counter

Jokowi merasa lucu dinobatkan jadi Bapak Pariwisata Nasional

Jokowi merasa lucu dinobatkan jadi Bapak Pariwisata Nasional

Jokowi merasa lucu dinobatkan jadi Bapak Pariwisata Nasional (ANTARA/Hanni Sofia)

Jakarta (ANTARA News) - Presiden Joko Widodo merasa geli dan lucu saat dirinya dinobatkan sebagai Bapak Pariwisata Nasional oleh Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI).

Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam acara Gala Dinner Peringatan HUT ke-50 Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) di Puri Agung Convention Hall Jakarta, Senin malam, dinobatkan sebagai Bapak Pariwisata Nasional oleh organisasi tersebut.

Jokowi dianggap memiliki perhatian besar dan menerapkan kebijakan yang memihak sektor pariwisata bahkan sejak ketika masih menjabat sebagai Walikota Solo sampai menjadi Presiden RI.

Namun Jokowi mengaku penghargaan tersebut agak menggelikan di tengah iklim dan kondisi yang justru kurang menguntungkan bagi dunia pariwisata saat ini.

"Sebetulnya lucu juga dapat penghargaan Bapak Pariwisata Nasional tapi harga tiket baik dan ada menterinya yang melarang rapat di hotel. Yang penting bukan presidennya," katanya sambil tertawa dan disambut dengan tawa para hadirin yang sebagian besar merupakan para pelaku industri hotel dan restoran di Indonesia.

Jokowi mendapatkan penghargaan sebagai Bapak Pariwisata Nasional seiring dengan Hari Ulang Tahun ke-50 PHRI.

Anugerah tersebut disampaikan secara langsung oleh Ketua Umum PHRI Haryadi Sukamdani.

Haryadi Sukamdani menegaskan bahwa anugerah tersebut telah melalui berbagai pertimbangan secara obyektif dan pihaknya sama sekali tidak berharap keuntungan politik apapun.

"Pertimbangan obyektif bukan karena beliau sedang sibuk kampanye. Kami tidak mengharapkan keuntungan politis," katanya.

Presiden didampingi sejumlah pejabat di antaranya Menteri Pariwisata Arief Yahya, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, dan Sekretaris Kabinet Pramono Anung.

Baca juga: Presiden pastikan larangan rapat pemerintah di hotel tidak ditindaklanjuti
 

Pewarta: Hanni Sofia
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar