counter

Masyarakat Bangka Tengah kesulitan dapatkan gas 3 kilogram

Masyarakat Bangka Tengah kesulitan dapatkan gas 3 kilogram

Ilustrasi - KELANGKAAN ELPIJI 3 KG Sejumlah warga duduk menunggu giliran antre untuk membeli gas elpiji 3 kilogram. ANTARA FOTO/Weli Ayu Rejeki/pd. (ANTARA FOTO/WELI AYU REJEKI)

Koba (ANTARA) - Sejumlah warga di Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung kesulitan mendapatkan gas elpiji isi 3 kilogram karena stok kosong baik di tingkat distributor maupun pedagang pengecer.

"Sudah satu minggu ini saya kesulitan mendapatkan gas 3 kilogram, persediaan kosong," kata Emma, seorang ibu rumah tangga di Koba, Rabu.

Ia mengatakan untuk mendapatkan gas dirinya harus berkeliling ke sejumlah warung namun persediaan gas sudah kosong. "Saya sudah empat hari ini kekosongan gas, memasak terpaksa menggunakan kayu api dan bahkan saya harus beli di warung," ujarnya.

Keluhan yang sama juga disampaikan, Egawati warga yang lainnya mengaku belakangan ini kesulitan mendapatkan gas melon tersebut.

"Saya selalu kesulitan mendapatkan gas di warung maupun agen ketika stok gas di rumah habis," ujarnya.

Ia mengatakan terbatasnya persediaan gas tersebut menjadi kendala besar bagi kalangan ibu rumah tangga karena rata-rata rumah sudah menggunakan gas isian 3 kilogram tersebut.

"Sejak adanya program konversi gas 3 kilogram, rata-rata ibu rumah tangga sekarang menggunakan gas jenis tersebut dan meninggalkan gas isian 12 kilogram," ujarnya.

Sementara Basyir, seorang pemilik toko sembako yang juga menjual gas mengakui pasokan gas beberapa minggu ini terbatas. "Persediaannya terbatas, saat gas ada langsung habis dibeli konsumen karena memang jumlahnya terbatas," ujarnya.

Dirinya tidak mengetahui apa yang menjadi penyebab terjadinya kelangkaan gas bersubsidi tersebut.

"Kami juga tidak bisa mendapatkan gas dalam jumlah banyak dari distributor ataupun agen gas karena stok terbatas," ujarnya. ***1***

Gas Bersubsidi Hanya untuk Masyarakat Tertentu

Pewarta: Ahmadi
Editor: Adi Lazuardi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar