Audisi bulutangkis Djarum diduga eksploitasi anak

Audisi bulutangkis Djarum diduga eksploitasi anak

Dari kiri ke kanan: Ketua Yayasan Lentera Anak Lisda Sundari, moderator Tubagus Haryo Karbyanto, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia Sitti Hikmawatty, psikolog Liza Djaprie dan kriminolog Hamid Patilima dalam jumpa pers tentang dugaan eksploitasi anak dalam Audisi Djarum Beasiswa Bulutangkis di Jakarta, Kamis (14/2/2019). (ANTARA/Dewanto Samodro)

Anak-anak yang menjadi peserta audisi diwajibkan mengenakan kaos dengan logo produk rokok
Jakarta (ANTARA News) - Audisi Djarum Beasiswa Bulutangkis yang telah diselenggarakan selama 10 tahun dengan melibatkan anak-anak berusia enam tahun hingga 15 tahun diduga mengeksploitasi anak untuk mempromosikan produk rokok.

"Anak-anak yang menjadi peserta audisi diwajibkan mengenakan kaos dengan logo produk rokok. Tubuh anak telah digunakan untuk mempromosikan rokok," kata Ketua Yayasan Lentera Anak Lisda Sundari dalam jumpa pers di Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Jakarta, Kamis.

Lisda membandingkan biaya yang harus dikeluarkan industri rokok untuk beriklan menggunakan spanduk atau media luar griya lainnya, dengan biaya yang jauh lebih murah bila menggunakan kaos yang dipakai anak-anak peserta audisi tersebut.

Karena itu, Lisda menuding alih-alih untuk mencari bibit-bibit olahragawan berprestasi, audisi tersebut lebih bertujuan untuk mempromosikan produk rokok.

"Apalagi, selama 10 tahun penyelenggaraan audisi dengan melibatkan 23.683 anak, hanya 245 anak saja yang akhirnya mendapatkan beasiswa," tuturnya.

Komisioner KPAI Bidang Kesehatan dan Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif (NAPZA) Sitti Hikmawatty mengatakan anak telah dieksploitasi dalam bisnis industri rokok sejak dari hulu hingga hilir.

"Anak-anak dieksploitasi sejak dari pertanian tembakau hingga dalam iklan, promosi dan sponsorship mereka," katanya.

Psikolog Liza Marielly Djaprie mengatakan audisi tersebut bertujuan membangun persepsi pada anak-anak bahwa rokok adalah hal yang normal dan baik.

"Persepsi tersebut akan masuk ke dalam memori anak, tinggal menunggu waktu saja mereka akan mulai mencoba rokok dan menjadi konsumen baru. Industri rokok akan selalu mencari regenerasi konsumen," jelasnya.

Liza mengatakan otak anak bagaikan spons yang menyerap informasi yang diterima sesuai dengan yang disampaikan. Bila rokok dipersepsikan sebagai bulutangkis dan pemberi beasiswa, mereka akan menerima seperti itu.

Sementara itu, kriminolog Hamid Patilima mengatakan rokok telah melemahkan negara dari sisi tumbuh kembang anak. Audisi bulutangkis tersebut akan membawa dampak besar bagi negara.

"Bisa mencetak juara yang berprestasi, tetapi di sisi lain juga akan melemahkan negara. Negara harus bertindak," katanya. 

Baca juga: Peringatan Hari Anak di Pasuruan dikritik karena disisipi promosi rokok
Baca juga: 23 bibit unggul raih beasiswa bulutangkis Djarum

 

Pewarta: Dewanto Samodro
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Moeldoko kunjungi PB Djarum pastikan isu eksploitasi anak

Komentar