counter

Artikel

Yabes Roni dan kebangkitan sepak bola NTT

Yabes Roni dan kebangkitan sepak bola NTT

Pesepak bola Bali United asal NTT, Yabes Roni Malaifani (kiri), berebut bola dengan pemain Borneo FC Abdul Rachman (bawah) dalam pertandingan Sepak Bola Liga 1 di Stadion I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Kamis (25/10/2018). ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana/hp.

Kupang (ANTARA News) - Sepak Bola Provinsi Nusa Tenggara Timur bisa dibilang mati suri dalam beberapa tahun terakhir. Berbagai persoalan klasik membuat wajah sepak bola di provinsi berbasis kepulauan itu lesu dan hilang begitu saja.

NTT selalu saja menjadi provinsi partisipatif dalam berbagai ajang nasional yang digelar oleh Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI).

Hal ini disebabkan oleh minimnya fasilitas yang memadai, seperti lapangan sepak bola yang tidak sesuai standar, sarana latihan serta alasan-alasan lainnya seperti anggaran dalam pembinaan sepak bola di provinsi itu.

Tak hanya itu pembinaan usia dini juga jarang sekali dilakukan, bahkan kompetisi sepak bola usia dini guna menjaring bakat-bakat muda juga tidak pernah dilakukan.

Sepak Bola NTT sepertinya mulai bangkit setelah kemunculan Yabes Roni M mantan pemain Timnas U-19 asuhan Indra Sjafri.

Kemunculannya di Timnas seolah membuka mata seluruh pecinta bola, penggiat sepak bola untuk duduk bersama membuat sesuatu agar muncul Yabes-Yabes baru yang dapat membawa nama NTT ke kancah internasional.

Anak-anak muda di NTT khususnya di Kupang, berlomba-lomba menjadi pemain sepak bola agar kelak bisa menjadi pesepak bola seperti Yabes.

Penggiat sepak Bola di NTT Piter mengakui hal tersebut. Menurut dia, kehadiran Yabes Roni putra kelahiran pulau Kenari Alor itu seperti menghipnotis seluruh anak-anak muda NTT.

"Saya setuju jika memang disebut bahwa Yabes adalah sosok pesepak bola asli NTT yang menjadi motivator bagi anak-anak muda di NTT ini untuk mulai mengenal bola kaki," ujarnya.

Menurut dia kehadiran Yabes membuat anak-anak muda di NTT tahu bahwa mencari rejeki itu bisa juga melalui sepak bola.

Persoalan klasik yang ditemui selama beberapa tahun terakhir mulai dicari solusinya bersama-sama.

Beberapa pecinta sepak bola membuat sebuah grup yang disebut dengan Masyarakat Gila Bola (MasGibol) NTT. Hasilnya cukup luar biasa.

Sejak tahun 2016 hingga 2018 muncul beberapa Sekolah Sepak Bola (SSB) di NTT yang bertujuan untuk membina para pemain muda, khususmya usia dini sehingga kelak bermanfaat bagi sepak bola NTT.

Hasilnya dalam dua tahun terakhir perkembangan sepak bola NTT cukup mempunyai nama di kancah nasional.

Pada tahun 2017 NTT sempat menyumbang delapan pemainnya untuk ikut seleksi timnas Indonesia mulai dari Timnas U-22 Yabes Roni Malaifani (Alor), Timnas U-19 Aldo Leki dan Fladiano Soares dari SSB Bintang Timur Atambua, Gery Sae dari Ngada, Abdul Hamid dan Endong Tirtayasa Flores Timur, serta Muhamad Junedin dari Kota Kupang.

Kemudian juga timnas U-15 Ruslan Bale Esa (Alor). Usia-16 Paulinus Gabriel Ati (SSB Bintang Timur Atambua).

Kemudian juga yang merumput klub-klub besar Liga I Ada juga pemain NTT yang sekarang merumput di beberapa klub tanah air. Di Bali United ada Yabes Roni Malaifani (Alor) dan Yunius Bate dari Ngada, kemudian Alfonsius Kelvan dari Ngada bersamai untuk Persebaya Surabaya, sementara di Bhayangkara FC ada Alsan Sanda asal Kota Kupang.

Satu pemain NTT Lius Mauloko saat ini bersama klub liga dua Australia Westren Knight FC.

Serta masih banyak pesepak bola NTT yang bertalenta karena pembinaan yang mulai baik yang dilakukan oleh para pecinta bola di NTT.

Walaupun sudah mulai membaik, hingga saat ini NTT belum mempunyai klub sepak bola sendiri seperti provinsi-provinsi lain di NTT.

Padahal NTT mempunyai talenta-talenta yang mumpuni yang mampu bersaing dengan para pesepak bola dari luar NTT.

Nama-nama yang sudah disebutkan di atas adalah contoh dari para pesepak bola asal NTT yang mampu bersiang di level nasional.

"Secara klub memang kita belum ada. Tetapi kalau dari sisi individu pemain-pemain kita bisa bersaing dengan peamin dari luar NTT," tamabh Piter.



Liga Berjenjang

Beberapa waktu lalu, PSN Ngada salah satu klub dari Kabupaten Ngada sempat mewakili NTT dalam turnamen Liga 3.

Perwakilan NTT ini performanya cukup apik selama pertandingan di Liga 3 walaupun kalah di babak 16 besar Liga 3 tersebut.

Untuk mewakili NTT banyak pemain bertalenta yang bisa bermain bersama membawa nama NTT.

Hal ini karena minimnya kompetisi yang dilakukan oleh Persatuan Sepak Bola Selurh Indonesia (PSSI) di NTT.

Persoalan klasik lain yang selalu saja menjadi kendala dalam pembangunan sepak bola di NTT diantaranya seperti sarana prasarana, fasilitas latihan, pelatih berlisensi serta berbagai alasan lainnya.

Pengiat sepak bola lainnya David Furbertus menilai bahwa selama ini banyak pemain muda NTT yang berprestasi di level Nasional, namun sayangnya tak dibarengi dengan perhatian dari PSSI NTT, Asisten Kabupaten (Askab) serta Asisten Kota (Askot).

Selama ini, kata dia, banyak pemain yang lahir dari sektor SSB swasta saja, sementara peran liga berjenjang di NTT masih belum ada.

Bahkan Kota Kupang tak pernah menyelenggarakan liga remaja, kalaupun dijalankan itu berasal dari pengiat sepak bola di NTT.

Selama ini yang menjalankan liga remaja hanyalah Askab Flores Timur, mulai dari liga divisi 1 dan liga divisi 2.

"Hal ini seharusnya bisa diikuti oleh askab-askot lainnnya di NTT, mengingat hal ini demi tumbuh kembang sepak bola di NTT," ujar dia.

Bagi dia, sama saja jika selama ini pembinaan usia dininya berjalan dengan baik, tetapi tidak dilanjutkan dengan liga remaja, maka bakat-bakat muda akan hilang begitu saja.



Kiblat dari Timur

Para pemain sepak bola dari Nusa Tenggara Timur bisa dikatakan memiliki potensi untuk bertarung dalam industri sepak bola nasional.

Maka tak heran jika beberapa nama seperti Yabes, Alsan Sanda di Bhayangkara FC, Billy Keraf dan beberapa pemain usai dini lainnya mulai dilirik oleh klub klub papan atas nasional.

Lihat saja, pelatih PSM Makassar Robert Rene Albert pada tahun 2017 lalu mencari bakat-bakat bertalenta asal NTT.

Hasilnya Dominikus R. Lede Dari Sumba Barat Daya (SBD) yang berposisi sebagai pemain sayap kiri dan Leoricho M. Malaikosa dari Kota Kupang berposisi sebagai pemain belakang kiri lolos seleksi.

Disamping itu juga mantan Pelatih Bali United FC juga sempat melakukan pencarian bakat pemain muda di NTT.

Indra Sjafrie, pelatih Timnas U-19, mengawali debutnya sebagai pelatih Timnas saat ini dengan melakukan seleksi pemain U-19 mulai dari NTT.

Diharapkan Indra datang lagi secara khusus menyeleksi pemain-pemain U-19 di Kabupaten Ngada, mengingat Ngada adalah barometer sepakbola NTT yang banyak melahirkan pemain-pemain bertalenta.*


Baca juga: Yabes Roni dihadiahi rumah oleh Pemprov NTT

Baca juga: Dunia pun soroti foto doa lintas agama tiga pemain Bali United



 

Pewarta: Kornelis Kaha
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar