counter

Artikel

Tetap waspada pada DBD

Tetap waspada pada DBD

Ilustrasi - Petugas melakukan pengasapan sarang nyamuk di rumah warga Desa Tuban, Badung, Bali, Sabtu (9/2/2019). (ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/nym/hp.)

Bandarlampung (ANTARA News) - Dinas Kesehatan Lampung mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk tetap mewaspadai penyakit DBD karena masih tingginya frekuensi hujan di Provinsi Lampung.

Kepala Dinas Kesehatan Lampung, Reihana, menegaskan, masyarakat harus bisa lebih berhati-hati, karena musim hujan masih tinggi dan waspada DBD.

Menurutnya, terjadi peningkatan kasus DBD dalam 3 bulan terakhir yaitu 344 kasus (Desember), 1169 kasus (Januari) dan 27 kasus (di bulan Februari hingga 4 Februari). Dengan tingginya penyakit ini masyarakat harus bisa lebih waspada.

Dia melanjutkan, kematian akibat penyakit DBD di bulan Januari adalah 5 orang yaitu 2 orang dari Kabupaten Lampung Utara, 1 orang dari Kabupaten Lampung Tengah dan 2 orang dari Kabupaten Pringsewu.

Saat ini, pihaknya terus mengabarkan perlunya "1 rumah 1 jumantik". Artinya, diharapkan kesadaran penuh masyarakat untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di setiap rumah, dimana di setiap rumah tersebut ada 1 orang juru pemantau jentik (Jumantik) yang akan memantau jentik nyamuk di rumahnya. Apabila angka bebas jentik (ABJ) >90 persen maka penyebaran penyakit DBD akan menurun.

Reihana, menjelaskan, demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit demam akut yang disebabkan oleh virus dengue, yang menular dan masuk ke peredaran darah manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus (Aedes aegypti adalah vektor yang paling banyak ditemukan menyebabkan penyakit ini).

Nyamuk dapat membawa virus dengue setelah menghisap darah orang yang telah terinfeksi virus tersebut. Sesudah masa inkubasi virus di dalam nyamuk selama 8-10 hari, nyamuk yang terinfeksi dapat mentransmisikan virus dengue tersebut ke manusia sehat yang digigitnya. Nyamuk betina juga dapat menyebarkan virus dengue yang dibawanya ke keturunannya melalui telur (transovarial).

Penyebab utama penyakit demam berdarah adalah virus dengue, yang merupakan virus dari genus Flavivirus famili Flaviviridae. Terdapat 4 jenis virus dengue yang diketahui dapat menyebabkan penyakit demam berdarah. Keempat virus tersebut adalah DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. Penyakit ini bersifat musiman dan biasanya muncul pada musim hujan yang memungkinkan vektor penular hidup di genangan air bersih.

Gejala demam berdarah baru muncul saat seseorang yang pernah terinfeksi oleh salah satu dari empat jenis virus dengue mengalami infeksi oleh jenis virus dengue yang berbeda. Sistem imun yang sudah terbentuk di dalam tubuh, setelah infeksi pertama, justru akan mengakibatkan kemunculan gejala penyakit yang lebih parah saat terinfeksi untuk ke dua kalinya.

Seseorang dapat terinfeksi oleh sedikitnya dua jenis virus dengue selama masa hidup, namun jenis virus yang sama hanya dapat menginfeksi satu kali akibat adanya sistem imun tubuh yang terbentuk.

Demam berdarah menunjukkan gejala yang umumnya berbeda-beda tergantung usia pasien. Gejala yang umum terjadi pada bayi dan anak-anak adalah demam dan munculnya ruam.

Sedangkan pada pasien usia remaja dan dewasa, gejala yang tampak adalah demam tinggi, sakit kepala parah, nyeri di belakang mata, nyeri pada sendi dan tulang, mual dan muntah, serta munculnya ruam pada kulit. Penurunan jumlah sel darah putih (leukopenia) dan penurunan keping darah atau trombosit (trombositopenia) juga seringkali dapat diobservasi pada pasien demam berdarah.

Pada beberapa epidemi, pasien juga menunjukkan pendarahan yang meliputi mimisan, gusi berdarah, pendarahan saluran cerna, kencing berdarah (haematuria), dan pendarahan berat saat menstruasi.

Pasien yang menderita demam berdarah biasanya menunjukkan gejala seperti penderita demam berdarah klasik ditambah dengan empat gejala utama, yaitu demam tinggi, fenomena hemoragik atau pendarahan hebat, yang seringkali diikuti oleh pembesaran hati dan kegagalan sistem sirkulasi darah. 

Adanya kerusakan pembuluh darah, pembuluh limfa, pendarahan di bawah kulit yang membuat munculnya memar kebiruan, trombositopenia dan peningkatan jumlah sel darah merah juga sering ditemukan pada pasien DBD.

Salah satu karakteristik untuk membedakan tingkat keparahan DBD sekaligus membedakannya dari demam berdarah klasik adalah adanya kebocoran plasma darah.

Fase kritis DBD adalah setelah 2-7 hari demam tinggi, pasien mengalami penurunan suhu tubuh yang drastis. Pasien akan terus berkeringat, sulit tidur, dan mengalami penurunan tekanan darah. Bila terapi dengan elektrolit dilakukan dengan cepat dan tepat, pasien dapat sembuh dengan cepat setelah mengalami masa kritis. Namun, bila tidak, DBD dapat mengakibatkan kematian.

Penyakit demam berdarah didiagnosis dengan melihat gejala yang muncul, seperti demam tinggi dan munculnya ruam. Namun, karena gejala penyakit demam berdarah kadangkala sulit dibedakan dengan penyakit malaria, leptospirosis, maupun demam tifoid maka biasanya tenaga medis yaitu dokter akan terlebih dahulu mengecek sejarah kesehatan dan perjalanan pasien untuk mencari informasi kemungkinan pasien tergigit nyamuk.

Selain itu untuk mendapatkan ketepatan diagnosis yang lebih tinggi umumnya dilakukan berbagai uji laboratorium.



Pencegahan

Hingga kini, lanjut Reihana, belum ada vaksin atau obat antivirus bagi penyakit ini. Tindakan paling efektif untuk menekan epidemi demam berdarah adalah dengan mengontrol keberadaan dan sedapat mungkin menghindari vektor nyamuk pembawa virus dengue.

Pencegahan demam berdarah dapat dilakukan dengan melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dimana masyarakat dapat bergerak dengan melaksanakan gerakan 3M Plus, yaitu menguras dengan membersihkan tempat yang sering dijadikan penampungan air seperti bak mandi, ember, penampung air lemari es, vas bunga, dan lainnya.

Menutup rapat-rapat tempat penampungan air seperti drum, kendi, toren air dan memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi untuk jadi tempat berkembangbiaknya nyamuk demam berdarah.

Pemberian larvasida seperti bubuk abate pada tempat-tempat penampungan air untuk membunuh jentik nyamuk serta pengasapan (fogging) untuk membunuh nyamuk dewasa atau yang sudah bisa terbang berpindah.

Kepala Dinas Kesehatan Lampung itu mengatakan, fogging dilakukan bila hasil PE/Penyelidikan Epidemiologi+ (positif) yaitu bila ditemukan 1 atau lebih penderita/tersangka DB, atau ditemukan tiga atau lebih penderita panas tanpa sebab dan ditemukan jentik 5 persen maka fogging dilaksanakan dalam radius 200 meter di sekeliling tempat tinggal penderita dan dilakukan dua siklus dengan interval 1 minggu.

Fogging harus dilakukan dengan metode dan dosis tepat serta memperhatikan kesesuaian dengan arah angin sehingga berdampak lebih efektif.

Selain itu, nyamuk Aedes aktif di siang hari, karena itu beberapa tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah menggunakan senyawa anti nyamuk yang mengandung pikaridin atau minyak lemon eucalyptus, serta gunakan pakaian tertutup untuk dapat melindungi tubuh dari gigitan nyamuk bila sedang beraktivitas di luar rumah.

Selain itu, segeralah berobat bila muncul gejala-gejala penyakit demam berdarah sebelum berkembang menjadi semakin parah.

Reihana melanjutkan, ada beberapa antisipasi dan kegiatan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Lampung yaitu, memantau kasus-kasus penyakit menular yang berpotensi kejadian luar biasa (KLB) dimana salah satunya adalah penyakit DBD.

Pemantauan dilakukan secara berkala baik melalui laporan rutin (Surveilans) secara berjenjang maupun via telepon dengan pengelola program di 15 kabupaten/kota.

Berkoordinasi dengan meningkatkan peran fasilitas pelayanan kesehatan puskesmas dan rumah sakit dalam penemuan kasus, penegakan diagnosa dan tata laksana kasus ditingkatkan melalui sosialisasi, ceramah klinik, dan distribusi buku pedoman di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan.

Secara rutin dan kontinyu mengajak masyarakat melakukan pemberantasan sarang nyamuk dengan gerakan 3M Plus. Upaya pencegahan dan penanggulangan DBD juga sangat memerlukan kerja sama lintas program dan lintas sektor terkait serta peran media untuk menyosialisasikannya.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah mencukupi kebutuhan logistik penanggulangan DBD, yaitu insektisida, larvasida, mesin fogging, baik di kabupaten/kota maupun provinsi sebagai penyedia buffer stock apabila kabupaten/kota mengalami kekurangan.

Pemerintah telah berupa agar masyarakat terhindar atau tak terdampak DBD. Meski nyamuk sebagai vektor penyakit tersebut tidak bisa dimusnahkan semuanya, namun pencegahan dan pemberatasan harus terus dilakukan.

Yang sangat perlu diperhatikan, kesiapan masyarakat, maukah mengikuti anjuran pemerintah itu?*


Baca juga: Kemenkes kirim 100 dus alat tes cepat DBD ke Papua

Baca juga: TNI-AU-Dinkes kerja sama kirim logistik tanggulangi DBD di Papua

Baca juga: Swasta dilarang lakukan "fogging"




 

Pewarta: Triono Subagyo dan Emir FS
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Permintaan trombosit darah di Sultra meningkat

Komentar