counter

Memprihatinkan, kondisi korban puting beliung Garut

Memprihatinkan, kondisi korban puting beliung Garut

Ilustrasi - Sejumlah warga dan anggota TNI sedang melihat rumah yang atapnya rusak karena diterjang angin puting beliung di Sungai Limau, Padang Pariaman, Selasa (5/3). (ANTARA SUMBAR / istimewa)

Garut (ANTARA) - Kondisi korban bencana puting beliung di Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut, Jawa Barat, memprihatinkan dan berharap mendapat bantuan perbaikan rumah dari pemerintah daerah, karena selama ini kondisi rumahnya masih dibiarkan ambruk sejak kejadian bencana akhir tahun 2018.

"Rumah saya ambruk akibat angin puting beliung akhir tahun 2018 lalu," kata Lilis (55) pemilik rumah yang ambruk akibat diterjang angin puting beliung di Kampung Kertasari, Desa Cimurah, Kecamatan Karangpawitan, Garut, Jumat.

Ia menuturkan, rumah semi permanen awalnya sudah dalam kondisi tidak layak huni, kemudian tiba-tiba ambruk ketika datang bencana angin puting beliung disertai hujan melanda Kecamatan Karangpawitan.

Sejak kejadian itu, Lilis mengaku sempat bertahan tinggal di sekitar bangunan rumah yang ambruk, hingga akhirnya tinggal di rumah sanak saudaranya yang masih satu desa.

"Sejak Desember (2018) sempat tinggal beberapa bulan di sekitar reruntuhan rumah, tapi sekarang tidak lagi," katanya.

Lilis selama ini tinggal di rumah tidak layak huni itu bersama satu cucunya yang saat ini masih sekolah tingkat SMP di Karangpawitan, sedangkan anaknya merantau di Jakarta.

Rumah Lilis yang berukuran 4x6 meter persegi itu masih dibiarkan ambruk, belum ada tanda-tanda akan dibangun kembali untuk menjadi tempat tinggal bersama cucunya itu.

Lilis yang sehari-harinya bekerja serabutan dengan penghasilan paling besar Rp20 ribu per hari itu berharap ada perhatian dari pemerintah daerah untuk bisa memperbaiki rumahnya itu.

"Kalau ada yang nyuruh baru dapat uang, kadang makan juga sering ada yang ngasih," katanya.*


Baca juga: Angin puting beliung terjang daerah perkotaan Garut

Baca juga: Dua wisatawan tertimpa pohon di Garut

Pewarta: Feri Purnama
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar