counter

Kasus baru DBD mulai menurun

Kasus baru DBD mulai menurun

Sosialisasi Pemberantasan Sarang Nyamuk 3M Plus bersama maskot nyamuk di Jakarta Utara. (Humas Pemkot Jakarta Utara)

Jakarta (ANTARA News) - Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengatakan kasus baru demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia mulai menurun memasuki pertengahan Februari 2018 seiring kesadaran masyarakat yang mulai menjaga populasi nyamuk.

"Saya melihat peran dari masyarakat sekarang sudah meningkat. Artinya nyamuk itu kan berada di lingkungan kita dan kami sudah berulang kali mengingatkan, dan kelihatannya ini memang sudah disadari 3M itu," kata Nila di kantor Kemenko PMK Jakarta, Senin.

Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan per 9 Februari 2019, jumlah kasus penyakit DBD di seluruh Indonesia mencapai 18.106 orang dengan kematian 180 orang. 

Namun jumlah kasus baru penyakit DBD di seluruh Indonesia menurun menjadi di bawah 500 kasus per hari dibandingkan pada Januari yang bisa mencapai hampir 3000 kasus per hari dan rata-rata di atas 1000 kasus per hari.

"Beberapa banyak lingkungan yang sudah memperhatikan, angkanya mulai turun kalau saya lihat. Kita kerja sama yang baik, kebersihan lingkungan, tindakan kesehatan, pengobatan, mudah-mudahan teratasi," kata Nila.

Hingga saat ini wilayah Provinsi Jawa Timur masih menjadi yang tertinggi dalam hal kasus dan kematian akibat DBD. Beberapa daerah yang tinggi kasus suspek DBD ialah Jawa Timur, Jawa Barat, NTT, Lampung, Sulawesi Utara, Jawa Tengah, dan DKI Jakarta.

Nila mengatakan bahwa banyak kasus DBD terjadi pada anak-anak. Oleh karena itu ia mengingatkan agar pihak sekolah agar menguras air di toilet sekolah saat akhir pekan agar tidak menjadi sarang nyamuk.


Baca juga: Menkes minta kuras bak air sekolah menjelang libur


Menkes juga menyebut virus demam berdarah terus bermutasi sehingga vaksin untuk pencegahan DBD saat ini belum terlalu efektif untuk wilayah Indoneisa.

"Jeleknya virus ini sering bermutasi, sedangkan dengue ada empat tipe. Mungkin ada tipe-tipe lain yang ngga mudah kita nilai virus itu. Tipe 1, 2, 3, 4. Di Indonesia tipe 2, akibatnya vaksin itu susah dibuat karena dia akan berubah-ubah," kata Nila.*


Baca juga: Sempat KLB, kasus DBD di Kota Kupang-NTT terus menurun

Baca juga: Demam berdarah menyerang puluhan warga Palangka Raya


 

Pewarta:
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar