Pertumbuhan industri kopi diharapkan dorong lahirnya lebih banyak petani kopi milenial

Pertumbuhan industri kopi diharapkan dorong lahirnya lebih banyak petani kopi milenial

ILUSTRASI - Petani memanen buah kopi robusta di Desa Mekarmanik, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (9/8/2018). (ANTARA FOTO/Nurul Ramadhan)

Jakarta (ANTARA News) -- Wakil Ketua Umum Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) Pranoto Soenarto mengatakan,  pesatnya pertumbuhan industri kopi di tanah air turut berdampak pada lahirnya lebih banyak petani kopi, khususnya di kalangan generasi milenial. 

"Bisa dilihat dari menjamurnya kedai kopi dan pusat penyangrai kopi mikro (micro coffee roastery) di hampir seluruh kota besar di Indonesia. Tentunya, diharapkan akan banyak anak muda yang beralih menjadi petani kopi," tutur Pranoto di Jakarta, Kamis.

Kopi Indonesia punya nama yang mengkilat di industri kopi dunia. Indonesia merupakan produsen kopi terbesar keempat dunia setelah Kolombia, Vietnam, dan Brazil. Tak kalah penting, banyak kopi Indonesia yang diakui kualitasnya di seluruh dunia, diantaranya kopi Gayo, Toraja, dan Flores.

Pranoto melanjutkan, pihaknya menilai, keterlibatan anak muda dalam mendorong perkembangan industri kopi menjadi faktor kunci dan turut mengapresiasikan strategi pemerintah melalui Kementerian Pertanian dalam mendorong generasi muda untuk terjun di industri kopi, tak hanya sebagai penikmat tapi juga sebagai produsen.

“Sudah sepatutnya ada regenerasi, namun dengan syarat harus bisa memberi pemasukan yang bisa diandalkan. Orang-orang akan banyak masuk ke situ kalau pekerjaan itu dapat menjamin hidup mereka,” tambah Pranoto.

Kementan tengah melakukan upaya-upaya agar usaha pertanian semakin menarik bagi generasi muda. Pada akhir Januari lalu misalnya, melalui Badan Penyuluh dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pertanian, Kementan meluncurkan gerakan Santri Tani di Lapangan Pasar Munding, Desa Kamulyaan, Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Ketika itu Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan peluncuran ini sekaligus rangkaian pengembangan program gerakan 1 juta petani milenial yang tersebar di seluruh Indonesia.
                                                                   “Pemerintah juga sudah melakukan upaya lain seperti bimbingan teknik budidaya pertanian, demonstration plot, dan distribusi sarana produksi seperti benih padi, kopi, tanaman perkebunan seperti cabai sayuran dan buah-buahan dengan alat Alsinta berupa traktor,’ ujar Amran.

Pengembangan 1 juta petani milenial sudah mengalami berbagai kemajuan. Di Jawa Barat sendiri, pemerintah telah melibatkan 24.000 santri tani yang tergabung dalam 800 kelompok santri tani. Menurutnya sejauh ini, santri tani sudah tersebar di seluruh provinsi mulai dari Aceh sampai Papua.

Pewarta: PR Wire
Editor: PR Wire
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Curhatan barista tuli: Saya ingin dengar suara azan

Komentar