counter

Wapres apresiasi upaya Oman bebaskan pelajar Indonesia di Yaman

Wapres apresiasi upaya Oman bebaskan pelajar Indonesia di Yaman

Wakil Presiden Jusuf Kalla (kanan) menerima kunjungan kehormatan Menteri Luar Negeri Oman Yusuf bin Alawi bin Abdullah di Istana Wapres Jakarta, Kamis (14/3/2019). (Fransiska Ninditya)

Wapres mengatakan terima kasih, karena kerja sama yang baik maka saudara kita sudah dapat dilepaskan, dibebaskan, dan kemarin malam sudah tiba di Indonesia."
Jakarta (ANTARA) - Wakil Presiden Jusuf Kalla menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Oman atas upaya pembebasan satu warga negara Indonesia yang ditangkap dan ditahan oleh kelompok bersenjata di Yaman sejak November 2018 lalu.

Ungkapan terima kasih itu disampaikan langsung Wapres saat menerima kunjungan kehormatan Menteri Luar Negeri Oman Yusuf bin Alawi bin Abdullah di Istana Wakil Presiden Jakarta, Kamis, kata Menteri Luar Negeri Retno Marsudi.

"Wapres mengatakan terima kasih, karena kerja sama yang baik maka saudara kita sudah dapat dilepaskan, dibebaskan, dan kemarin malam sudah tiba di Indonesia," kata Retno yang turut mendampingi Wapres dalam pertemuan bilateral dengan Menlu Oman.

Retno menjelaskan satu pelajar asal Indonesia bernama Adib Naim ditangkap dan disandera bersama tujuh warga negara asing lain di Kota Yaslah, sekitar 30 kilometer di selatan Yaman.

Pada saat penangkapan, Adib, yang merupakan mahasiswa Universitas Darul Hadits, Sihr, Hadramaut, sedang menemani temannya yang berkewarganegaraan Malaysia untuk menjenguk keluarganya di Kota Sanaa.

"Jadi dia ditangkap oleh kelompok bersenjata pada 28 November 2018 di Yaman; kemudian kita berupaya menghubungi banyak pihak termasuk otoritas yang ada di Oman," kata Retno.

Upaya pembebasan Adib dilakukan lewat kerja sama dengan otoritas keamanan Kesultanan Oman dan kontak-kontak KBRI Muscat yang ada di Sanaa.

Sejak konflik bersenjata pecah pada 2015, pemerintah Indonesia mengeluarkan imbauan kepada seluruh WNI untuk tidak berkunjung ke Yaman.

Hingga saat ini, imbauan tersebut belum dicabut karena secara umum situasi keamanan di Yaman dianggap belum kondusif bagi warga negara asing.

Pewarta: Fransiska Ninditya
Editor: Kunto Wibisono
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Terima kasih JK

Komentar