Sri Subawa bertekad bawa Undiknas unggul sebagai universitas riset

Sri Subawa bertekad bawa Undiknas unggul sebagai universitas riset

Dr Nyoman Sri Subawa saat dilantik menjadi Rektor Undiknas oleh Ketua Perdiknas Denpasar Dr AA Ngurah  Eddy Supriyadinatha Gorda (Antaranews Bali/Ni Luh Rhisma/lhs/2019)

Denpasar (ANTARA) - Rektor Universitas Pendidikan Nasional periode 2019-2024 Dr Nyoman Sri Subawa ST, S.Sos, MM, bertekad ingin membawa kampus setempat unggul sebagai universitas riset, di tengah berbagai capaian prestasi yang telah diraih selama ini.

"Undiknas sebagai lembaga pendidikan tinggi juga ingin berada di garda terdepan untuk bersinergi dengan semua pihak dalam upaya merealisasikan, meningkatkan, dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia," kata Sri Subawa saat menyampaikan pidato usai dilantik sebagai Rektor Undiknas yang baru, di kampus setempat, di Denpasar, Selasa.

Sri Subawa diputuskan sebagai Rektor Undiknas pengganti Prof Gede Sri Darma berdasarkan hasil rapat pendiri Perkumpulan Pendidikan Nasional (Perdiknas) pada 1 Februari 2019. Sebelumnya pada 7 Januari lalu, Sri Subawa telah mempresentasikan visi dan misi di hadapan Senat Akademik Undiknas.

Suami dari Dr Ni Wayan Widhiastini ini mengemukakan saat ini Undiknas telah memiliki keuanggulan dalam proses pembelajaran yang ditunjukkan dengan raihan akreditasi unggul (A) dari BAN-PT Kementerian Ristekdikti untuk lima program studi, dan enam program studi terakreditasi baik (B), serta segera mewujudkan akreditasi internasional.

"Publikasi karya ilmiah, riset, ide dan gagasan, terutama dalam jurnal internasional terindeks dan bereputasi harus terus ditingkatkan. Apalagi persoalan publikasi riset ini telah menjadi persoalan mendasar hampir di semua perguruan tinggi," ujar pria yang mengawali karirnya di lingkungan Perdiknas sebagai Ketua II YPKN tersebut.

Dengan unggul sebagai universitas riset, lanjut dia, menjadi barometer dalam menyelesaikan persoalan-persoalan dasar lembaga pendidikan. Penelitian yang dilakukan juga akan dilakukan lebih untuk menemukan solusi dari masalah yang dihadapi dan langsung bisa diterapkan pada dunia industri.

"Hasil riset menunjukkan bahwa riset dalam aspek bisnis yang diintegrasikan dengan teknologi, model, dan proses bisnis memberikan kontribusi terbesar dalam aspek riset yang dilakukan saat ini, diikuti smart factory, aspek teknologi dan lainnya," ucap Sri Subawa yang juga adik kandung dari Rektor Undiknas sebelumnya.

Terkait dengan tantangan dalam menghadapi era Revolusi Industri 4.0, menurut Sri Subawa, selain dengan penguatan kurikulum yang lebih dinamis dan adaptif, Undiknas telah menyelaraskan model pembelajaran dengan perkembangan kekinian dengan menerapkan secara "online" atau dalam jaringan (daring), e-learning atau hybrid learning untuk mengurangi pembelajaran dengan model tatap muka.

"Jadi, segenap civitas akademika harus merespons berbagai perubahan dengan melek terhadap teknologi, literasi data dan menggunakan data untuk menentukan langkah dan strategi yang diambil," kata pria yang sebelumnya juga dipercaya sebagai Direktur Akademik dan Informasi serta Wakil Rektor Undiknas tersebut.

Di sisi lain, pihaknya pun tetap memberikan peluang bagi calon mahasiswa yang kurang mampu secara finansial, namun memiliki prestasi akademis dan non-akademis yang menonjol untuk mengenyam pendidikan yang berkelas di Undiknas.

Dr Nyoman Sri Subawa dalam kesempatan tersebut dilantik oleh Ketua Perdiknas Denpasar Dr AA Ngurah Eddy Supriyadinatha Gorda, S.Sos, M.Si.

"Kami akan selalu 'berpelukan' dalam mengembangkan Undiknas dan berharap rektor yang baru akan lebih membesarkan Undiknas yang namanya saat ini sudah besar," ucap Eddy.

Sementara itu, Prof Gede Sri Darma berpesan bahwa tugas rektor tidak hanya membangun infrastruktur kampus karena kampus tidak lagi menjadi magnet akademik, tetapi "online" yang menjadi magnetnya.

"Mahasiswa bisa belajar dari mana saja, ketika UTS atau UAS baru mereka datang. Sekarang daya tampung Undiknas dari gedungnya baru 6.000 sampai 8.000, tetapi ke depan dapat menampung 40 ribu hingga 50 ribu mahasiswa karena mereka tidak harus datang ke kampus, bisa belajar dari mana saja," ucapnya.

Dengan demikian, lanjut dia, SPP bisa menjadi semakin murah, orang miskin bisa berkuliah dan gelar tidak lagi dipakai syarat untuk mendapatkan pekerjaan atau menunjukkan jati diri, tetapi sertifikasi atau kompetensi.

"Kalau dia bergelar, tetapi ketika dilakukan uji kompetensi tidak memiliki kompetensi, maka tidak akan diterima. Ini sudah dilakukan perusahaan yang hebat yang tidak lagi meminta mana ijazahnya, tetapi kompetensi apa yang dimiliki. Ini menjadi tantangan rektor yang baru," kata Sri Darma.

Acara pelantikan tersebut juga dihadiri Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesra Pemprov Bali TIA Kusuma Wardhani, Kepala LLDIKTI Wilayah VIII Prof Dr Nengah Dasi Astawa, Wakil Ketua DPRD Bali Nyoman Sugawa Korry, perwakilan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah Provinsi Bali, Ketua KPU Bali Dewa Agung Lidartawan dan jajarannya, pimpinan PTN dan PTS se-Bali, pendiri Perdiknas dan seluruh civitas akademika serta undangan lainnya. (*)

Pewarta: Ni Luh Rhismawati
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar