Artikel

Hiperdrosis, "banjir" keringat

Hiperdrosis, "banjir" keringat

Ilustrasi - Pebulu tangkis tunggal putra Indonesia Anthony Sinisuka Ginting menyeka keringat saat melawan pebulu tangkis tunggal putra Cina Chen Long pada pertandingan babak semifinal Piala Thomas 2018 di Impact Arena, Bangkok, Jumat (25/5/2018). (ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari)

Oleh dr Dito Anurogo MSc *)

Hippocrates menggunakan istilah hidroa untuk berkeringat, yang diterjemahkan dari bahasa Yunani kuno menjadi Latin dan bahasa Inggris menjadi sudamina.

Keduanya juga berarti hidrosis dan fungsi sudomotor. Hiperhidrosis berasal dari kata hyper (berlebihan) dan hidrosis (keringat), sehingga berarti kondisi dimana terjadi keringat berlebihan, biasanya di daerah ketiak, telapak tangan, dan telapak kaki. Atau peningkatan sekresi kelenjar ekrin, yang berperan di dalam mengatur suhu tubuh, oleh karena berbagai sebab.

Ada berbagai terminologi medis untuk hiperhidrosis. Misalnya hyperhidrosis, hyperidrosis, polyhidrosis, excessive sweating, excess sweating, abnormally increased perspiration. Istilah awamnya adalah keringat berlebihan atau banjir keringat.

Jika keringat berlebihan terjadi di wajah-kepala, disebut hiperhidrosis fasialis/kraniofasialis. Jika terjadi di telapak tangan, disebut hiperhidrosis palmaris.

Jika terjadi di ketiak, disebut hiperhidrosis aksilaris, jika terjadi di telapak kaki, disebut hiperhidrosis plantaris. Kondisi hiperhidrosis satu sisi (unilateral), kemerahan (flushing) terutama ditimbulkan oleh panas atau olahraga dinamakan juga sindrom Harlequin.

Di USA, prevalensi hiperhidrosis primer sebesar 2,8 persennya atau 7,8 juta penduduk dan sebanyak 1,5 persennya atau 4 juta penduduk terjadi di ketiak.

Prevalensi hiperhidrosis palmaris (berkeringat di telapak tangan) pada populasi pemuda Israel, prevalensi hiperhidrosis palmaris (berkeringat di telapak tangan) sebesar 0,6-1 persen.

Umumnya mengenai usia 25-64 tahun, dan sekitar 30-50 persen memiliki riwayat keluarga, sehingga ada kecenderungan genetik. Adapun mulai timbulnya (onset) hiperhidrosis primer terjadi pada usia 14-25 tahun.

Bila timbul sebelum berusia 20 tahun, biasanya terdapat (minimal) satu anggota keluarga yang juga menderita hiperhidrosis. Yang pasti, hiperhidrosis dapat menyerang semua usia, anak-anak dan dewasa, pria dan wanita.

Terdapat sekitar 2 juta sampai 5 juta kelenjar keringat di tubuh manusia. Memahami keringat berlebihan di tangan dan di kaki dimulai dengan memahami interaksi yang kompleks antara proses "berkeringat termoregulator dan emosional".

Pengaturan proses "berkeringat termoregulator" dikendalikan oleh daerah preoptic hipotalamus, sedangkan proses "berkeringat emosional" dikendalikan oleh anterior cingulate cortex.

Ganglia torakal kedua (T2) dan ketiga (T3) bertanggung jawab untuk hiperhidrosis palmaris (di telapak tangan), ganglia torakal keempat (T4) mengendalikan hiperhidrosis aksilaris (di ketiak), ganglia torakal pertama (T1) mengontrol hiperhidrosis fasialis (di wajah).

Hiperhidrosis primer disebabkan karena overaktivitas saraf simpatik atau kelenjar keringat, berlebihannya fungsi sistem saraf sudomotor sentral. Bukti terbaru menyatakan kromosom 5 dan 14, serta lokus 5q11.2 dan 14q11.2q13 bertanggung jawab atas hiperhidrosis.

Sedangkan penyebab hiperhidrosis sekunder, antara lain penyakit yang berkenaan dengan jantung dan paru-paru, infark miokard akut, gagal jantung, gagal nafas (respiratory failure).

Infeksi, misalnya tuberculosis (TBC), malaria, infectious endocarditis, brucellosis, HIV. Gangguan hormonal/endokrin, seperti diabetes melitus, hipertiroidisme, hipoglikemia, gout, menopause, obesitas, akromegali, tirotoksikosis.

Gangguan persarafan, misalnya stroke, Parkinson disease, neuropati perifer (gangguan saraf tepi), kondisi setelah cedera tulang belakang (post spinal injury). Penyakit ganas, seperti limfoma, leukemia, renal cell carcinoma, Castleman disease. Agen biokimiawi, seperti inhibitor asetilkolinesterase, senjata kimia, pestisida.

Obat-obatan, seperti aspirin, insulin, amfetamin, efavirenz, propranolol, physostigmine, pilocarpine, golongan antidepresan trisiklik, golongan SSRI atau selective-serotonin reuptake inhibitor (seperti fluoxetine). Juga pada keracunan dan kecanduan alkohol, baik akut (singkat) maupun kronis (menahun).

Untuk hiperhidrosis craniofacial (banjir keringat di wajah-kepala), dipicu oleh panas, emosi, atau makanan yang pedas.


Potret Klinis

Terlihat jelas keringat berlebihan yang berlangsung minimal enam bulan, di organ tubuh tertentu, seperti di telapak tangan, ketiak, lipat paha, telapak kaki. Jika, terjadi di ketiak, jarang menimbulkan bau.

Telapak tangan penderita hiperhidrosis cenderung berkeringat di lingkungan yang panas di mana telapak tangan orang normal tidak berkeringat. Wajah berkeringat setelah minum atau makan yang pedas, terutama di bibir atas dan pipi. Berhenti berkeringat jika sedang tidur. Pertama kali terjadi sebelum berusia 25 tahun. Minimal terjadi sekali dalam seminggu. Bentuk yang jarang dapat terjadi di kepala dan di lutut.

Gangguan yang diturunkan secara autosomal dominant ini membuat penderitanya malu saat berjabat tangan, merasa sedih, tertekan, dan minder di dalam pergaulan, sering berganti pakaian, kaus kaki dan sepatu menjadi lembab dan berbau tak sedap.

Ini tentu amat mengganggu aktivitas sehari-hari. Bila berlangsung terus-menerus atau menahun, maka penderita dapat merasa kurang percaya diri. Banjir keringat di daerah telapak tangan dan telapak kaki (palmoplantar hyperhidrosis) juga dialami peminum alkohol menahun.

Pemeriksaan darah atau urin untuk menentukan apakah kondisi hiperhidrosis disebabkan oleh tiroid yang overaktif (hyperthyroidism) atau gula darah yang rendah (hypoglycemia).

Bila fasilitas memadai, tes keringat thermoregulatory dapat dilakukan dokter dengan menaburkan bedak khusus ke kulit. Bedak akan berubah warna dari kuning-hijau menjadi ungu gelap di kulit yang mengalami hiperhidrosis pada suhu kamar.

Hasil tes ini berguna untuk menentukan terapi yang tepat. Tes ini merupakan modifikasi dari Guttman quinizarin sweat test.

Tes lain untuk memperjelas daerah yang menderita hiperhidrosis adalah iodine starch test, yaitu dengan menyemprotkan campuran 0,5-1 gram kristal yodium dan 500 gram tepung atau amilum yang terlarut, area yang memproduksi keringat akan berubah menghitam.

Analisis gravimetric, dynamic sudorometry, tes ninhydrin, visual analog scale (VAS) juga digunakan untuk menilai output keringat dan respons terapi hiperhidrosis. Jika diperlukan, dapat dipakai electroencephalogram (EEG), akan terlihat gambaran EEG abnormal, yaitu gelombang tajam dan korteks frontal hiperperfusi.


Diagnosis Banding

Dalam menegakkan diagnosis hiperhidrosis, tim medis perlu berhati-hati. Menurut Ferri FF di dalam Ferri`s Clinical Advisor 2019, terdapat setidaknya 50 kondisi yang merupakan diagnosis banding hiperhidrosis.

Pelbagai kondisi tersebut secara umum dibedakan menjadi dua, yakni kortikal dan hipotalamus. Hiperhidrosis kortikal boleh jadi terdiagnosis dokter sebagai sindrom Nail-patella, sindrom Jadassohn-Lewandowsky, disautonomia familial, epidermolisis bullosa, eritroderma iktiosiformis kongenital, keratoderma palmoplantar, pakionikia kongenital, atau kondisi emosional.

Hiperhidrosis hipotalamik terjadi akibat perubahan aliran darah (sindrom blue rubber bleb nevus, sindrom Mallucci, sindrom Klippel-Trenaunay, fistula arteriovenous, tumor glomus), gangguan kardiovaskuler (syok, gagal jantung), gangguan metabolisme (diabetes mellitus, debilitas, hiperpituitarisme, hipertiroidisme, hipoglikemia, obesitas, porfiria, kehamilan, rakhitis, dsb).

Selanjutnya, gangguan spinal (transeksi tulang belakang, siringomielia), gangguan medullary (ensefalitis, granulosis rubra nasi, siringomielia), gangguan vasomotor (fenomena Raynaud, rheumatoid arthritis), gangguan sistem persarafan (abses, disautonomia familial, posensefalitis, tumor), infeksi saat berolahraga (penyakit kronis), efek samping obat-obatan (golongan antipiretik, emetik, insulin, meperidin), kondisi lainnya (vitiligo, sindrom Ch?diak-Higashi, fenilketonuria, feokromositoma).

Obat antiperspiran topikal yang digunakan sebagai terapi hiperhidrosis lini pertama adalah Drysol (20 persen aluminum chloride hexahydrate dalam absolute anhydrous ethyl alcohol) atau 12 persen aluminum chloride di dalam sodium carbonate-water atau zirconyl chloride di dalam alkohol absolut. Digunakan sebelum tidur dengan occlusive plastic dan dicuci setelah 6-8 jam kemudian.

Meskipun terkadang dirasa kurang praktis, terapi yang digunakan, terutama untuk ketiak ini efektif hingga seminggu. Jika terjadi iritasi kulit, sebaiknya terapi dihentikan.

Obat topikal antikolinergik, misalnya asam borat, larutan tannic acid 2-5 persen, resorcinol, potassium permanganate, formaldehyde, glutaraldehyde, dan methenamine.

Obat sistemik antikolinergik, misalnya atropine, propantheline bromide, glycopyrrolate, oxybutynin, dan benztropine. Obat ini jarang dipakai dan kurang disukai karena efek sampingnya, seperti mengantuk, pupil melebar, penglihatan kabur, mata dan mulut kering, sulit berkemih, dan sulit buang air besar.

Terapi sistemik lainnya, seperti sedatif dan tranquilizer, indomethacin, dan penghambat saluran kalsium (calcium channel blockers), bermanfaat untuk mengobati palmoplantar hyperhidrosis. Terapi oral yang dapat dipakai untuk hiperhidrosis di wajah adalah clonidine dan Bellergal-S.

Cara lain dengan iontophoresis. Peralatan iontophoresis komersial (seperti Drionics device), telah tersedia untuk digunakan di rumah sejak tahun 1984. Digunakan arus 15-30 mA, dosis maksimal 30 menit setiap area yang terkena 2x sehari, dapat ditambahkan glycopyrrolate 2 mg atau 0,05 persen solution.

Teknik bedah subcutaneous liposuction merupakan cara lain untuk membuang kelenjar keringat ekrin yang bertanggung-jawab atas terjadinya hiperhidrosis di ketiak.

Metode lainnya adalah simpatektomi torakal (melalui ganglia torakal IV), endoscopic transthoracic sympathectomy (ETS) dan video-assisted thoracoscopic surgery (VATS).

Pilihan terapi disesuaikan dengan area tubuh yang terkena. Untuk daerah kepala dan wajah, dapat diterapi dengan: antiperspiran, botox. Untuk daerah ketiak, dapat diterapi dengan antiperspiran, botox atau bedah liposuction.

Untuk daerah tangan, dapat diterapi dengan: antiperspiran, iontoforesis, botox, atau bedah ETS. Untuk daerah kaki, dapat diterapi dengan: antiperspiran, iontoforesis, atau botox. Terapi boleh dikombinasi dengan relaksasi dan psikoterapi.


Pencegahan

Pencegahan hiperdrosis dilakukan dengan cara membatasi konsumsi kopi, teh, soft drink yang mengandung cola, dan coklat. Kurangi makanan yang mengandung stimulan, terutama kafein dan teobromin. Bersihkanlah kulit setiap malam dan pagi. Hindari pakaian dari bahan lycra dan nylon.

Lebih baik gunakan emollient (penyejuk, pelembut kulit) dan moisturiser (pelembab kulit) daripada sabun.

Pakailah pakaian berwarna hitam atau putih yang tidak menampakkan keringat. Gunakan parfum yang mengandung antiperspiran untuk mencegah proses berkeringat.

Perlu diketahui, deodoran hanya berfungsi menutupi bau. Mandilah setiap hari, lalu segeralah keringkan tubuh dengan handuk. Keringkan juga kaki setelah mandi hingga benar-benar kering, taburi bedak bila perlu.

Pilihlah dan pakailah sepatu dan kaus kaki dari bahan alami, misalnya: sepatu dari bahan kulit, kaus kaki dari bahan wool dan katun. Bagi wanita lebih disarankan memakai pantyhose dari katun.

Bergantilah sepatu dua hari sekali dan kaus kaki 1-2x sehari, jika memiliki problem kaki berkeringat. Lepaskanlah sepatu atau sandal Anda sesekali. Cobalah melakukan relaksasi sejenak, seperti: yoga, meditasi, atau biofeedback.*

*) Penulis adalah dosen FK Unismuh Makassar, penulis puluhan buku, Director Networking IMA Chapter Makassar

Baca juga: Empat alasan kepala bayi berkeringat
Baca juga: Alasan muncul keringat saat tidur


 

Pewarta: -
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar