counter

Dampak alih fungsi, lahan pertanian di Madiun terus berkurang

Dampak alih fungsi, lahan pertanian di Madiun terus berkurang

Konversi Lahan Pertanian Sejumlah pekerja mengerjakan pembangunan gedung di areal persawahan pruduktif Winongo, Kota Madiun, Jatim, Senin (30/6). Data pemerintah menyebutkan rata-rata konversi lahan pertanian ke peruntukan lain mencapai 60 ribu hektar per tahun, berarti setiap tahun terjadi penyusutan lahan produktif 60 ribu hektar. (ANTARA FOTO/Siswowidodo)

Dampak berkurangnya lahan pertanian (sawah) tersebut membuat hasil produksi padi di Kota Madiun tidak mencukupi untuk kebutuhan warga setempat
Madiun, Jatim (ANTARA News) - Luas lahan pertanian di Kota Madiun, Jawa Timur, terus berkurang setiap tahunnya akibat alih fungsi lahan yang digunakan untuk bangunan perumahan dan pertokoan.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Madiun, Muntoro Danardono, Senin, di Madiun mengatakan, setiap tahun diperkirakan luas lahan pertanian di Kota Madiun rata-rata berkurang sebanyak 2 persen.

"Lahan pertanian di Kota Madiun mengalami penurunan seiring dengan penambahan permukiman warga dan alih fungsi lahan non-pertanian," katanya.

Data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Madiun mencatat, luas lahan produktif di Kota Madiun pada tahun 2016 mencapai 926 hektare, tahun 2017 turun menjadi 923 hektare, dan sampai akhir tahun 2018 menjadi 901 hektare.

Untuk menekan alih fungsi lahan, katanya, Pemkot Madiun sudah mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 6 tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang (RTRW) Wilayah Kota Madiun tahun 2010 hingga 2030.

Dalam perda tersebut terdapat lahan pertanian berkelanjutan yang dilarang untuk dialihfungsikan, yakni seluas 444 hektare hingga tahun 2030.

Adapun, wilayah yang ditetapkan untuk pengembangan kawasan pertanian tanaman pangan (sawah) sebagai lahan pertanian berkelanjutan, terdapat di daerah Kelurahan Kejuron, Pangongangan, Demangan, Kuncen, Josenan, Manguharjo, Kelun, Tawangrejo, dan Rejomulyo.

Muntoro menambahkan, dampak berkurangnya lahan pertanian (sawah) tersebut membuat hasil produksi padi di Kota Madiun tidak mencukupi untuk kebutuhan warga setempat.

Sesuai data, dalam setahun kebutuhan konsumsi beras masyarakat di Kota Madiun mencapai 13.800 ton. Sementara, beras hasil produksi pertanian yang mampu disediakan oleh petani Kota Madiun hanya sekitar 11.000 ton.

Untuk, kekurangannya itu, Kota Madiun bergantung pada pasokan wilayah tetangga, di antaranya Kabupaten Madiun, demikian Muntoro Danardono.

Baca juga: Bulog Madiun serap 24.000 ton beras petani

Baca juga: Puluhan hektare lahan padi di Madiun-Jatim diserang hama tikus

Pewarta: Louis Rika Stevani
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

BNN upayakan alih fungsi lahan ganja ke pertanian

Komentar