Penyerahan nelayan terdampar di PNG dijadwalkan Senin

Penyerahan nelayan terdampar di PNG dijadwalkan Senin

Arsip Sejumlah nelayan sedang menambatkan perahu dan memilih untuk memperbaiki perahunya daripada melaut akibat dampak cuaca buruk di wilayah perairan Hamadi, Jayapura, Papua, Jumat (3/1). BMKG Wilayah V Jayapura mengeluarkan peringatan cuaca buruk berpeluang di Samudera Pasifik Utara Jayapura dengan tinggi gelombang maksimum mencapai 3,00 s/d 3,50 disertai angin kencang terjadi hingga 5 Februari mendatang. (FOTO ANTARA/Anang Budiono/ss/p)

Jayapura (ANTARA News) - Penyerahan Arius Ayemiseba (45) nelayan asal Hamadi, Kota Jayapura, yang terdampar di Pulau Vokeo, Wewak, Papua Nugini (PNG) dijadwalkan Senin (25/2).

Konsul RI di Vanimo, PNG, Abraham Lebelauw kepada Antara, Minggu, mengatakan saat ini Arius Ayamiseba sudah berada di Konsulat RI di Vanimo, setelah sebelumnya Sabtu (23/2) diterbangkan dari Wewak oleh pejabat dari Kedubes RI di Port Moresby.

Memang benar saat ini nelayan asal Hamadi masih berada di Vanimo dan dijadwalkan Senin (25/2) ke Jayapura melalui darat.

Selanjutnya dilakukan penyerahan dari konsulat ke Kepala Badan Perbatasan dan Kerja sama Luar Negeri (BPKLN) Pemprov Papua, kemudian diserahkan ke keluarga.

Penyerahan dijadwalkan sekitar pukul 13.00 WIT di Kantor BPKLN Pemprov Papua di Jayapura, kata Abe, panggilan akrab Abraham. Ia menambahkan, dari keterangan terungkap Arius terdampar sejak Selasa (12/2) sesaat setelah dia melaut.

Gelombang tinggi menyebabkan Arius beserta perahu yang ditumpanginya memasuki perairan PNG dan terdampar di Pulau Vokeo.

Arius Ayamiseba dilaporkan hilang pada Senin (18/2) dan pada Rabu (20/2) ada warga PNG mendatangi konsulat dan melaporkan bila keluarganya di Wewak saat ini menampung nelayan asal Indonesia, kata Abe.

Dia mengatakan, dari laporan itu kemudian pihak Kedubes di Port Moresby mengirimkan pejabatnya untuk mendampingi dan mengurus pemulangannya.

Sebelumnya, awal Januari lalu tiga nelayan asal Hamadi juga terdampar di Wewak dan saat ini sudah dipulangkan, kata Abraham Lebelauw.

Pewarta: Evarukdijati
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar