counter

Lima penderita DBD di Jambi meninggal dunia

Lima penderita DBD di Jambi meninggal dunia

Arsip foto - Petugas Dinas Kesehatan Kota Salatiga menggunakan alat "Ultra Low Volume" (ULV) melakukan penyemprotan untuk memutus siklus hidup nyamuk aedes aegypti di pemukiman warga Tegalrejo, Salatiga, Jawa Tengah, Kamis (21/2/2019). Dengan menggunakan alat penyemprot nyamuk "Ultra Low Volume" yang memiliki daya semprot 12 meter dan penyebaran aroma hingga 50 meter itu merupakan salah satu cara untuk mencegah meluasnya penyebaran penyakit Demam Berdarah Dengeu (DBD) di Salatiga. (ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho)

Selama dua bulan terakhir ini Dinas Kesehatan Jambi mencatat ada lima orang yang meninggal dunia akibat DBD,
Jambi (ANTARA News) - Dinas Kesehatan Provinsi Jambi mencatat sejak Januari hingga pekan kedua Februari 2019 jumlah penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) di provinsi itu mencapai 300 kasus dimana lima diantaranya meninggal dunia.

"Selama dua bulan terakhir ini Dinas Kesehatan Jambi mencatat ada lima orang yang meninggal dunia akibat DBD," kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jambi, Syamsiran Halim, Kamis.

Kelima penderita DBD yang meninggal dunia itu berasal dari Kota Jambi dan Kabupaten Bungo dengan rincian tiga orang meninggal dunia pada Januari dan dua orang meninggal pada Februari lalu.

"Penyebab meninggal ada dua kemungkinan yakni karena Dengue Shock Syndrome (DSS) DBD atau terlambat membawa ke rumah sakit," katanya.

Pasien terkena DSS DBD memang sulit untuk disembuhkan, karena sistem kekebalan tubuh pasien sudah sangat lemah sementara itu jika terlambat membawa korban ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis juga akan berakibat fatal dan menyebabkan pasien meninggal dunia.

Kasus DBD paling banyak muncul pada Januari lalu karena bulan tersebut masuk musim hujan dengan intensitas tinggi. Tercatat sekitar 300 kasus DBD dari seluruh kabupaten/kota di Provinsi Jambi namun selama Februari tercatat baru ada 57 kasus.

"Artinya pada Februari kasusnya sudah mulai menurun dibandingkan jumlah kasus pada Januari lalu," ujarnya.

Memasuki musim hujan memang selalu terjadi peningkatan jumlah kasus DBD. Hal itu disebabkan karena penumpukan sampah yang dibuang sembarangan, kemudian genangan air hujan setiap hari yang tertampung yang menjadi tempat berkembangbiaknya nyamuk aedes aegypti yang membawa virus dengue penyebab penyakit demam berdarah .

"Apalagi pada botol air mineral karena nyamuk demam berdarah suka di genangan air yang bersih," katanya.

Dia juga mengimbau agar masyarakat tidak mengandalkan fogging atau pengasapan untuk membasmi nyamuk demam berdarah karena yang paling efektif adalah pencegahan.

"Yakni melalui Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan cara Menguras, Menutup, dan Mengubur (3M+). Plus artinya dengan melakukan upaya lain, seperti memasang kelambu ketika tidur atau memelihara ikan yang bisa memakan jentik-jentik nyamuk dapat mengurangi jatuhnya korban DBD," kata Syamsiran Halim.

Baca juga: Sudah renggut 11 nyawa, Dinkes Sumba Timur-NTT berupaya atasi demam berdarah
Baca juga: Belajar kendalikan DBD dari Singapura
Baca juga: Kenali jenis nyamuk penganggu di sekitar rumah

Pewarta: Nanang Mairiadi
Editor: Desi Purnamawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar