counter

"Startup" ini ubah sms sampah jadi bisnis ratusan juta rupiah

"Startup" ini ubah sms sampah jadi bisnis ratusan juta rupiah

Tingkatan valuasi startup. (ANTARA News/Dea N. Zhafira)

Kami itu tercipta dari kekesalan karena sms spam. Jadi kekesalan ini malah jadi peluang bisnis bagi kami
Bandung (ANTARA) - Sebuah startup atau perusahaan rintisan digital binaan internal PT Telkom, Digital Amoeba, bernama Bagidata, yang saat ini berhasil mengumpulkan pendapatan ratusan juta rupiah, tercipta dari kekesalan menerima SMS sampah (spam).

"Kami itu tercipta dari kekesalan karena sms spam. Jadi kekesalan ini malah jadi peluang bisnis bagi kami," kata CEO Bagidata Ikhwan Reza, di Bandung, Jawa Barat, Jumat.

Ikhwan mengatakan layanan itu diawali kebingungan pihaknya saat menerima SMS spam karena tak pernah memberikan nomor ponsel tersebut kepada tenaga pemasaran.

"Jadi dengan Bagidata, justru pemilik nomor ponsel dengan sadar menyerahkan datanya yang kemudian mendapatkan keuntungan dari data mereka," kata dia.

"Keuntungannya berupa poin dan uang yang langsung bisa ditarik ke rekening mereka," lanjut dia.

Selain oleh Ikhwan, perusahaan ini digawangi Risky Gelar Maliq (Chief Product Officer), Adilla Kasandra (Chief Marketing Officer), dan Dindin Zaenudin (Chief Technical Officer).

Menurut Ikhwan, Bagidata justru ingin menyadarkan masyarakat bahwa data pribadi itu berharga sekaligus pengguna internet berhak mendapatkan sesuatu dari data mereka.

Hal ini, kata dia, dikarenakan selama ini data pengguna internet diperoleh tanpa izin, tricky, dan diam-diam.

Ia percaya setiap orang berhak mengontrol data mereka dan atas pemikiran itu, saat ini sudah tersedia dua layanan Bagidata yakni permission-based marketing dan applicant profiling.

Permission-based marketing adalah pemilik data dapat memberikan data media sosial, struk belanja, tiket pesawat, dan lainnya, yang ketika mereka mendapat promosi, maka pemilik akan mendapatkan keuntungan dalam bentuk uang dan poin. Saat ini sudah ada 18 ribu lebih pengguna layanan tersebut.

Sedangkan applicant profiling adalah layanan dalam membantu perusahaan melihat lebih dalam dari data media sosial yang sudah diberikan pelamar di perusahaannya.

Dengan melihat analisis sentimen dan prilaku, maka perusahaan dapat mengenal calon yang paling tepat dan sesuai dengan nilai-nilai perusahaannya.

"Untuk permission-based marketing, kami menargetkan millenial, jadi mereka tinggal unduh layanan kami di Google Play Store. Sementara target applicant profiling tentu saja perusahaan-perusahaan, yang kini sudah ada klien dari perusahaan telekomunikasi, startup travel, entertainment, kuliner, sosial, dan lainnya," katanya.

Bagidata menargetkan untuk menjadi perusahan big data terkemuka untuk layanan personal profiling sehingga masyarakat peroleh manfaat dari data personalnya. Perusahaan rintisan itu menargetkan 100.000 pengguna pada tahun 2019 ini.
 

Pewarta: Ajat Sudrajat
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

BPJS Kesehatan kembangkan pelayanan kesehatan berbasis digital

Komentar