counter

Masuk Revolusi Industri 4.0, identitas keindonesiaan jangan dilepas

Masuk Revolusi Industri 4.0, identitas keindonesiaan jangan dilepas

- (Monalisa / ANTARA Foto)

Keterampilan dan pengetahuan jadi satu soal untuk modal masuk revolusi industri, tapi identitas ini yang sangat penting
Jakarta (ANTARA) - Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid mengatakan meski saat ini masuk dalam Revolusi Industri 4.0 namun identitas ke-Indonesiaan jangan sampai lepas.

"Keterampilan dan pengetahuan jadi satu soal untuk modal masuk revolusi industri, tapi identitas ini yang sangat penting," kata Hilmar usai Diskusi Forum Merdeka Barat dengan tema Membangun Karakter dan Mental Indonesia di Kantor Staf Presiden di Jakarta, Kamis.

Dia mengibaratkan identitas keindonesiaan sebagai kemudi untuk membawa bangsa ke arah yang lebih baik. Identitas keindonesiaan seperti gotong royong, ramah dan gemar menolong serta cinta budaya bangsa.

"Mau dibawa kemana kita tanpa kemudi, bisa bablas seperti munculnya prostitusi online, penyalahgunaan narkotika daln lainnya," tambah dia.

Upaya yang dilakukan agar identitas keindonesiaan tetap bertahan adalah salah satunya melalui pendidikan karakter yang ditanamkan sejak dini kepada anak-anak.

Pendidikan karakter bisa ditanamkan lewat tindakan-tindakan kecil yang dilakukan dilakukan sehari-hari dan menjadi kebiasaan, seperti membersihkan sekolah, merapikan sepatu sendiri dan lainnya. Selain itu, kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat juga harus terus dipertahankan.

"Kalau Revolusi Industri 4.0 itu 'gaspol', kearifan lokal jadi remnya. Jadi dia tahu persis bagaimana mengendalikan kendaraan yang lari cepat agar bisa sesuai dengan tujuan kita," katanya.

Baca juga: Rektor : debat cawapres perlu bahas pendidikan karakter

Baca juga: Kemendikbud targetkan PPK di 218.989 sekolah

Pewarta: Desi Purnamawati
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar