Hampir 2.000 balita di Kotabaru termasuk kerdil

Hampir 2.000 balita di Kotabaru termasuk kerdil

Arsip Foto - Kader Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) menimbang berat badan balita untuk mencegah kegagalan tumbuh kembang anak (stunting) saat kegiatan Posyandu balita di Klaten, Jawa Tengah. (ANTARA FOTO/Maulana Surya)

Kejadian stunting pada balita masih terjadi di Kabupaten Kotabaru sehingga dapat menghambat upaya peningkatan kesehatan masyarakat dan pembangunan kualitas sumber daya manusia,
Kotabaru (ANTARA News) - Sebanyak 1.990 dari 11.485 bayi di bawah lima tahun atau balita yang dipantau di 28 puskesmas di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan termasuk berstatus stunting atau kerdil, dengan ciri badan sangat pendek dan pendek.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kotabaru H Akhmad Rivai, dalam keterangan tertulisnya, Kamis mengatakan, berdasarkan hasil pemantauan status gizi balita di 28 Puskesmas yang termasuk kategori kerdil hampir 2.000 atau sekitar 17,33 persen anak balita dari 11.485 jumlah balita yang ditimbang.

Rivai menjelaskan, dari hampir 2.000 balita dengan status kerdil berdasarkan status gizi tinggi badan menurut umur terbagi sangat pendek sebanyak 616 orang atau 5,36 persen dan pendek sebanyak 1.374 anak atau 11,96 persen.

Wilayah puskesmas terbanyak stunting hingga mencapai 37,64 persen atau 169 anak dari 449 balita yaitu Puskesmas Rawat Inap Sengayam, disusul Puskesmas Pudi sebanyak 161 anak atau 36,93 persen dari 436 balita, kemudian Puskesmas Lontar sebanyak 146 anak atau 33,18 persen dari 440 balita.

"Kejadian stunting pada balita masih terjadi di Kabupaten Kotabaru sehingga dapat menghambat upaya peningkatan kesehatan masyarakat dan pembangunan kualitas sumber daya manusia," kata Rivai.

Kejadian stunting disebabkan oleh faktor yang bersifat multi dimensi dan intervensi paling menentukan pada 1.000 hari pertama kehidupan, sehingga penanganannya memerlukan koordinasi lintas sektor.

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak-anak akibat dari kekurangan gizi kronis, sehingga anak terlalu pendek untuk usianya.

Oleh karena itu, perlu penanganan stunting yang serius bertujuan untuk meningkatkan status gizi masyarakat dan kualitas sumber daya manusia, dengan maksud untuk meningkatkan mutu gizi perseorangan, keluarga serta masyarakat.

Melalui perbaikan pola konsumsi makanan; perbaikan perilaku sadar gizi; perbaikan pola asuh; peningkatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS); dan peningkatan sistem kewaspadaan pangan dan gizi. 

Baca juga: 70 persen upaya penurunan stunting di luar sektor kesehatan
Baca juga: PDGMI: Perlu dukungan swasta tekan tingginya stunting

Pewarta: Imam Hanafi
Editor: Desi Purnamawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Dinkes Temanggung targetkan stunting di bawah 20 persen

Komentar