counter

Huntara mulai ditempati korban likuifaksi Petobo-Sulteng

Huntara mulai ditempati korban likuifaksi Petobo-Sulteng

Sejumlah warga korban bencana gempa dan likuifaksi beraktivitas di sekitar kawasan Hunian sementara (Huntara) bantuan pemerintah melalui Kementerian PUPR yang dibangun di Kelurahan Petobo, Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (15/2/2019). Pemerintah berencana untuk menghentikan dan mencukupkan pembangunan Huntara di wilayah Palu, Sigi dan Donggala pada jumlah 699 unit dari rencana awal pembangunan berjumlah 1.200 unit serta fokus untuk merampungkan pembangunan dan memindahkan pengungsi ke unit Huntara yang telah terbangun. ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah/wsj. (ANTARA FOTO/MOHAMAD HAMZAH)

Dari data yang ada baru kurang lebih 900-an warga menempati huntara dan sisanya masih bertahan di tenda-tenda darurat
Palu (ANTARA) - Sebagian besar korban gempa dan likuifaksi Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu, Provinsi Sulawsi Tengah, mulai menempati hunian sementara (huntara).

"Sudah menempati huntara sekitar dua pekan lalu," kata Uno, salah seorang korban likuifaksi Petobo, Minggu.

Huntara untuk korban gempa dan likuefaksi Petobo di bangun di sebelah timur dari lokasi eks-likuifaksi Petobo, atau terletak di Jalan Jepang.

Warga menempati Huntara berukuran 3,6 x 4 meter yang dibangun oleh pemerintah melibatkan BUMN. Huntara tidak dapat dihuni atau ditempati oleh semua jiwa dalam satu keluarga, bila satu keluarga lebih dari tiga orang.

Karena itu, umumnya huntara hanya di huni oleh tiga orang dalam satu keluarga. Hal itu karena kondisi huntara yang tidak dapat menampung semua jumlah anggota keluarga dalam satu keluarga.

"Saya sebagian barang-barang sudah di Huntara, sebagian masih di pondok (huntara yang dibangun sendiri oleh warga)," ujar Uno.

Hal yang sama diakui oleh Solihin, bahwa kondisi Huntara yang kecil membuat sebagian korban tetap bertahan di Huntara yang di bangun secara mandiri oleh korban.

Sementara itu, Pemerintah Kelurahan Petobo menyatakan, Huntara yang dibangun pemerintah dan pihak lainnya untuk korban gempa dan likuefaksi pada 28 September 2018 saat ini belum rampung.

"Sebagian warga belum menempati huntara karena masih dalam tahap perampungan pekerjaan konstruksi," kata Lurah Petobo, Alfin H Ladjuni, di Palu.

Dia menjelaskan, baru sebagian kecil pengungsi setempat menempati Huntara disediakan pemerintah yang dibangun Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

"Dari data yang ada baru kurang lebih 900-an warga menempati huntara dan sisanya masih bertahan di tenda-tenda darurat, " ujar Alfin.

Dia mengatakan, Huntara yang dibangun pemerintah untuk korban likuefaksi Petobo sebanyak 85 unit atau 1.020 bilik, kemudian bantuan pihak lain dari paguyuban Bali sebanyak 108 bilik, NU Sidoarjo 22 unit.

Dikemukakannya, fasilitas pendukung lainnya seperti listrik, saat ini telah disediakan pihak PT PLN (Persero) Palu dan mulai pemasangan instalasi, guna menerangi huntara.

Sebelumnya sempat tertunda, karena stok meteran listrik habis. Meteran prabayar disediakan PLN itu berdaya 450 watt.

Sementara ketersediaan air bersih di Huntara, menurut Alfian, mulai memadai, sebab pemerintah telah membangun sumur bor di sejumlah titik agar pengungsi tidak kesulitan memperoleh air bersih.

"Kami mengupayakan pengungsi yang masih berada di selter segera menempati Huntara disediakan," ujarnya.

Alfin menyatakan, huntara yang dibangun untuk menampung 4.000 lebih korban likuefaksi Petobo sebelum mereka mendapat hunian tetap (Huntap) sebagai pengganti rumah yang hilang akibat likuifaksi.

Baca juga: Jusuf Kalla kunjungi hunian sementara pengungsi di Sigi, Petobo

Baca juga: 908 huntara korban gempa-likuifaksi Petobo dibangun

Pewarta: Muhammad Hajiji
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar