counter

Perlunya persiapan matang sebelum memiliki anak

Perlunya persiapan matang sebelum memiliki anak

Ilustrasi menjadi ibu baru (Shutterstock)

Jakarta (ANTARA News) - Para calon orang tua diharapkan mempersiapkan segala hal secara matang sebelum memiliki anak karena akan muncul tantangan besar dalam membesarkan hingga mendidik sang buah hati, menurut psikolog klinis keluarga, Monica Sulistiawati.

Ia mengatakan, memiliki seorang anak juga membutuhkan kesepakatan kedua belah pihak dalam hal ini suami dan istri. Apabila salah satunya tidak siap, akan berpengaruh pada psikologis anak di kemudian hari.

Baca juga: Perlunya "support system" untuk ibu baru

"Orang tua itu sebenarnya enggak siap jadi orang tua. Karena rata-rata kalau sudah menikah ya punya anak, tiba-tiba jadi ibu. Makanya sebelum punya anak harus disiapkan matang-matang," ujar Monica dalam kampanye Mothercare “Senangnya Jadi Ibu” di Jakarta, Selasa.

"Punya anak itu banyak sebabnya, ada yang tuntutan umur, tuntutan orang tua atau omongan orang karena dianggap jelek kalau enggak punya anak. Ketidaksiapan si ibu ini akan mempengaruhi anak di kemudian hari,” lanjut Monica

Baca juga: Pola asuh "positive parenting" untuk generasi milenial

Menurut Monica, suami istri harus saling berkomunikasi apakah keduanya sudah siap memiliki anak atau belum. Jangan sampai, hanya satu pihak saja yang menginginkan kehadiran anak.

"Harus ada kesepakatan, sudah siap belum untuk memiliki anak. Jangan sampai yang suaminya mau punya anak, istrinya belum mau. Jadi orang tua memang tidak ada sekolahnya tapi memiliki anak itu butuh persiapan yang sangat matang. Kalau enggak siap lebih baik enggak punya anak,” jelas Monica.

Baca juga: Mendongeng bisa dimulai sejak anak masih di kandungan

Ketika sudah menjadi orang tua, Monica juga menyarankan agar tidak perlu menjadi perfeksionis. Sebab, orangtua juga bisa melakukan kesalahan.

"Makanya saya enggak bilang mengurus anak itu, enggak gampang tapi bukan berarti susah juga. Saya lebih senang bilang challenging. Santai saja, asuh anak sebaik-baiknya dan tidak perlu jadi perfeksionis untuk anak. Direktur perusahaan besar saja enggak bisa kok mengurus semua hal. Jadi rileks saja,” kata Monica.

Baca juga: Mendongeng dan membaca nyaring, apa bedanya?

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar