counter

Kemenperin: tenun dan batik berkontribusi terhadap perekonomian

Kemenperin: tenun dan batik berkontribusi terhadap perekonomian

Direktur Industri Kecil dan Menengah Kimia, Sandang, Kerajinan dan Aneka Kementerian Perindustrian E Ratna Utarianingrum. (ANTARA/M Razi Rahman)

Hampir setiap provinsi memiliki wastra tenun, baik yang dibuat dengan alat tenun gedogan maupun Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM).
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Perindustrian menyebut industri tenun dan batik yang menjadi warisan budaya nusantara nyatanya memberikan kontribusi cukup besar terhadap perekonomian nasional.

“Sentra industri batik sebanyak 101 sentra, dengan jumlah unit usaha 3.782 unit dan menyerap 15.055 orang tenaga kerja. Sentra industri batik sebagian besar berada di Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta dan Jawa Barat," kata Direktur Industri Kecil dan Menengah Kimia, Sandang, Kerajinan dan Industri Aneka, E Ratna Utarianingrum di Jakarta, Rabu.

Sedangkan untuk IKM tenun, lanjut Ratna, terdapat sebanyak 368 sentra dengan jumlah14.618 unit usaha dan menyerap 57.972 orang tenaga kerja.

"Hampir setiap provinsi memiliki wastra tenun, baik yang dibuat dengan alat tenun gedogan maupun Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM)," ungkap Ratna.

Pada 2018, nilai ekspor kain tenun ikat mencapai 976 ribu dolar AS, sementara ekspor batik senilai 52,4 juta dolar AS.

Oleh karena itu, sebagai kontributor bagi pertumbuhan industri kreatif, Kementerian Perindustrian terus mendorong para pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) nasional tenun dan batik untuk terus meningkatkan produktivitas.

Selain itu, lanjut Ratna, Kemenperin juga mendorong pelaku IKM untuk berinovasi agar lebih berdaya saing di pasar domestik dan internasional, salah satunya melalui fasilitasi keikutsertaan pada pameran Adiwastra Nusantara 2019.

Ratna mengatakan, sebagian besar pembuat kain tenun dan batik adalah industri kecil dan menengah yang tersebar di sentra-sentra industri.

Pewarta: Sella Panduarsa Gareta
Editor: M Razi Rahman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar