counter

Menristek menjawab mengapa dana riset Indonesia rendah

Menristek menjawab mengapa dana riset Indonesia rendah

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir (kedua kiri) memberikan keterangan kepad wartawan di Denpasar, Rabu (20/2/2019). (ANTARA/Aditya Ramadhan)

dana riset Indonesia sudah meningkat sejak tahun 2015 yang sebesar 0,08 persen dari PDB menjadi 0,25 persen dari PDB pada 2017
Denpasar  (ANTARA News) - Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir menjawab rendahnya dana riset Indonesia  karena masih bertumpu pada dana riset dari anggaran pendapatan belanja negara (APBN).

Nasir dalam keterangannya pada wartawan di Denpasar, Rabu, dana riset Indonesia saat ini 76 persennya bersumber dari APBN dan sisanya dari swasta atau industri.

Menurut dia, hal tersebut berkebalikan dengan negara-negara seperti di Singapura atau Korea Selatan yang dana risetnya lebih banyak bersumber dari industri
 
"Singapura, negara tetangga kita, 80 persen dana riset dari industri atau swasta, 20 persen didanai oleh pemerintah. Di Korea Selatan dari pemerintah hanya 16 persen, dari industri 84 persen. Kita berapa, 76 persen, ini terbalik,” kata Nasir.
 
Oleh karena itu pemerintah akan mendorong agar industri lebih berkontribusi untuk pendanaan riset di Indonesia. “Kami koordinasi dengan Menteri Perindustrian untuk mendorong riset dari industri itu bisa tergabung dengan Kemenristekdikti dan lembaga riset yang ada di Indonesia supaya jumlah anggaran riset bertambah,” kata Nasir.

Menristek membahas cuitan pendiri Bukalapak Achmad Zaky yang menjelaskan bahwa anggaran riset di Indonesia masih rendah.

Nasir menilai pernyataan CEO Bukalapak tersebut adalah hal yang biasa mengkritisi dana riset Indonesia yang masih rendah.

Namun Nasir menekankan dana riset Indonesia sudah meningkat sejak tahun 2015 yang sebesar 0,08 persen dari PDB menjadi 0,25 persen dari PDB pada 2017. Idealnya, dana riset suatu negara ialah 1 persen dari Produk Domestik Bruto.

Meski dana riset sudah naik 0,17 persen di era pemerintahan Presiden Joko Widodo, Nasir mengatakan jumlah tersebut masih belum ideal.
 
Nasir menyebut dana riset negara tetangga seperti Malaysia sudah mencapai angka 1 persen dari PDB, Singapura mencapai 2,8 persen, dan Korea Selatan yang bahkan mencapai 3,8 persen dari PDB.
 
Nasir mengungkapkan saat ini pemerintah tengah mempersiapkan regulasi yang bertujuan melakukan percepatan dalam pengembangan riset di Indonesia. 

Baca juga: Kemenristekdikti dorong generasi muda lakukan riset
Baca juga: Kemenristekdikti: ideal dana riset lebih banyak di industri
Baca juga: Dana penelitian rendah, Wapres JK: yang dibutuhkan riset terfokus

Dampak riset terhadap perekonomian

Pewarta: Aditya Ramadhan
Editor: Budi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar