counter

Debat Capres

Kedua capres diuji untuk atasi "biang kerok" defisit neraca migas

Kedua capres diuji untuk atasi "biang kerok" defisit neraca migas

Foto udara kilang minyak blok Jambi Merang di Desa Kali Berau, Bayung Lencir, Musi Banyuasin, Sumsel, Sabtu (9/2/2019). Blok Jambi Merang yang telah dikelola 100 persen oleh Pertamina melalui anak usahanya PT Pertamina Hulu Energi diharapkan bisa mendukung pencapaian target produksi migas nasional dan sekaligus memberikan nilai tambah bagi industri dan masyarakat sekitar. ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/aww. (ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan)

...impor migas, termasuk di dalamnya impor minyak mentah dan BBM telah sangat membebani defisit neraca transaksi berjalan...
Jakarta (ANTARA News) - Kedua calon presiden akan ditantang mencetuskan solusi untuk penurunan impor migas dan juga lambatnya peningkatan eksplorasi minyak, di mana kedua masalah itu telah menjadi biang kerok defisit neraca migas yang sebesar 11,6 miliar dolar AS pada 2018.

Dihubungi Antara di Jakarta, Senin, Ketua Komisi VII DPR Gus Irawan Pasaribu mengatakan impor migas, termasuk di dalamnya impor minyak mentah dan Bahan Bakar Minyak (BBM) telah sangat membebani defisit neraca transaksi berjalan dan turut menguras cadangan devisa di 2018.

Baca juga: Flash - BI : transaksi berjalan defisit 2,98 persen PDB 2018

Ketika permintaan BBM dalam negeri terus meningkat, kata Gus Irawan, kegiatan eksplorasi sumber-sumber migas justeru terus menurun. "Produksi bukan lagi stagnan, tapi menurun. Itu akhirnya impor migas kita naik terus. Belum ada kebijakan signifikan bisa menaikkan 'lifting' minyak," kata Gus.

Politisi Gerindra itu mengatakan meningkatnya impor migas ini dalam beberapa tahun terakhir ini menjadi sumber keprihatinan mengenai ketahanan energi di Tanah Air.

Ekonom INDEF Bhima Yudhistira menilai impor migas dan lemahnya eksplorasi minyak di dalam negeri adalah masalah struktural yang harus dituntaskan presiden yang kelak akan terpilih untuk 2019-2024.

Menurut catatan Bhima, realisasi lifting minyak pada 2018 hanya 778 ribu barel per hari atau turun 3,21 persen dari 2017.

Dia memberi beberapa catatan bahwa iklim investasi di sektor migas harus dibenahi agar menarik investor untuk meningkatkan produksi dalam negeri. Pembangunan kilang juga mesti dipercepat, serta insentif dan kebijakan yang kondusif untuk energi baru dan terbarukan.

"Ini adalah masalah struktural. Kita menunggu ide-ide cerdas capres untuk menuntaskan masalah ini," ujarnya.

Berdasarkan statistik neraca transaksi berjalan untuk 2018, neraca perdagangan migas mengalami defisit hingga 11,6 miliar dolar AS/ Defisit tersebut disebabkan melejitnya impor migas hingga 29,2 miliar dolar AS, naik dari 22,9 miliar dolar AS pada 2017 ataupun dari 2016 ketika impor hanya 17,7 miliar dolar AS. Sementara ekspor migas pada 2018, hanya 17,6 miliar dolar AS.

Baca juga: BBM Satu Harga akan menjadi "bola panas" di debat capres




 

Pewarta: Indra Arief Pribadi
Editor: M Razi Rahman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ini alasan Prabowo-Sandi tidak ingin mengambil gaji

Komentar