counter

Empat jenis penyu ditangkarkan nelayan Bengkulu

Empat jenis penyu ditangkarkan nelayan Bengkulu

Konservasi Penyu Berbasis Swadaya Relawan sekaligus penjaga pulau tikus Kusnadi (kiri) dan Fery Aurora (kanan) membersihkan kolam konservasi tukik jenis sisik (Eretmochelys Imbricata) yang terbuat dari terpal di penangkaran penyu sementara Pulau Tikus, Bengkulu, Rabu (23/8/2017). Nelayan bersama penjaga Pulau Tikus yang masuk dalam wilayah Distrik Navigasi kelas I Tanjung Periuk di Bengkulu melakukan konservasi anak penyu (tukik) jenis sisik (Eretmochelys imbricata) dengan cara swadaya dan fasilitas seadanya sejak satu tahun terakhir tanpa fasilitas penunjang dengan potensi tukik melebihi 2.000 ekor/ tahunnya. (ANTARA FOTO/David Muharmansyah)

Sebanyak 450 ekor anak penyu atau disebut tukik sudah dilepasliarkan
Bengkulu, (ANTARA News) - Zulkarnedi, seorang nelayan di Desa Pekik Nyaring, Kabupaten Bengkulu Tengah, Provinsi Bengkulu menangkarkan empat jenis penyu di penangkaran sederhana yang dibangun di sekitar pantai Pekik Nyaring.

"Awalnya kami mendapat bimbingan tentang hewan laut yang dilindungi, ternyata penyu termasuk salah satu hewan laut yang langka," kata Zulkarnedi saat ditemui di area penangkaran penyu di Pekik Nyaring, Kamis.

Penangkaran penyu mulai ia bangun pada 2016 dengan dorongan untuk pelestarian sebab selama ini masyarakat sekitar desa itu hanya mengetahui penyu sebagai hewan laut.

Awalnya, kata dia, hanya ada satu jenis penyu yang ditangkarkan yakni penyu lekang (Lepidochelys olivacea) lalu ditemukan telur jenis penyu lainnya seperti penyu sisik (Eretmochelys imbricata) dan penyu hijau (Chelonia mydas) serta terakhir jenis penyu belimbing (Dermochelys coriacea).

Penangkaran penyu sisik dan penyu hijau dimulai pada 2017 setelah ia mengamankan telur-telur penyu tersebut dari Pantai Pekik Nyaring dan sekitarnya. Selanjutnya, pada awal 2019 ia pun menangkar jenis penyu belimbing yang saat ini sedang dalam proses pengeraman.

Menurut Zulkarnedi, penangkaran penyu yang dilakukan sendiri itu merupakan bagian dari balas budi terhadap alam di mana selama ini nelayan hanya fokus mencari dan menangkap ikan.

"Nelayan di sini hanya tahunya menangkap ikan saja sehingga saya tergerak untuk membudidayakan hewan laut yang sudah langka ini," ujarnya.

Sejak awal menangkar penyu, ia sudah melepasliarkan sebanyak 450 ekor anak penyu atau disebut tukik. Kini lanjut Karnedi, ia mendapat dukungan dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) kemudian dukungan dari mahasiswa pecinta alam yang mendukung untuk mengumpulkan donasi pelestarian penyu.

Ia berharap penangkaran penyu ini nantinya bisa menjadi objek wisata edukasi bagi generasi muda khususnya untuk mengenal hewan laut yang dilindungi.

Baca juga: Komunitas tangkarkan 170 telur penyu di Bengkulu

Baca juga: Puluhan tukik dilepasliarkan di Pantai Panjang Bengkulu

Pewarta: Helti Marini S
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

127 telur penyu menetas di hari lahir Pancasila

Komentar