counter

KSOP Ambon berlakukan sistem buka tutup pelayaran

KSOP Ambon berlakukan sistem buka tutup pelayaran

ksop

Ambon (ANTARA) - Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Ambon menerapkan sistem buka tutup pelayaran guna menghindari resiko kecelakaan berlayar.

"Mengantisipasi cuaca buruk yang terjadi pada beberapa waktu kedepan di perairan Maluku, kita menerapkan sistem buka-tutup pelayaran sampai batas waktu yang ditentukan," kata Kepala Keselamatan Berlayar KSOP Ambon, Hery Suryono, Jumat.

Menurut dia, sistem buka-tutup pelayaran meliputi sejumlah wilayah Maluku yakni laut Arafura, Seram, perairan selatan Ambon, laut Banda, perairan kepulauan Kai,  kepulauan Aru, perairan kepulauan Leti - Babar, perairan kepulauan Tanimbar, selatan kepulauan Kai- Aru.

Wilayah tersebut berdasarkan informasi cuaca dari BMKG, tinggi gelombang mencapai empat meter berpeluang terjadi di laut Arafura bagian tengah hingga timur.

Peringatan dini gelombang tinggi ini berlaku untuk tiga hari kedepan yakni 15 -18 Maret 2019.

"Mengantisipasi cuaca buruk di laut, maka pelayaran dari Ambon ke sejumlah wilayah dilakukan sistem buka tutup sampai kondisi cuaca di Maluku membaik," ujarnya.

Herry menyatakan, pihaknya memberlakukan penundaan pelayaran terutama untuk kapal rakyat maupun kapal motor penyeberangan(kmp).

"Kemarin masih ada kapal yang kami tunda pelayaran di pelabuhan Galala, Yos Sudarso dan Slamet Riyadi, sampai batas waktu yang ditentukan mengingat tinggi gelombang yang mencapai 4 meter," tandasnya.

Pihaknya mengimbau para pemilik maupun nakhoda kapal untuk memperhatikan larangan berlayar yang dikeluarkan pihaknya, serta memperhatikan kondisi cuaca saat hendak melakukan pelayaran.

pihak penyedia transportasi terutama nahkoda kapal hendaknya mematuhi larangan berlayar yang disampaikan KSOP.

"Jika kondisi cuaca tidak memungkinkan, kami mengimbau untuk tidak memaksakan berlayar karena keselamatan penumpang adalah segalanya, lebih baik menunda keberangkatan daripada tidak sampai di tujuan," tandasnya.

Pewarta: Penina Fiolana Mayaut
Editor: Alex Sariwating
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar