Sementara itu, pada triwulan I 2019, harga rumah diperkirakan meningkat sebesar 0,42 persen, terutama disebabkan oleh kenaikan harga bahan bangunan dan upah tenaga kerja.
Jakarta (ANTARA News) - Kenaikan harga properti residensial di pasar primer pada triwulan IV 2018 melambat yang tercermin dari Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) yang tumbuh 0,35 persen, lebih rendah dibandingkan Indeks triwulan sebelumnya yang tumbuh 0,42 persen.

Menurut Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) yang menyampaikan hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) BI di Jakarta, Selasa, perlambatan kenaikan harga properti residensial tersebut bersumber terutama dari rumah tipe kecil. 

Sementara itu, pada triwulan I 2019, harga rumah diperkirakan meningkat sebesar 0,42 persen, terutama disebabkan oleh kenaikan harga bahan bangunan dan upah tenaga kerja.

Dijelaskan, pada triwulan IV-2018, penjualan properti residensial turun 5,78 persen, namun masih lebih baik dibandingkan dengan penjualan pada triwulan sebelumnya yang turun 14,14 persen .

Penurunan penjualan terjadi pada rumah tipe kecil dan besar, sedangkan penjualan rumah tipe menengah masih mengalami peningkatan.

Hasil survei mengindikasikan bahwa penggunaan dana internal memiliki porsi besar dalam pembangunan properti residensial. 

Porsi penggunaan dana internal pengembang pada triwulan IV 2018 sebesar 58,02 persen, meningkat dibandingkan dengan porsi pada triwulan sebelumnya sebesar 55,73 persen.

Di sisi lain, porsi penggunaan pinjaman dari perbankan oleh pengembang properti pada triwulan IV 2018 turun menjadi 31,18 persen, dari 33,95 persen pada triwulan sebelumnya. 

Sementara itu, persentase konsumen yang melakukan pembelian rumah dengan menggunakan KPR tetap tinggi yaitu  76,73 persen pada triwulan IV 2018.
 

Pewarta: Ahmad Buchori
Editor: M Razi Rahman
Copyright © ANTARA 2019