewarta: Royke Sinaga
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Andong di Malioboro kini berbasis daring

Komentar