counter

Pangeran Charles mulai lawatan Karibia termasuk Kuba

Pangeran Charles mulai lawatan Karibia termasuk Kuba

Pangeran Charles dari Inggris ketika berada di Lagos, Nigeria, 7 November 2018. (Sunday Alamba/Pool via Reuters)

"Ini merupakan pengakuan tidak hanya dari rakyat Kuba tetapi juga dari pemerintah, dan mengatakan kepada Amerika Serikat kami tidak terisolasi," kata Cira Lierena, 70 tahun, warga Havana.
Havana (ANTARA) - Pangeran Charles dan istrinya Camilia memulai lawatan di Karibia pada Minggu dan mereka akan menjadi bangsawan Inggris pertama yang mengunjungi Kuba yang diperintah komunis, bahkan ketika pulau itu menghadapi peningkatan permusuhan dari Amerika Serikat yang merupakan sekutu Inggris.

Bangsawan itu akan memulai lawatan 12 hari di 10 pulau, yang diawali di St Lucia, berlanjut ke Barbados, St Vincent dan Grenadines, St Kitts dan Nevis, dan Grenada, menurut kantor pribadinya. Banyak dari pulau-pulau tersebut merupakan bekas koloni Inggris dan masih memandang Ratu Elizabeth, ibu Pangeran Charles, sebagai kepala negara.

Pada 24 Maret, pasangan kerajaan itu akan mendarat di Havana untuk kunjungan tiga hari atas permohonan pemerintah Inggris untuk menekankan hubungan Inggris-Kuba yang sedang hangat. Mereka akan makan malam bersama Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel yang menggantikan Raul Castro tahun lalu.

Charles, calon raja Inggris, sudah bertemu presiden itu November lalu pada ulang tahunnya yang ke-70, ketika Diaz-Canel mengunjungi London.

"Ini merupakan pengakuan tidak hanya dari rakyat Kuba tetapi juga dari pemerintah, dan menunjukkan kepada Amerika Serikat kami tidak terisolasi," kata Cira Lierena, 70 tahun, warga Havana.

Kunjungan itu merupakan bagian dari normalisasi hubungan lebih luas antara negara yang diperintah komunis itu dan negara-negara Barat. Selama lima tahun belakangan, Kuba telah mengambil langkah-langkah menuju keterbukaan yang telah memperlihatkan pertumbuhan dalam usaha bebas, konektivitas internet dan investasi asing.

Namun, antusiasme terkait keterbukaan tersebut telah menyurut sejak Presiden AS Donald Trump naik ke tampuk kekuasaan, dengan janji memutar kembali upaya-upaya yang sudah diprakarsai pendahulunya Presiden Barack Obama dan kembali ke retorika Perang Dingin.

Lawatan tersebut terjadi ketika pemerintahan Trump meningkatkan usaha-usaha mengakhiri apa yang dianggapnya "Tirani Tiga Negara" di Amerika Latin, merujuk kepada pemerintahan-pemerintahan sosialis Venezuela, Kuba dan Nikaragua, dan memicu beberapa kontroversi.

Senator AS, Rick Scott, di Florida, wilayah bagi komunitas terbesar orang-orang Kuba yang berada di pengasingan, telah mendesak Charles membatalkan lawatannya dan lebih baik ke Florida bertemu dengan para pembangkang.

Dalam video yang diunggah di Twitter, Duta Besar Inggris untuk Kuba Antony Stokes mengatakan kunjungan tersebut mencerminkan hubungan Inggris yang sedang berkembang dengan Kuba, termasuk kerja sama di bidang biotek dan energi terbarukan.

Charles, seorang pecinta lingkungan, akan mengunjungi fasilitas pembangkit tenaga surya di Kuba yang dibangun sebuah perusahaan Inggris. Dia juga akan mendengarkan rencana-rencana pulau itu untuk mengatasi perubahan iklim.

"Itu artinya kami tidak berarti menyepakati semuanya - kami tidak - tetapi diplomasi berarti dapat membantu kami berbicara lebih erat mengenai isu-isu dimana kami sepakati dan kami berbeda," kata Stokes.

Sumber: Reuters

Penerjemah: Mohamad Anthoni
Editor: Gusti Nur Cahya Aryani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komentar