Jumiatun, mantan buruh migran jadi pioner penguat bangsa

Jumiatun, mantan buruh migran jadi pioner penguat bangsa

Presiden Joko Widodo bersama sejumlah pioner penguat bangsa, salah satunya Jumiatun yang merupakan mantan pekerja migran Indonesia asal Jember di Istana Negara Jakarta (istimewa)

Jumiatun merupakan Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Desa Peduli Buruh Migran di Jember yang sangat aktif melakukan pembelaan dan penanganan kasus warga desa terkait dengan persoalan buruh migran,
Jember (ANTARA) - Mantan buruh migran asal Kabupaten Jember, Jawa Timur bernama Jumiatun menjadi salah satu pioner penguat bangsa yang diundang khusus Presiden Joko Widodo dalam acara silaturahmi dengan perempuan-perempuan arus bawah di Istana Negara Jakarta, Rabu.

Jumiatun juga kader pelayanan desa peduli buruh migran (Desbumi) di Desa Dukuh Dempok, Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember.

"Jumiatun merupakan Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Desa Peduli Buruh Migran di Jember yang sangat aktif melakukan pembelaan dan penanganan kasus warga desa terkait dengan persoalan buruh migran," kata Project Officer Migrant Care Jember Bambang Teguh Karyanto.

Menurutnya, Jumiatun aktif bersama Migran Care sejak tiga tahun lalu untuk melakukan advokasi terhadap pekerja migran Indonesia di kalangan arus bawah dan memberikan informasi yang benar kepada warga yang ingin bekerja ke luar negeri, serta memberikan masukan kepada calon pekerja migran asal Jember.

"Bahkan berkat dedikasi Jumiatun, banyak warga yang lebih senang bekerja di desa dan tidak menjadi pekerja migran ke negeri orang karena banyak hal yang bisa dilakukan oleh warga untuk mendapatkan penghasilan dan memajukan desanya," katanya.

Presiden Joko Widodo mengundang 16 tokoh perempuan yang dinilai menjadi pioner penguat bangsa bersama ratusan perempuan arus bawah dalam rangka peringatan Hari Perempuan Internasional dengan tema "Bersama Memperkuat Bangsa" di Istana Negara Jakarta.

Ke 16 perempuan pionir  itu adalah Jumiatun yang merupakan kader pelayanan desa peduli buruh migran di Desa Dukuh Dempok, Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember; Sarakiyah merupakan Ketua Sekolah perempuan di Lombok Utara; Eros Rosita bidan desa di pedalaman suku Baduy; Srinani inisiator advokasi anggaran desa untuk kesehatan reproduksi dari Desa Sampiran, Kabupaten Cirebon.

Kemudian Pdt Roswi Wuri SPAK Ketua Presidium sekolah perempuan di Poso; Lucia Sabina Haki tokoh adat pendamping korban kekerasan di Desa Letmafo Kecamatan Insana Tengah Kabupaten Timor Tengah Utara NTT; Ummi Hanisah pengasuh pesantren korban kekerasan di Aceh; Doliana Yakadewa pendamping korban KdRT di wilayah Adat Tabi Jayapura Papua; Eko Purwati Ketua Kelomlok Industri rumahan Desa Pasar Banggi Rembang.

Selanjutnya A Wahyuli SPd inisiator desa sadar gender dan desa layak anak di Kabupaten Bone Sulsel; Indo Uphe kades inisiator pelayanan kesehatan Desa Kalepu Mamuju; Sugih Hartini penyintas entrepreneur dan layanan informasi hak perempuan di Bandung; Rusminah pemohon uji materi UU Perkawinan; Nurlina perempuan nelayan anggota sekolah perempuan; Nurul Latifah perempuan pelaku daur ulang sampah plastik di Jatim; dan Tasya Ritzka Safira sebagai Duta Anak Jabar dan Duta HAM Anak dan Perempuan.

Baca juga: Presiden silaturahim dengan perempuan pionir penguat bangsa

Pewarta: Zumrotun Solichah
Editor: Desi Purnamawati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar