Laporan dari Tiongkok

165 mahasiswa China bersaing rebut Dharmasiswa Indonesia

165 mahasiswa China bersaing rebut Dharmasiswa Indonesia

Atase Pendidikan KBRI Beijing Yaya Sutarya (kanan) memberikan pengarahan kepada para pelamar Dharmasiswa dari berbagai perguruan tinggi di China sebelum tes wawancara di Beijing, Rabu (13/3/2019). (ANTARA/M. Irfan Ilmie)

Beijing (ANTARA) - Sedikitnya 165 mahasiswa asal China bersaing ketat memperebutkan program beasiswa Dharmasiswa dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

"Tahun ini Kemendikbud hanya menyediakan kuota 22 beasiswa Dharmasiswa kepada para pelajar China untuk belajar Bahasa Indonesia di sejumlah perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia selama satu tahun," kata Atase Pendidikan Kedutaan Besar RI di Beijing, Yaya Sutarya, Rabu.

Para pelamar tersebut berasal dari berbagai perguruan tinggi negeri di beberapa kota di daratan Tiongkok, seperti Shanghai, Beijing, Guangzhou, Tianjin, Nanning, dan Changchun.

Dari 165 pelamar tersebut, yang lolos persyaratan administrasi dan berhak mengikuti tes wawancara oleh Atdik sebanyak 88 orang.

Tes wawancara dilakukan di KBRI Beijing sebanyak 41 orang, di KJRI Shanghai (25), dan KJRI Guangzhou (22).

Baca juga: Di Universitas Al Azhar, China tawarkan 197 beasiswa untuk Indonesia
Baca juga: SGMW Indonesia berangkatkan 60 peraih beasiswa ke Tiongkok


"Selain tes wawancara tatap muka, kami juga menggelar tes melalui video call mengingat jauhnya keberadaan mereka dari kantor perwakilan RI," kata Yaya menambahkan.

Setelah terjaring dalam tes wawancara, 22 pelajar terpilih itu masih harus menjalani serangkaian tes lagi yang diadakan di Kemendikbud RI di Jakarta dan perguruan tinggi di Indonesia yang menjadi pilihan para peserta.

Saat melamar, mereka mendapatkan dua pilihan perguruan tinggi di Indonesia yang akan menjadi tempat bagi mereka mempelajari Bahasa Indonesia selama 12 bulan.

Pada tahun ini latar belakang para pelamar relatif berbeda dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya karena tidak saja mahasiswa Program Studi Bahasa Indonesia, melainkan juga jurusan lain, bahkan ada doktor ilmu politik dari Tsinghua University, perguruan tinggi ternama di China, yang tertarik melamar program tersebut.

Selain dibebaskan dari biaya perkuliahan selama 12 bulan, setiap penerima manfaat Dharmasiswa masih mendapatkan bantuan biaya hidup berkisar antara Rp2.550.000 hingga Rp2.950.000 per bulan ditambah tunjangan lain.

"Melihat antusiasme pelajar di Tiongkok ini untuk belajar Bahasa Indonesia, rasanya kalau kuotanya hanya 22 sangat kurang," ujar Yaya.

Baca juga: Indonesia belum maksimal manfaatkan beasiswa China
Baca juga: Mahasiswa China bersaing ketat untuk kuliah di Indonesia

 

Pewarta: M. Irfan Ilmie
Editor: Edy Sujatmiko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Menkeu: Pengabdian alumni LPDP bidang kedokteran masih terkonsentrasi di Jawa

Komentar menjadi tanggung jawab anda sesuai UU ITE

Komentar