Kementan-FAO buat model pasar "BERSAMA" di Jabodetabek

Kementan-FAO buat model pasar "BERSAMA" di Jabodetabek

Petugas membersihkan salah satu pasar di wilayah Jabodetabek untuk model pasar yang bersih, sehat, nyaman (BERSAMA) yang diinisiasi oleh Kementan dan FAO ECTAD Indonesia. (FAO ECTAD Indonesia)

Jakarta (ANTARA News) - Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian bekerjasama dengan Emergency Center for Transboundary Animal Diseases, Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO ECTAD) Indonesia menginisiasi model pasar yang bersih, sehat, nyaman (BERSAMA) di wilayah Jabodetabek.

"Kami berharap pasar BERSAMA menjadi pasar yang sehat dan bebas penyakit avian influenza", kata Kepala Subdirektorat Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Hewan (P3H) Kementan drh. Arif Wicaksono dalam keterangan tertulis FAO yang diterima di Jakarta, Senin.

Proyek percontohan program ini dilakukanselama lima bulan pada Agustus hingga Desember 2018, di tiga pasar serta dua rumah potong hewan dan unggas (RPHU) binaan Kementan, yaitu RPHU Rorotan di Jakarta Utara dan RPHU PD Risma Jaya Kabupaten Tangerang.

Dalam pertemuan evaluasi kegiatan percontohan intervensi biosekuriti di rantai pasar unggas di wilayah Jabodetabek pada 21 Februari 2019, drh. Arif Wicaksono menyampaikan bahwa lalu lintas unggas yang sangat tinggi di wilayah Jabodetabek menimbulkan risiko penularan penyakit, salah satunya penyakit avian influenza (AI) atau yang lebih dikenal dengan flu burung. 

Untuk memutus rantai penyebaran virus AI pada rantai pasar unggas maka dibutuhkan pengetahuan dan keterampilan dari pelaku usaha dalam hal ini bagaimana mereka melakukan pembersihan dan desinfeksi di pasar.

Karena itu, pemerintah melalui Kementan mendukung program yang membawa dampak positif bagi pencegahan penyakit hewan yang dapat menular kepada manusia ini.

Kegiatan pertemuan ini dihadiri oleh perwakilan dari Kemenkes, Kemendag, Dinas yang membidangi fungsi Peternakan, Dinas Kesehatan, pengelola pasar dan pengelola RPHU se-Jabodetabek. 

Pada pertemuan tersebut dibahas mengenai capaian dan tantangan dari program pembinaan percontohan pada Pasar Cariu di Kabupaten Bogor, Pasar Kemis di Kabupaten Tangerang, Pasar Senen di Jakarta Pusat, RPHU Risma Jaya di Kabupaten Tangerang  dan RPHU Rorotan di Jakarta Utara.  

Pelaku usaha di pasar dan RPU Binaan diberikan pelatihan dan bantuan alat untuk melakukan pembersihan rutin sesuai standar kesehatan, serta penggunaan disinfektan yang tepat. 

Pasar dan RPHU juga dibina untuk menerapkan biosekuriti di pasar yaitu upaya-upaya pencegahan terhadap infeksi kuman penyakit yang berasal dari produk dan lingkungan di pasar yang sudah tercemar. Program pasar BERSAMA mendapat sambutan yang sangat baik dari pedagang, petugas dan masyarakat selaku konsumen. 

"Kita berharap standar ini dapat diadopsi oleh pemerintah-pemerintah daerah dan diterapkan di pasar-pasar seluruh Indonesia", ujar Arif.

Baca juga: Peduli lingkungan, polisi Madiun bersihkan sampah pasar
 

Chief Technical Advisor FAO ECTAD Indonesia Luuk Schoonman mengapresiasi keterlibatan lintas kementerian dan pihak swasta dalam mewujudkan kesehatan dan kebersihan pasar. 

“Menjaga kebersihan dan kesehatan di pasar adalah tanggung jawab semua pihak. Masyarakat kita memperoleh bahan pangan dari pasar. Jika pasar telah memenuhi standar kebersihan dan kesehatan, maka masyarakat juga akan terhindar dari beragam risiko penyakit berbahaya, khususnya penyakit yang menular dari hewan kepada manusia,” kata Schoonman. 

Saat ini, Kementerian Kesehatan juga aktif mempromosikan Pasar Sehat, sementara Kementerian Perindustrian berusaha mewujudkan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk Pasar Rakyat. 

Schoonman berharap seluruh kementerian dan lembaga terkait dapat terus bersinergi untuk mewujudkan pangan yang aman bagi masyarakat. 

FAO ECTAD adalah pusat keadaan darurat yang didirikan pada 2004 untuk membantu negara-negara anggota dalam menanggapi krisis yang disebabkan oleh penyakit hewan lintas batas. 

Ancaman yang terus-menerus dari avian influenza yang sangat patogenik (HPAI) terhadap kesehatan hewan dan manusia di Indonesia membawa FAO ECTAD ke Indonesia pada 2006. 

Sejak pendiriannya, FAO ECTAD Indonesia telah bekerja sama dengan Kementerian Pertanian untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan pemerintah untuk mengendalikan HPAI secara berkelanjutan. 

FAO ECTAD hingga hari ini terus mendukung pengendalian HPAI dan penyakit zoonosis endemik lainnya seperti rabies dan anthrax, serta berfokus pada ancaman kesehatan global baru atau yang muncul kembali yang menular ke manusia dari populasi hewan, seperti Ebola, MERS-CoV dan Zika.

Baca juga: Jokowi mampir ke Pasar Limbangan Cilacap beli beras

Baca juga: 1.037 pasar rakyat akan direvitalisasi pada 2019


Baca juga: Presiden Jokowi tak ingin pasar kalah dengan mall

Baca juga: Delapan negara perwakilan tetap FAO belajar pertanian Indonesia

Pewarta: Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Azizah Fitriyanti
COPYRIGHT © ANTARA 2019

FAO dukung optimalisasi lahan rawa demi ketahanan pangan

Komentar